indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Begini Kronologi Tawuran Siswa SMA 6 Versus SMA 70

Begini Kronologi Tawuran Siswa SMA 6 Versus SMA 70

Sejumlah siswa SMAN 6 mengacungkan jari tengah ke arah puluhan wartawan yang sedang menggelar aksi di depan SMA 6, Jakarta (19/9). Aksi protes puluhan wartawan ini terkait dengan pemukulan terhadap wartawan Trans7, Oktaviardi, yang sedang meliput tawuran pelajar SMA 6 dengan SMA 70. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta - Tawuran antara siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 6 dan SMAN 70 di bundaran Bulungan, Jakarta Selatan, Senin, 24 September 2012, menyebabkan seorang siswa SMA 6 tewas.

Menurut Kepala Reserse Kepolisian Resor Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Hermawan, siswa SMA 70 menyerang lebih dulu ke siswa SMA 6. Siang pukul 12.00, kata dia, murid-murid SMA 6 baru keluar dari sekolah. "Mereka baru habis ujian," kata Hermawan, Senin, 24 September 2012.

Lima murid SMA 6 makan gultik alias gulai tikungan. Tiba-tiba mereka diserang oleh sekitar 20 siswa SMA 70. Tanpa adu mulut, mereka langsung menyerang. "Ada yang bawa arit," kata dia.

Kelima murid yang diserang kocar-kacir di kawasan bundaran Bulungan itu. Ada dua guru SMA 6 yang melihat kejadian tersebut dan membubarkan mereka.

Tawuran berlangsung singkat, sekitar 15 menit. Namun, tawuran ini menyebabkan dua korban terluka dan satu korban terkena luka bacok di bagian dada. Dia adalah Alawi, siswa kelas X SMA 6. Pelajar malang itu sempat dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah, tapi nyawanya tak tertolong. Sedangkan korban luka, satu luka di pelipis, satu lagi luka kecil di jari tangan.

Sebuah arit dengan noda darah, tertinggal di lokasi. Untuk mencocokkan darah di arit dengan darah korban, barang bukti itu dibawa ke laboratorium forensik Polri.

Menurut Hermawan, polisi sudah memeriksa satu guru SMA 70, dua guru SMA 6, dan dua saksi lainnya. Sekarang, polisi gabungan Polres dan Polsek masih mengawasi sekolah-sekolah itu untuk antisipasi peristiwa susulan.

Tawuran antara kedua siswa sekolah tersebut bukan hanya kali ini terjadi. Mereka saling serang secara bergantian. Sudah berulang kali mereka terlibat perkelahian. Kasus tawuran sebelumnya terjadi pada 26 Januari 2012 lalu, tapi saat itu tak ada korban tewas.

ATMI PERTIWI

Komentar (8)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
6
12
Dua-duanya sekolah negeri. Induknya sama, yaitu DKI. Kenapa setiap sekolah negeri yang sederajat dibuat tidak eklusif sehingga mutu bisa distandardisasi jadi setara. Dengan demikian, separoh jumlah siswa SMAN 6 dipindahkan ke SMAN 70 dan sebaliknya separoh jumlah siswa SMAN 70 dipindahkan ke SMAN 6. Guru-gurunya juga dimutasi secara berkala sehingga tidak ada eklusivitas sekolah.
0
1
kalau sudah begini..kita harus banyak berdoa semoga hal ini tidak berulag lagi.... mungkin kita harus lebih banyak belajar masalah agama .....
1
0
wah inilah bukti pendidikan di negara ini belum maju, pelajar aja masih pake tawuran, (kaya jaman purba aja) yang seharusnya sebelum bertindak di fikir akibatnya dulu.
9
17
inilah bedanya GURU jaman skg dengan jaman dulu, kalo dulu GURU itu sebagai PENDIDIK sehingga mengajarkan tdk hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga ahklak, kalo GURU jam skrg dia hanya sebagai PENGAJAR, selesai ngasih pelajaran berdasarkan buku paketnya ya sudah, dia anggap tugasnya sbg GURU selesai..., solusi untuk SMA 70 dan SMA 6. pertama, panjangkan jam belajarnya, sehingga energi siswa sudah terkuras di dalam sekolah, sehingga selesai sekolah mrk pasti akan buru2 sampai rumah, kedua bikin jam masuk kedua SMA itu berbeda, misal SMA 70 msk jam 7, maka SMA 6 masuk jam 10, sehingga tidak ada wkt atau kesempatan untuk bertemu pada wkt yg bersamaan.. demikian...
4
0
Peristiwa tawuran antarpelajar merupakan bukti semakin tidak berwibanya guru di mata para siswa.Di mana karakter kebangsaannya?
Selanjutnya
Wajib Baca!
X