Sejumlah pengunjung mengamati monumen Jenderal Douglas Mc Arthur di pulau Zum Zum, Morotai, Maluku Utara, (6/6). Monumen tersebut dibangun sebagai napak tilas keberadaan  panglima perang sekutu, Jenderal Douglas Mc Arthur yang menjadikan pulau tersebut sebagai tempat persembunyian pada Perang Dunia II. ANTARA/Prasetyo Utomo

Sejumlah pengunjung mengamati monumen Jenderal Douglas Mc Arthur di pulau Zum Zum, Morotai, Maluku Utara, (6/6). Monumen tersebut dibangun sebagai napak tilas keberadaan panglima perang sekutu, Jenderal Douglas Mc Arthur yang menjadikan pulau tersebut sebagai tempat persembunyian pada Perang Dunia II. ANTARA/Prasetyo Utomo

Dari Gua Jepang hingga Monumen Perdamaian

TEMPO.CO , Biak: Konon di tahun 90-an, sebuah mimpi besar berkembang di Biak, Papua. Kepulauan kecil yang kaya dengan keindahan alam dan budaya ini akan dikembangkan menjadi kawasan wisata kelas dunia.

Penerbangan langsung Los Angeles – Biak – Jakarta pun dibuka, untuk memberi akses langsung dengan tetangga jarak jauh Amerika Serikat yang dipisahkan Samudera Pasifik. Hotel bintang lima standard internasional digelar, infrastruktur pariwisata dibangun. Konon, sejumlah turis pun sudah mulai datang berombongan ke sini.

Sial, mimpi besar itu harus ambruk, ketika badai krisis ekonomi menghantam di akhir 90-an. Kini bangunan hotel bintang lima itu tinggal puing-puing reruntuhan di pinggir pantai Biak, menjadi penanda sejarah pernah hadirnya mimpi-mimpi besar di kepulauan yang sering dijuluki ‘surga kecil di Indonesia timur’ ini.

Namun jangan khawatir, yang ambruk hanyalah mimpi-mimpi dan rencana-rencana gila. Sedang Biak sendiri, dengan keunikan dan keindahan alam dan budayanya, tetap utuh sebagai oase destinasi yang menarik dikunjungi. Pulau ini pernah memainkan peran penting dalam panggung sejarah dunia, ketika di masa Perang Dunia II, Jenderal Mc Arthur dari Sekutu membangun markas armada lautnya di pulau ini, sebagai starting point menyerang jantung pertahanan fasis Jepang di Asia Tenggara.

Banyak situs-situs bekas Perang Dunia II yang masih bisa ditemukan di seantero pulau. Selain pantai-pantainya yang elok, kehangatan orang-orang Papua yang selalu menarik, makanan lokal yang beragam, hingga keindahan bawah lautnya yang tak terkira. Travelounge mengunjunginya bulan lalu. Berikut pilihan paket jalan-jalan jika kamu ingin menyelami pulau ini.

Hari Kedua : Dari Gua Jepang Hingga Monumen Perdamaian

Biak, Mei – Juni 1944 adalah medan pertempuran hebat dalam Perang Dunia II, antara pasukan Amerika Serikat dengan tentara Kekaisaran Jepang. Ada 11 ribu tentara Jepang pimpinan Kolonel Kozume bermarkas di pulau kecil ini, melawan 12 ribu pasukan Jenderal Mc Arthur. Dalam pertempuran sekitar 10 ribu tentara Jepang tewas, sisanya menjadi tawanan, dan sekitar 500 orang tentara sekutu tewas dan 2.600-an orang terluka.

Kini sisa-sisa perang masih terasa, di antaranya di Gua Jepang, di Desa Sumberker, Distrik Kota Biak, yang dipercaya sebagai gua pertahanan terakhir pasukan Kolonel Kozume. Dulu, 3.000  tentara Jepang tewas di dalam dan sekitar gua. Terasa horor hingga kini. Sebuah jalan penghubung telah dibangun untuk memudahkan wisatawan memasuki gua.

Tak jauh dari Gua Jepang, terdapat Museum Tentara Jepang. Berbagai peninggalan perang dipamerkan, seperti selongsong peluru, senjata, roket, mitraliyur, kerangka pesawat tempur, jeep perang, rongsokan tank, samurai, topi perang, seragam pasukan, alat masak, bayonet, dan berbagai aksesori pasukan Jepang masa Perang Dunia II, berikut beberapa foto. Tiket Rp 10 ribu per orang. Tempat buat foto-foto yang tidak pernah sepi dari kunjungan warga Biak dan sekitarnya di akhir pekan.

Dari gua dan Museum Tentara Jepang, saya meluncur ke monumen Perdamaian Perang Dunia II yang dibangun oleh Pemerintah Jepang di pinggir Pantai Parai, Desa Parai, Distrik Biak Timur. Arsitektur monumen sangat indah. Hingga kini dikelola dan didanai Kedutaan Besar Jepang di Jakarta. Setiap tahun rombongan peziarah Jepang dan keluarga para tentara Jepang yang tewas dalam perang di Biak masih rutin datang ke sini.

Monumen ini terletak di pinggir Pantai Parai yang luar biasa Indah. Salah satu pantai terindah di Biak. Berpasir putih, cocok buat berenang dan berjemur. Di sekitar monumen bisa dijumpai keluarga-keluarga yang menyimpan cerita-cerita kelam sejarah peperangan Jepang dalam Perang Dunia II.

Tidak jauh dari Parai, perjalanan dilanjutkan mengunjungi satu di antara keelokan alam di Biak, yakni kawasan hutan bakau meranggas, bekas terjangan tsunami 1994. Situs ini unik, karena pohon-pohon meranggas, dan kandungan belerang di sekitar lokasi sangat tinggi. Belum ada penjelasan ilmiah kenapa pohon-pohon itu meranggas.

Dari sini, perjalanan dilanjutkan ke Biak Utara, mengunjungi Pantai Wari, pantai berpasir putih yang bersih dan luas, cocok buat berjemur, dan di sejumlah lokasi memiliki ombak cukup tinggi bisa buat selancar.

Sekitar 10 menit dari Pantai Wari, terdapat Pantai Tenuri, pantai yang harus Anda kunjungi kalau ke Biak. Super duper indah, ombak bergulung-gulung tinggi, menghantam karang terjal, membentuk luncuran-luncuran air laut kesana kemari. Pantai Tenuri juga merupakan titik terdekat dari wilayah Indonesia, jika Anda ingin menyeberang ke Amerika Serikat, mengarungi Samudera Pasifik yang superluas itu hehehe.., tapi hingga kini belum ada orang yang berani mencoba.

Ini sungguh pantai indah dengan adegan ombak-ombak besar menghantam karang-karang terjal, dengan suara yang selalu bergemuruh.

WAHYUANA