indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Terduga Teroris Cigondewah Lulusan IAIN Jakarta

Terduga Teroris Cigondewah Lulusan IAIN Jakarta

Satu orang terduga teroris berinisial HR, 25 tahun yang menyerahkan diri digiring polisi dari Kampung Baturengat, Bandung (9/5). TEMPO/Aditya Herlambang Putra

TEMPO.CO, Bandung - Heri, 33 tahun, kakak kandung terduga teroris Cigondewah, Budi Syarif, mengatakan, adiknya adalah anak kedua dari lima bersaudara, anak pasangan Suparman-Euis. Budi, 32 tahun, menghabiskan masa kecil dari SD sampai SMA di Banjaran. "Pendidikan terakhir Budi itu IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Jakarta, lulus sekitar 2009," kata dia di rumah keluarga di Banjaran, Kabupaten Bandung, Jumat, 10 Mei 2013.

Dari istrinya, Ina, asal Magelang, Budi dikaruniai enam anak. Yang paling kecil, kata Heri, masih berusia kurang dari 5 tahun. Yang paling besar sudah sekolah kelas 2 sekolah dasar. "Istri dan anak-anaknya sampai sekarang tinggal di sini. Cuma Budi sendiri jarang pulang ke rumah. Dia selalu mengaku sedang usaha berdagang pakaian," tutur Heri.

Heri mengaku bertemu Budi sekitar dua pekan lalu, saat adiknya itu membelikan tas baru untuk anak-anaknya. "Secara pribadi, Budi orang baik. Tak ada yang aneh atau istimewa dari dia. Kami kaget waktu polisi menyatakan dia terlibat terorisme," kata Heri.

Heri mengaku tak terlibat kontak dengan Budi sebelum atau saat penyergapan teroris di Cigondewah oleh Densus 88, Rabu lalu. "Ketika kami tahu salah satu pelaku yang meninggal itu Budi, kami sekeluarga benar-benar kaget. Ibu kami bahkan sampai pingsan. Waktu itu ibu sedang sakit dan satu anak Budi sedang sakit," kata dia.

Heri mengatakan, kini keluarga tengah menunggu kabar dari Mabes Polri tentang kepastian hasil identifikasi jasad terduga teroris Cigondewah, termasuk salah satu yang diduga sebagai Budi. "Kami masih tunggu konfirmasi dari Mabes Polri," kata dia.

Sri, salah seorang tetangga rumah Suparman, mengatakan, Budi sejak kecil tinggal bersama orang tuanya di rumah dua lantai dengan cat dominan warna krem itu. Namun ia mengaku tak mengenal dekat Budi. "Sering lihat Budi, tapi jarang bergaul. Waktu lihat di TV Budi terlibat terorisme, saya sangat kaget, tidak menyangka," kata dia.

Menurut Sri, saat penyergapan teroris di Cigondewah, beberapa polisi Provost sempat menyatroni rumah orang tua Budi. "Mereka menjemput Ina, istri Budi. Tapi saya lihat Ina sekarang sudah kembali ke rumah," kata penghuni rumah nomor 59 ini.

Seperti diketahui, Budi alias Angga tewas tertembak bersama dua rekan sesama terduga teroris, yakni Joned dan Sareme, saat penyergapan di rumah kontrakan di Kampung Batu Rengat, Desa Cigondewah Hilir, Kabupaten Bandung, Rabu lalu. Mereka terpaksa ditembak Densus 88 karena terus melawan saat hendak ditangkap.

Tim Densus 88 Antiteror dan Inafis Polda Jawa Barat menggeledah rumah orang tua terduga teroris Cigondewah, almarhum Budi Syarif alias Angga, di Gang Kelana, Kampung Bojong Pulus, RT 03 RW 04, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jumat, 10 Mei 2013. Penggeledahan dilakukan sejak sekitar pukul 10.30 WIB.

"Ini penggeledahan rumah Bapak Suparman, orang tua salah satu tersangka terorisme, BS, oleh Densus 88. Kami dari Polres Bandung hanya membantu pengamanan untuk kelancaran penggeledahan," ujar Kepala Polres Bandung, Ajun Komisaris Besar Ahmad Kemas Yamin, di lokasi, Jumat, 10 Mei 2013.

Pantauan Tempo, rumah target terletak di dalam Gang Kelana, sekitar 100 meter dari Jalan Raya Banjaran-Batu Karut Arjasari. Penjagaan oleh lebih dari seratus polisi sudah terlihat di persimpangan Jalan Raya Banjaran. Penjagaan polisi makin rapat di depan gang hingga rumah Suparman. Adik dan kakak Budi tampak menunggu di rumah tetangga.

Densus dan Inafis memeriksa kamar Budi di lantai dua rumah itu. Penggeledahan berakhir sekitar pukul 12.40. Saat ke luar rumah, tim antara lain membawa satu dus mi instan yang diduga berisi bahan bukti. "Dari informasi yang kami terima, hasil geledah tim membawa beberapa dokumen, buku, dan compact disk. Tapi tak ditemukan bahan peledak di dalam rumah," kata Yamin.

ERICK P. HARDI

Terhangat:

Teroris
| Edsus FANS BOLA | Ahmad Fathanah | Perbudakan Buruh


Baca juga:

Ahok Kembali Tegaskan Konsep Jakarta Smart City

Kampung Deret Pertama Jokowi Ada di Petogogan

Ahok: Komnas HAM Tidak Paham Keadilan

Ahok: Pemprov Tak Perlu Datang ke Komnas HAM

Komentar (2)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
PENGAMAT DARI USA. KLOMPOK2 ISLAM JIHAD ATAU EXTREMIS ingin mendirikan pemerintahan Syariat Islam.Untuk mencapai tujuan tersebut mereka melakukan bermacam cara jihad walaupun perbuatan itu haram dan terkutuk seperti; Melakukan teror jihad atas nama Islam yaitu 1. membunuh orang orang yang tdk sepaham dengan mereka. 2. Melakukan perbuatan Korupsi Uang untuk membiayai dakwah Islam. 3. Melakukan korupsi interpretasi al Quran sesuai dengan jihad untuk mencapai tujuan yaitu pemerintahan Syariat Islam. Klompok2 Islam extrismis ini tidak ada lagi mempunyai RASA KASIH SAYANG DAN CINTA kepada manusia yang tidak sepaham dengan mereka. Mereka mau membunuh dengan bom2 bunuh diri seperti; Bali,Jakarta, Pakistan, Boston dll. Mereka membenci Demokrasi,HAM, Amerika, Syiah,Ahmadiyah, dan Kristen. BAGAIMANA CARA MENCEGAHNYA.lANJUTKAN DISINI;MODREN QURANIC INTERPRETATION.http://muslimbertaqwa.blogspot.com/p/jilbab-anjing-science.html
0
0
TERORIST JIHAD DAN KORUPSI; BAGAIMANA PENCEGAHAN TERORIST MUSLIM? 1. Pemerintah harus menambahkan mata pelajaran HAM untuk murid2 dari bangku sekolah dasar. 2. Haram ulama2,Usztad2 mengajarkan kebencian kepada klompok agama lain atau suku lain atas nama agama. Di Saudi semua buku2 pelajaran agama yg mengajarkan kebencian kpd agama lain sudah di MUSNAHKAN. 3. Pemahaman Islam harus di sesuaikan dengan ilmu yang luas. Mohon lanjutkan di website; MODREN ALQURANIC INTERPRETATION; JILBAB----ANJING----SCIENCE---ISLAM.http://muslimbertaqwa.blogspot.com/p/jilbab-anjing-science.html
Wajib Baca!
X