Kuesioner Ukuran Kelamin Siswa Ditarik di Sabang

Kuesioner Ukuran Kelamin Siswa Ditarik di Sabang

Siswa beberapa sekolah di Aceh menyanyikan lagu Jepang, Omoiyari (belas kasih sayang) dalam peringatan dua tahun tsunami di Jepang, di SMP 1 Pekan Bada, Aceh Besar, Senin (11/3). TEMPO/Adi Warsidi

TEMPO.CO, Banda Aceh - Kuesioner bergambar kelamin yang sempat beredar di SMP Negeri 1 Sabang telah ditarik oleh pihak puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Sabang. Rencana peredarannya juga sudah distop di beberapa sekolah yang lain.

Kepala Puskesmas Cok Bak U, Kota Sabang, Fatimah Zainab, mengakui telah melakukan penyebaran kuesioner kontroversial itu. Ia mengatakan, pembagian kuesioner awalnya bertujuan untuk menjaring informasi kesehatan dari para siswa. “Kebetulan baru di satu sekolah, lainnya belum, tapi sekarang sudah ditarik kembali,” katanya kepada Tempo, Jumat, 6 September 2013.


Menurut Fatimah, isi kuesioner bukanlah tanggung jawabnya. Survei itu adalah program dari Dinas Kesehatan yang telah ada sejak tahun lalu. “Puskesmas hanya memberi persetujuan untuk penyuluhan kesehatan buat siswa, dan petugas puskesmas hanya menangani operasional di lapangan,” katanya

Fatimah menilai tujuan penyebaran kuesioner itu sebenarnya baik, yakni untuk mengetahui masalah kesehatan siswa, penyakit, termasuk kesehatan reproduksi dan perkembangan bentuk tubuh. Masalahnya kemudian muncul gambar perkembangan organ kelamin pada halaman kelima.

”Itu kemudian ada yang protes, dan masalah ini lalu membesar,” ujarnya. Penyuluhan tersebut agenda rutin dari puskesmasnya di bawah koordinasi Dinas Kesehatan.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr Taqwallah, mengatakan terjadi kesalahan teknis dalam prosedur pengisian kuesioner tersebut. Seharusnya kuesioner tidak dibagi dan tidak boleh dibawa pulang karena bersifat rahasia. ”Guru harus mewawancarai murid dan guru juga yang mengisinya berdasarkan jawaban sang murid,” katanya.


Dinas Kesehatan Aceh telah meminta maaf karena terjadinya kehebohan terkait kuesioner tersebut. Dinas Kesehatan berencana mengevaluasi kembali isi kuesioner agar sesuai dengan syariat Islam yang berlaku di Aceh. “Semua berawal karena petugas kesehatan tidak menjelaskan teknis pengisiannya," ujarnya.

ADI WARSIDI


Topik Terhangat
Vonis Kasus Cebongan | Jokowi Capres? | Penerimaan CPNS | Suriah Mencekam

Berita Terpopuler
Abraham Samad: Rudi Rubiandini Orang Serakah
Istri @benhan: Suami Diperlakukan Bak Perampok
Zaskia Gotik Putuskan Pertunangan dengan Vicky
Ahok: Tiada Ampun bagi Kopaja Ugal-ugalan
Hukuman Serda Ucok: 11 Tahun Bui dan Dipecat

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X