Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Komentar Ruhut Soal Pengawasan Kasus Faisal-Budri  

image-gnews
Ruhut Sitompul. TEMPO/Prima Mulia
Ruhut Sitompul. TEMPO/Prima Mulia
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat, Ruhut Sitompul, menganggap kurangnya kaum profesional hukum di Komisi III menjadi sumber lemahnya tingkat pengawasan terhadap penyelewengan di kepolisian.

"Hanya sekitar 30 persen orang hukum di komisi ini. Pantaslah kami kurang sensitif atas isu-isu hukum," ujarnya ketika dihubungi Tempo via telepon, Ahad, 15 Januari 2012.

Sebelumnya, Indonesia Police Watch menyatakan Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat mesti memantau kasus-kasus penyimpangan yang dilakukan polisi. Ketua Presidium IPW Neta S. Pane menyatakan kematian adik-kakak Faisal Akbar dan Budri M. Zein di Lembaga Pemasyarakatan Sijunjung penuh kejanggalan.

Berdasarkan hasil otopsi yang dilakukan tim dokter independen dan LBH Padang, adik-kakak Faisal-Budri meninggal bukan karena bunuh diri. Ada indikasi tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum polisi. "Sebenarnya polisi siksa tersangka atau tahanan itu sudah jadi karakter polisi," ujar Neta.

Neta menyayangkan lemahnya tingkat pengawasan terhadap penyelewengan tindakan oleh oknum polisi. Menurutnya, hal seperti ini tidak bisa terus dibiarkan. Jika diabaikan, akan melahirkan polisi-polisi dengan pencitraan yang rendah.

Komisi III yang membidangi hukum, menurut Ruhut, banyak diisi oleh kaum-kaum bukan hukum seperti pengusaha dan sarjana-sarjana lainnya yang tidak bertitel hukum. Maka dari itu, menurutnya, kinerja Komisi III tidak dapat berjalan maksimal. Fenomena ini dinilai wajar olehnya. "Mungkin dari partainya kurang ada perwakilan orang hukumnya," katanya.

Namun ia menerima kritikan dari IPW sebagai sesuatu yang membangun. "Kita terima semua kritikan dan jadikan alat berbenah," katanya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Masalah pengawasan terhadap penyelewengan oknum polisi, menurut Ruhut, telah menjadi agenda penting Komisi III. "Sedang diatur tim untuk pergi ke sana (Sijunjung)," ujarnya.

Ia pun berharap, bila terbukti menganiaya, oknum polisi tersebut harus ditindak tegas. "Bila memang terbukti, maka harus ditindak tegas," ujarnya.

Markas Besar Kepolisian RI sendiri menolak menanggapi hasil otopsi dokter di Padang yang menyebutkan Faisal-Budri meninggal bukan akibat gantung diri. Juru bicara Markas Besar Kepolisian RI, Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, mengatakan pihaknya berpegang pada hasil visum.

Faisal masuk penjara Polsek Sijunjung pada 21 Desember 2011 setelah dibekuk polisi di dekat Masjid Nurul Yaqin, Nagari Pematang Panjang. Dia diduga akan mengambil isi kotak amal masjid. Adapun kakaknya, Budri, 17 tahun, ditahan sejak 26 Desember 2011 karena diduga terlibat pencurian 19 sepeda motor.

ANANDA PUTRI

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan

Jaksa Agung Ingatkan Keadilan Restoratif Rawan Disalahgunakan

6 Oktober 2021

Menko Polhukam Republik Indonesia, Mahfud MD (kanan) disambut Jaksa Agung Republik Indonesia ST Burhanuddin saat tiba di Gedung Kejaksaan Agung RI, Jakarta, Senin, 15 Maret 2021. Kunjungan kerja tersebut dilakukan untuk berkoordinasi serta membahas penanganan sejumlah kasus korupsi. TEMPO / Hilman Fathurrahman W
Jaksa Agung Ingatkan Keadilan Restoratif Rawan Disalahgunakan

Jaksa Agung menjelaskan, penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif merupakan terobosan hukum yang diakui dan banyak diapresiasi.


Dituduh Palsukan Dokumen, Nenek 93 Tahun Ini Terancam Dibui 7 Tahun

11 Agustus 2015

therecycler.com
Dituduh Palsukan Dokumen, Nenek 93 Tahun Ini Terancam Dibui 7 Tahun

Nenek Oyoh memilih tertunduk lesu, ketika Jaksa Mumuh membacakan dakwaan, atas tuduhan pemalsuan surat tanah yang kini menjerat dirinya.


Ibu Susui Bayi di Penjara Ini Diduga Korban Rekayasa Kasus  

10 Juni 2015

AP/Corpus Christi Caller-Times, Michael Zamora
Ibu Susui Bayi di Penjara Ini Diduga Korban Rekayasa Kasus  

Heri menduga kasus yang menimpa istri dan anaknya penuh rekayasa.


Nenek Asyani Titip Surat ke Jokowi: Tolong Saya, Pak...  

14 April 2015

Nenek Asyani, 63 tahun, menjalani sidang keempat kasus pencurian kayu di Pengadilan Negeri Situbondo, 16 Maret 2015. TEMPO/Ika Ningtyas
Nenek Asyani Titip Surat ke Jokowi: Tolong Saya, Pak...  

Menteri Yohana datang secara khusus ke Kabupaten Situbondo,
Selasa, 14 April 2015 untuk menemui Asyani.


Nenek Asyani Jalani Sidang Kelima

19 Maret 2015

Nenek Asyani, 63 tahun, menjalani sidang keempat di Pengadilan Negeri Situbondo, 16 Maret 2015. TEMPO/Ika Ningtyas
Nenek Asyani Jalani Sidang Kelima

Sang nenek berusia 63 tahun itu mengatakan terpaksa datang ke
pengadilan meski kondisinya belum sehat.


Melankoli Komunal

23 Februari 2015

Melankoli Komunal

Tentang hzn ini sama dengan gagasan yang dikemukakan dalam The Anatomy of Melancholy, buku Richard Burton yang penuh dengan teka-teki filosofi tetapi menghibur dari awal abad ke-17.


Pengadilan Makassar Sahkan Sri Jadi Lelaki

2 September 2014

Ilustrasi seks. TEMPO/Agus Supriyanto
Pengadilan Makassar Sahkan Sri Jadi Lelaki

Meski Sri telah resmi berganti status kelamin, namun namanya belum berubah lantaran tidak mengajukan permohonan pergantian nama.


Hakim Gowa Vonis Bebas Pencuri Rumput  

25 September 2013

Sxc.hu
Hakim Gowa Vonis Bebas Pencuri Rumput  

Tanaman Lantebung itu dicabuti para terdakwa karena tumbuh di lahan perkebunan yang belum diketahui pemiliknya.


Holcim Yakin Buruhnya Memang Bersalah

13 Juli 2013

TEMPO/Aditia Noviansyah
Holcim Yakin Buruhnya Memang Bersalah

Ada berita acara pemeriksaan dimana Samuri mengakui sudah mencuri benda milik perusahaan.


Buruh Holcim Merasa Jadi Korban Putusan Sesat

8 Juli 2013

Pabrik Holcim.  wikimedia.org
Buruh Holcim Merasa Jadi Korban Putusan Sesat

Buruh itu melaporkan hakim Cibinong ke Komisi Yudisial.