Penjaga Tradisi dari Kandang Semangkon

Penjaga Tradisi dari Kandang Semangkon

LAMONGAN 4/10 - PERSIAPAN MELAUT. Seorang pekerja membawa balok es ke sebuah perahu nelayan di Desa Paciran Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Sabtu (4/10). Setelah libur beberapa hari pada hari raya Idul Fitri, puluhan nelayan setempat yang m

TEMPO.CO, Kapal besar buatan tahun 1982 bertuliskan Opo Nyono, nampak diparkir di halaman yang jembar di tepi pantai utara Laut Jawa, tepatnya di Dusun Dengok Desa Kandang Semangkon, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Kamis dua pekan lalu. Belasan orang sibuk membongkar kapal kayu tradisional itu. Kayu di geladak dicopot satu per satu, sebagian besi pengikatnya dilas dan dua baling-baling berdiameter sekitar 60 centimeter dipreteli.

Kapal milik seorang nelayan di Kecamatan Paciran itu terpaksa diangkat ke pantai setelah dindingnya jebol akibat menabrak karang saat musim ombak besar di laut Jawa Januari tahun 2013 lalu. “Rusak berat, butuh dua bulan buat merenovasi seluruhnya,” kata Muadji, 56 tahun, ahli pembuat kapal Desa Kandang Semangkon.

Kapal kayu berbentuk oval itu terkenal tangguh mengantar nelayan sampai ke laut lepas. Untuk kapal ukuran 7,5 meter kali 17 meter, yang biasanya untuk kebutuhan niaga, bisa mengangkut barang seberat 30 ton. Sepanjang perairan Laut Jepara, Rembang, Jawa Tengah, Lamongan-Tuban, dan Gresik hingga ke perairan Masalembo, di antara Madura-Sulawesi adalah daerah jajahan utamanya. Ciri khas kapal oval buatan Desa Kandang Semangkon ini adalah batang kayu menjulang tinggi ke langit hingga 10 meter. Di pucuknya dibuat runcing biasa disebut linggi. “Linggi itu menandakan depan-belakang posisi kapal,” kata Muadji.

Selain Opo Nyono, belasan kapal lainnya diparkir di halaman bengkel. Modelnya sama, tapi sebagian besar kapal-kapal itu bikinan baru dari yang ukuran kecil, sedang, dan besar. Semua kapal tradisional itu buah tangan dan keringan ahli-ahli kapal Dusun Dengok, kandang Semangkon. Di Lamongan, dusun ini memang kesohor sebagai tempatnya ahli perahu dan kapal. Tak kurang 50 pengrajin berada di kampung ini. Aktivitas dan keahlian mereka telah diwariskan turun-temurun sejak berabad-abad lamanya.

Sebagia dari para pembuat kapal ini telah menyebar ke pelbagai tempat. Ada yang buka bengkel kapal di Desa Brondong, Kecamatan Brondong, Lamongan—sekitar 7 kilometer dari Desa Kandang Semangkon. Ada juga yang membuka bengkel kapal di Kecamatan Palang, Kecamatan Bancar, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban. Mereka sudah beranak-pinak ke mana-mana dan mengembangkan tradisi nenek moyangnya. ”Ya, itu tadi, membuat perahu dan kapal,” tutur Muadji.

Proses pembuatan kapal dan perahu Kandang Semangkon masih sederhana. Untuk membengkokkan kayu jati setebal 5-6 centimeter untuk lambung kapal itu masih lewat proses pembakaran tradisional. Papan dari kayu jati ditaruh di api unggun lalu ditindih pemberat sehingga melengkung. Proses itu butuh waktu sekitar dua jam per lembarnya.

Pengerjaan satu kapal dilakukan oleh kepala tukang dan dibantu sedikitnya tujuh anak buahnya. Mereka merancang konstruksi, mengukur keseimbangan bodi kapal serta memilih bahan bakunya. Khusus balok kayu tengah, harus dipilih kayu meranti dari Kalimantan atau kayu jati tua. Untuk lambung dan lantai juga harus kayu jati, yang bisa bertahan minimal tujuh tahun mengapung di air asin yang gampang mengeroposkan kayu.

Setelah bahan baku terkumpul, yang pertama disiapkan adalah balok kayu utama di tengah. Balok kayu rata-rata ukuran 15 entimeter kali 12 centimeter ini menjadi perekat papan kayu satu sama lain. Selanjutnya, dipasang satu persatu papan lurus maupun lengkung untuk lantai dan lambungnya. Lalu, dipasang linggi yang menghubungkan dengan balok. Menurut Muadji, untuk menuntaskan satu kapal utuh butuh waktu paling cepat sekitar enam bulan.

Sebelum kapal diuji coba, masih ada prosedur yang harus dilalui, yaitu uji kelayakan dari Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur dan Dinas Perhubungan Kabupaten Lamongan. Selanjutnya pemeriksaan dari Sahbandar di Unit Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Brondong, Lamongan. Pemeriksaan dilakukan setelah Kepala Desa Kandang Semangkon, yang bertindak atas nama Ketua Rukun Nelayan, berkirim surat ke Kantor UPP Brondong. “Prosedur pemeriksaan kapal itu harus dilakukan,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lamongan, Suyatmoko, yang dihubungi Tempo, Selasa, 25 Juni 2013.

Maka jangan heran bila kapal kayu dari Kandang Semangkon dibanderol cukup tinggi. Harga kapal baru beragam dari ukuran kecil Rp 200-an juta hingga Rp 1 miliar. Uang itu disesuaikan ukuran dan bahan bakunya. Bila pemesan meminta seluruh bahan baku dari kayu jati tentu harganya mahal. Sebab, kata Haji Umar, salah satu pemilik bengkel dan ahli kapal Kandang Semangkon, harga kayu jati sudah sangat tinggi.

Menurut Haji Umar, untuk kualitas nomor satu (umur di atas 50 tahun), harga jati mencapai Rp 22 juta permeter kubiknya. Padahal kebutuhan untuk kapal ukuran 7,5 meter kali 16 meter saja minimal butuh 55 meter kubik. “Itu belum termasuk mesin kapal, baling-baling dan perangkat lainnya,” kata Haji Umar yang kakek dan buyutnya berprofesi sebagai pembuat kapal. Harga lebih murah bila yang dipakai kayu kalimantan atau kayu mahoni.

Kapal-kapal buatannya juga dilengkapi fasilitas sesuai permintaan. Bila kapal dirancang untuk menangkap ikan, biasanya disiapkan cool storage alias ruang pendingin untuk ikan. Satu kapal ukuran 17 meter bisa dibangun enam ruang pendingin, yang masing-masing bisa menyimpan sekitar tiga ton ikan segar. Karena dikenal handal dan kuat, tak heran bila kapal-kapal buatan Kandang Semangkon banyak peminat. Menurut Haji Umar, sebagian besar perahu dan kapal niaga maupun nelayan di pesisir pantai utara Lamongan-Tuban dan Gresik buatan pengrajin Kandang Semangkon. “Baru kemarin saya dapat pesanan 10 kapal dari Jakarta,” kata pria yang pernah lama jadi TKI di Selangor Malaysia itu.

Di tempat usahanya, Haji Umar mempekerjakan 15-20 orang yang khusus membuat kapal baru atau renovasi kapal rusak. Mereka dibayar tinggi untuk ukuran buruh. Rata-rata honornya Rp 100- 200 ribu perhari, belum termasuk lembur yang angkanya bisa dua kali lipat.

Ketua Serikat Nelayan Indonesia (SNI) Lamongan, Zainal Arifin, mengakui kekuatan dan kebandelan kapal-kapal van Paciran ini. Hanya butuh beberapa perangkat teknologi lagi untuk membuatnya sempurna. Misalnya, untuk kapal nelayan butuh alat pemantau ikan juga alat pemantau posisi karang laut. “Saya rasa kebutuhan akan alat-alat itu semakin dirasakan nelayan,” kata,” kata Zainal saat dihubungi Selasa lalu.

Juru bicara Pemerintah Kabupaten Lamongan, Mohammad Zamroni, mengatakan masyarakat Kecamatan Brondong dan Paciran lekat dengan tradisi maritim. Mereka punya tradisi turun temurun ritual tolak bala setiap musim pembuatan kapal. Biasanya ritual itu dilakukan dua kali, saat kapal pertama dibuat dan kapal terakhir selesai dibuat dan diturunkan di laut. Selain itu ada tradisi petik laut atau sedekah laut yang dirayakan besar-besaran sekali setahun. Dalam upacara ini kepala sapi atau kerbau yang kemudian dilarung. “Dari tahun ke tahun budaya menarik minat wisatawan datang ke pesisir Lamongan,” kata Zamroni.

SUJATMIKO | AGUSSUP

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X