Balikpapan, Kota dengan Biaya Hidup Termahal

Balikpapan, Kota dengan Biaya Hidup Termahal

Pesawat Garuda Indonesia di Bandar Udara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur, (27/7). ANTARA/Yudhi Mahatma

TEMPO.CO, Balikpapan - Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, kini mendapat julukan sebagai kota dengan biaya termahal di Indonesia. Pasalnya, rata-rata pendatang mengeluhkan tinggi dan mahalnya harga barang di kota yang dikenal dengan sebutan kota minyak tersebut.

“Kita dijuluki kota dengan biaya hidup tinggi. Kalau dapat tamu dari mana-mana itu, kesannya itu, di samping karena kondisi kotanya yang kondusif dan tenang, tapi justru di dalamnya ada keluhan harga barang yang mahal,” kata Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Balikpapan, Tutuk S.H. Cahyono, Senin, 16 Juli 2012.

Meski biaya hidup mahal, kata Tutuk, sebagai pintu gerbang Kaltim, pendapatan di Kota Balikpapan memang cukup tinggi, namun daya beli juga tinggi. Persoalan lain yang menyebabkan harga barang tinggi adalah infrastruktur yang kurang memadai. Apalagi, kata Tutuk, sekitar 90 persen barang di Kota Balikpapan berasal dari luar daerah, seperti dari Jawa Timur dan Sulawesi. Karena infrastruktur yang tidak memadai itu menyebabkan distribusi barang terhambat di pelabuhan.

“Cuma memang yang jadi masalah ketika distribusi barang atau produksi barang dan jasanya itu tidak lancar atau kurang ke Balikpapan. Itu yang sangat menjadi persoalan di Balikpapan, sehingga barang menjadi mahal,” kata Tutuk, yang juga salah satu pimpinan Bank Indonesia cabang Balikpapan itu.

Dia mencontohkan, infrastruktur yang menjadi persoalan adalah pelabuhan, bandara, dan jalan. Pelabuhan Semayang kapasitasnya tidak seimbang dengan jumlah barang yang datang. Akibatnya, distribusi barang menjadi terhambat dan membuat harga mahal, sementara permintaan tinggi.

“Infrastruktur kita memang kurang memadai, pelabuhan kita di sini memang kecil sehingga barang ngadat terus, luasnya cuma kecil, karena mungkin hanya bisa dua kapal yang bisa sandar di pelabuhan. Termasuk bandara juga terlambat kita antisipasi. Itulah contoh yang paling nyata dan konkret,” katanya.

Ia menambahkan, kalau daya belinya tinggi, pendapatannya tinggi, barang diminta banyak yang kualitasnya bagus, tetapi tidak bisa dipenuhi, maka menyebabkan inflasi menjadi relatif tinggi. Itu yang menyebabkan biaya hidup tinggi. “Misalnya, kalau satu kotak nasi pecel ini, di Jawa bisa dapat dua atau tiga kotak,” ujarnya.

SG WIBISONO



Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X