Semangat Anti-Kekerasan di Panggung Puisi

Semangat Anti-Kekerasan di Panggung Puisi

Ilustrasi. REUTERS/Lucas Jackson

TEMPO.CO, Jakarta - Meskipun acara telah ditutup, panggung belum benar-benar sepi, Jumat malam, 28 Desember 2012 lalu. Tiga pemusik kemudian tampil membawakan sejumlah lagu pop yang membuat sebagian pengunjung tak jadi bangkit dari duduknya. Devie Komala Syahni, pengurus Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (KOMPI), penggerak kegiatan itu, berbisik, "Itu teman-teman dari Jambi, Raja en Friend. Dulu mereka juga penggiat musikalisasi puisi."

Mereka memang tak masuk dalam agenda pentas acara Silaturahmi Musikalisasi Puisi "Berhentilah Kekerasan" di Warung Apresiasi Bulungan, Jakarta, malam itu. Para penampil merupakan kelompok yang membawakan musikalisasi puisi. Ada belasan grup dengan beragam kreativitasnya. Mereka adalah pelajar dan mahasiswa dari berbagai penjuru Jakarta dan sekitarnya.

Ada Komunitas Van Der Wijck dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka), Teater Ghanta dari Universitas Nasional (UNAS), Sanggar Kapas, Denting, deKasyaf, MP UIN, Ervan Ceh Kul dkk, pelajar serta guru SMA 6 dan SMA 70. Tentu saja tidak ketinggalan Deavies Sanggar Matahari, komunitas yang menjadi penggerak dan penyebar “virus” musikalisasi puisi ke berbagai pelosok tanah air.

Acara ini digagas oleh Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (KOMPI) dan didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menurut Devie, gagasan ini berangkat dari banyaknya tawuran pelajar di Jakarta. Devi mengatakan, Kompi berharap kegiatan ini bisa menjadi ajang apresiasi antarpelajar sehingga bisa mencegah kekerasan.

Bahkan, silaturahmi musikalisasi ini tidak akan berhenti malam itu, tapi akan diadakan secara rutin di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan. "Kegiatan ini akan diadakan sebulan sekali," kata Ketua Umum Kompi, Fikar W. Eda. "Fokus pesertanya pelajar," Devies menambahkan.

Yang mengejutkan, penampilan para pelajar dan mahasiswa itu tidak "ala kadarnya". Mereka berusaha untuk menyuguhkan kreativitas terbaik. Ervan Ceh Kul dan kawan-kawan, misalnya, menampilkan musikalisasi puisi didong Gayo, Aceh, yang dipadu aksi teaterikal tari Guel. Ketika kelompok musikalisasi tampil di depan, dari tempat penonton muncul seseorang lengkap dengan selendang khas Gayo membawakan tari Guel.

Lalu, di sudut panggung, penyair Fikar W. Eda menimpali dengan meneriakkan puisi-puisi antikekerasan. "...sambutlah salam kami/salam kami dengan bismillah/damai langit menjadi payung/damai bumi menjadi jejak/permadani perak Nusantara..."

Teater Ghanta, Komunitas Van Der Wijck, dan lain-lain juga tampil memukau. Dua seniman sastra senior, yakni Budi Marwoto dan Teguh Esha, penulis Anak Topan Anak Jalanan, juga tampil membaca puisi. Di bagian penghujung, Deavis Sanggar Matahari, seperti biasa, tampil aktraktif. Pertunjukan itu ditutup dengan pentas anak-anak keluarga Deavies Matahari.

Setelah puisi yang didendangkan cucu-cucu almarhum H. Fredy Arsi--pendiri Devies Sanggar Matahari dan Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia--itu selesai, panggung dan tempat acara tak langsung sepi. Setelah foto-foto bersama, tiga anak muda pemusik mewarnai panggung dengan lagu-lagunya hingga lewat tengah malam dan penanggalan berganti hari baru: Sabtu, 29 Desember. Dan ketika mereka turun panggung, baru semua pengunjung benar-benar bergerak pulang.

MUSTAFA ISMAIL


 


 

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X