Jerapah Mati, Kebun Binatang Surabaya Salah Urus

Jerapah Mati, Kebun Binatang Surabaya Salah Urus

Para petugas melakukan perawatan pada jerapah Afrika yang tergeletak sakit sakit dikandang Kebun Binatang Surabaya, Kamis (03/01). Jerapah berumur 30 tahun ini diduga sakit akibat stress berkepanjangan. TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.CO, Surabaya - Tim Pengelola Sementara (TPS) Kebun Binatang Surabaya menemukan banyak penyimpangan yang ada di dalam taman konservasi tersebut. "Kebun binatang tak ubahnya seperti rumah peternakan, bukan konservasi," kata Ketua TPS Hadi Prasetyo seusai menggelar sidak di KBS, Rabu, 7 Maret 2012.

Penyimpangan yang terjadi, antara lain, di dalam KBS ternyata terdapat beberapa rumah binatang yang beralih fungsi menjadi kamar. Bahkan di kamar ini ternyata dijadikan tempat untuk menyimpan salah satu istri muda dari petugas KBS.

Kamar yang dimaksud Hadi Prasetyo adalah sebuah ruangan yang ada di dalam kandang unta. Akibatnya, unta yang ada di dalam kandang itu tak bisa berteduh jika hujan karena rumah-rumahan tempat berteduh disulap menjadi sebuah kamar.

Tak hanya itu, ada beberapa pohon besar di dalam KBS yang disulap menjadi tempat ritual mistis. "Kalau bulan-bulan tertentu, khususnya malam, di sini banyak praktek dukun, ini kan aneh," kata Hadi Prasetyo.

Selain itu, mayoritas kandang hewan di dalam KBS tak layak huni. Ukuran yang sempit serta model kandang yang tak layak membuat banyak hewan langka yang akhirnya mati. KBS, misalnya, memiliki 37 babi rusa dengan kandang yang tak memadai.

Ketua Pelaksana TPS Toni Sumampau mengatakan babi rusa termasuk hewan yang sangat langka. "Ini sangat disayangkan. Padahal, kalau ditukarkan dengan hewan lainnya, pasti banyak yang mau," kata Toni.

Selain babi rusa, beberapa hewan yang over populasi di antaranya Komodo dengan jumlah hewan 58 ekor dan jalak bali dengan jumlah 160 ekor. Padahal, baik Komodo maupun jalak bali, merupakan habitat yang sangat langka. Jalak bali sendiri, misalnya, jika mau ditukarkan, lima ekor jalak bali itu senilai satu ekor badak.

Tak hanya itu, domba surai atau kambing gunung juga over populasi dengan luas kandang yang sangat sempit. "Awalnya KBS hanya punya empat ekor, tapi kini sudah mencapai 100 ekor," kata Toni.

Mayoritas hewan di KBS juga tak jelas status keturunannya. Ini lantaran mereka berada dalam satu kandang sehingga tak jelas jalur keturunannya dan dimungkinkan mereka kawin di antara saudara mereka sendiri. Padahal hewan harus memiliki status keturunan yang jelas dan tidak diperbolehkan kawin dengan saudaranya sendiri. Toni mencontohkan, beberapa hewan akan punah dengan sendirinya jika kawin dengan saudara yang masih satu generasi hingga delapan kali berturut-turut.

Di lain pihak, ada beberapa koleksi hewan di KBS yang punah akibat salah urus. Jerapah, misalnya, karena tak mendapatkan asupan makanan yang memadai, akibatnya makan sembarangan dan mati. Ini setidaknya dibuktikan setelah tim membedah tubuh jerapah yang mati beberapa waktu lalu dan ditemukan banyak plastik di dalam tubuhnya.

"Kondisi kandang, sempit dan jelek, tak pernah dibersihkan, sehingga banyak penyakit," kata Toni. Karenanya, TPS sendiri mulai memperbaiki beberapa kandang yang ada di dalam kebun binatang tersebut.

Buruknya kondisi kandang setidaknya membuat banyak dari harimau dan singa koleksi KBS yang tak memiliki ekor. Ini karena pemisah antarkandang hanya terbuat dari besi sehingga memungkinkan harimau atau singa bisa menggigit ekor hewan yang ada di kandang sebelahnya.

Tak hanya itu, di dalam KBS ternyata banyak ditemukan warung-warung pedagang kaki lima yang tak sesuai. Akibatnya, lahan yang harusnya menjadi kandang hewan, tergusur warung. Untuk itu, TPS akan melakukan penggusuran.

Namun penggusuran tak bisa dilakukan cepat karena mayoritas warung adalah milik petugas KBS sendiri. "Pernah kita gusur dan besoknya ada hewan yang mati, ini kan ndak bisa dibiarkan," kata Hadi Prasetyo.

TPS KBS sendiri saat ini telah menyusun beberapa rekomendasi yang nantinya akan diberikan kepada pengelola selanjutnya, yaitu BUMD milik pemerintah Surabaya. Rekomendasi tersebut di antaranya perbaikan seluruh kandang yang sesuai standar konservasi, memindahkan sebagian hewan yang over populasi, serta perbaikan manajemen keuangan.

Konflik berkepanjangan di internal KBS menjadikan banyak hewan yang tak terurus. Akibatnya, Kementerian Kehutanan mengambil alih pengelolaan KBS dengan membentuk TPS. TPS yang diketuai Hadi Prasetyo, yang juga asisten perekonomian pemerintah Jawa Timur, ini akan bekerja hingga terbentuknya BUMD pemerintah Surabaya yang nantinya akan mengelola KBS. Saat ini BUMD pengelola KBS masih dalam tahap pembahasan di internal pemerintah Surabaya dan DPRD Surabaya.

FATKHURROHMAN TAUFIQ


Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X