Jepang Jajaki Perikanan Indonesia Timur

Jepang Jajaki Perikanan Indonesia Timur

TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Jepang siap menjajaki pembangunan infrastruktur perikanan di Indonesia wilayah timur. Kepala perwakilan Japan International Cooperation Agency (JICA) di Indonesia, Kohara Motofumi, mengatakan prospek bisnis ikan di sana sangat cerah.

"Jepang melihat potensi sektor perikanan di Indonesia wilayah timur sangat bagus sehingga kami siap membantu pembangunan asalkan pemerintah Indonesia siap," kata Motofumi di Jakarta, Rabu, 3 Oktober 2012 di Jakarta.

Menurut Motofumi, salah satu proyek garapan JICA dalam sektor infrastruktur kelautan adalah Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Penjaringan, Jakarta Utara. Pelabuhan ini merupakan proyek yang digarap Indonesia dengan dana pinjaman dari JICA sebesar 334 juta sejak 2004.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengatakan pemerintah memang berencana mengembangkan sayap ke Indonesia bagian timur. “Saat ini, kata Cicip, kendala dari petani di wilayah itu adalah distribusi.

"Akses penunjang distribusinya masih terbatas. Aaat ini kami sedang menyusun konsepnya," kata dia. Wilayah timur, menurut Cicip, menyumbang 70 persen produksi perikanan nasional, tetapi masih minim fasilitas.

Provinsi Maluku Utara, contohnya, memiliki luas wilayah laut 106,9 kilometer persegi atau 76 persennya merupakan wilayah laut. Sedangkan potensi sumber daya ikan yang terkandung sebesar 644 ribu ton per tahun.

Data Badan Penelitian KKP menyebutkan potensi perikanan laut Maluku Utara per tahunnya yaitu, ikan pelagis besar sebanyak 106 ribu ton, sedangkan potensi yang baru dimanfaatkan sebesar 35 persen, potensi ikan pelagis kecil sebesar 379 ribu ton, sedangkan 31,4 persennya baru dimanfaatkan dan ikan demersal 83 ribu ton dengan tingkat pemanfaatan sebesar 38 persen.

Motofumi mengatakan hingga saat ini Indonesia masih menjadi salah satu negara asal penyuplai ikan untuk Jepang. Selain dari Indonesia, produk laut yang beredar di Jepang juga berasal dari Thailand, Vietnam, dan Malaysia. 

Tingginya permintaan produk laut ke Jepang karena ikan merupakan komoditas pangan utama masyarakatnya. Konsumsinya setara dengan 70 persen dari total porsi makan atau 60 kilogram per orang per tahun. Jumlah itu jauh di atas rata-rata konsumsi Malaysia dan Indonesia masing-masing 37 kilogram dan 30 kilogram per orang per tahun.

Tahun 2009, volume ekspor udang ke Jepang sebesar 32.850 ton dengan nilai US$ 285,6 juta, dan pada 2010 ekspor udang ke Jepang sebesar 31.950 ton dengan nilai US$ 328,59 juta. Untuk ekspor tuna, pada 2009 nilainya mencapai 45,3 juta. 

SYAILENDRA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X