Konsumsi Produk Unggas Digenjot

Konsumsi Produk Unggas Digenjot

penyemprotan desinfektan terhadap kandang unggas milik warga di kawasan Simokerto, Surabaya. TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.CO, Jakarta - Masih minimnya tingkat konsumsi unggas (daging ayam dan telur) masyarakat Indonesia membuat pemerintah terus berupaya menargetkan adanya peningkatan. Kementerian Pertanian mencatat, konsumsi protein hewani baru mencapai 6,03 gram per kapita tahun lalu atau lebih rendah di bawah standar konsumsi gizi nasional 6,5 gram per kapita per tahun.

Direktur Pembibitan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Abubakar mengatakan, dengan penduduk yang mencapai 237 juta jiwa, ternyata konsumsi telur dan daging ayam Indonesia masih relatif rendah dibanding negara-negara tetangga.

“Padahal, industri unggas adalah penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto pertanian selain kelapa sawit dan dapat dijadikan sumber pertumbuhan baru sektor pertanian," kata Abubakar, Kamis, 1 Desember 2011.

Untuk bisa menggenjot industri unggas itulah, pemerintah tengah meningkatkan konsumsi daging ayam dan telur masyarakat. Caranya melalui kampanye dan memberi pengetahuan seputar gizi yang dihasilkan dari hasil produk unggas.

Kementerian Pertanian juga giat menyampaikan informasi yang sejalan dengan pelaksanaan proses edukasi terhadap masyarakat bahwa telur dan daging ayam merupakan bahan pangan yang bermanfaat. "Tingkat konsumsi kita saat ini masih rendah dan akan kami naikkan. Tapi kenaikan ini tergantung pada sosialisasi ke masyarakat," ujarnya.

Masih rendahnya tingkat konsumsi produk unggas ditandai dengan data bahwa penduduk Indonesia mengkonsumsi 1 butir telur ayam per minggu, sedangkan Malaysia 1 butir telur per hari. Selain itu, konsumsi daging ayam masyarakat Indonesia 1 ekor ayam per 4 bulan, sedangkan Malaysia mencapai 3 ekor ayam per 4 bulan.

Jika dirata-rata, konsumsi telur nasional adalah 87 butir per kapita per tahun dan daging ayam 7 kilogram per kapita per tahun.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Ternak Sudirman mengatakan, masyarakat Indonesia banyak tidak mau makan daging ayam dan telur karena harganya masih tergolong mahal. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan konsumsi sebaiknya harga direndahkan agar bisa dijangkau masyarakat menengah ke bawah.

ROSALINA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X