Rumah di Atas Saluran Air Petamburan Digusur

Rumah di Atas Saluran Air Petamburan Digusur

Petugas membongkar turap yang menutupi saluran air di Kelurahan Kotabambu Utara, Palmerah, Jakarta, Senin (13/2). Sebanyak tiga wilayah rukun warga (RW) kelurahan setempat dibenahi dengan melakukan refungsi saluran air karena mengalami penyumbatan dan menjadi penyebab banjir. Tempo/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Puluhan warga Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, berunjuk rasa di Jalan Petamburan 3, Senin, 3 Desember 2012, sejak pukul 08.00. Mereka menolak penggusuran rumah mereka, yang berdiri di atas saluran Gili-gili, oleh Satuan Polisi Pamong Praja Jakarta Pusat.

Meski rumah-rumah tersebut dibangun secara ilegal, warga menilai sosialisasinya sangat kurang. "Sosialisasi baru satu minggu, tapi sekarang sudah digusur," kata Warsono, warga Jalan Petamburan 3, Jakarta Pusat, saat ditemui Tempo, Senin, 3 Desember 2012.

Warsono mengatakan, rumah warga yang terkena program normalisasi tidak mendapatkan ganti rugi. "Kalau ada ganti rugi, kami masih bisa terima pembongkarannya," kata dia.

Hafdiansah, warga Jalan Petamburan 1, mengaku telah membayar pajak setiap tahun. Karena itu, dia merasa heran rumahnya harus dibongkar untuk normalisasi saluran tersebut. "Tiap tahun, kami bayar PBB (pajak bumi dan bangunan), tapi sekarang dibongkar tanpa ganti rugi," ujarnya.

Mereka mengaku tidak pernah diajak berbicara soal rencana normalisasi saluran tersebut. "Mereka (pihak kecamatan) bilang sudah berbicara, tapi bukan dengan kami yang rumahnya dibongkar," ujar Warsono.

Pantauan Tempo, saluran air Gili-gili Petamburan itu tampak sangat kotor dan tersumbat sampah. Salah satu penyebabnya, di atas saluran sepanjang 3 kilometer berdiri rumah.

Namun, sejumlah warga mendukung normalisasi saluran air tersebut. "Karena memang kalau musim hujan suka banjir di sini," kata Muhammad Sariman, warga Jalan Petamburan 3.

Sariman mengatakan, pembongkaran itu diperlukan agar saluran air bisa berfungsi dengan baik. Dia juga mengaku rumahnya terpaksa dibongkar sebagian untuk menormalisasi saluran air. "Tapi saya terima untuk kepentingan yang lain," kata dia.

Ketua RT 11, Nadi, mengatakan, banjir kerap terjadi karena saluran air tidak berfungsi. Hujan deras sebentar saja sudah menimbulkan genangan. "Kalau terus-terusan malah sampai banjir," kata Nadi.

Dia juga mendukung normalisasi itu karena diyakini bisa mengurangi dampak banjir. "Memang ada pompa air, tapi kalau saluran air tidak berfungsi, tidak berpengaruh meski dipasang 100 pompa," ujarnya.

DIMAS SIREGAR

Komentar (1)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
1
Ada yg bayar PBB ???? sikattt oknumnya pak jokowi !!!!! Tuman
Wajib Baca!
X