Bahasa ala Vicky, Ciri Lunturnya Nasionalisme

Bahasa ala Vicky, Ciri Lunturnya Nasionalisme

Zaskia Gotik dan Vicky Prasetyo. C&R/youtube.com

TEMPO.CO, Jakarta - Penggunaan istilah bahasa asing dalam percakapan sehari-hari menandakan makin lunturnya rasa kebangsaan atau nasionalisme seseorang. Demikian ditegaskan Abdul Gaffar Ruskhan, seorang peneliti di Badan Bahasa tentang gaya bahasa Vicky Prasetyo--mantan tunangan Zaskia Gotik--yang kini ramai menjadi pembicaraan, Selasa, 10 September 2013.

Menurut Gaffar, demikian sapaannya, masalah nasionalisme yang kurang menjadi faktor utama seseorang menggunakan istilah asing. "Orang menganggapnya bahasa modern, itu keliru," Gaffar menjelaskan.

Menurut dia, negara maju yang warganya memiliki nasionalisme tinggi justru tidak terpengaruh oleh istilah dan bahasa luar. Mereka tetap menggunakan bahasa negaranya meski sedang berbicara dengan orang berkebangsaan lain. Gaffar menyebutkan Prancis sebagai salah satu contohnya. "Orang Prancis itu tidak peduli dengan lawan bicaranya. Mereka tetap berbahasa Prancis," kata Gaffar.

"Sebaliknya Indonesia, berbicara sesama warga sendiri malah menggunakan bahasa asing," ujar dia prihatin.

RINA ATMASARI

Topik Terhangat
Tabrakan Anak Ahmad Dhani
| Jokowi Capres? | Miss World | Penerimaan CPNS | Krisis Tahu-Tempe

Berita Terpopuler:
Wawancara Kocak Vicky Eks Zaskia Gotik di YouTube
Harisson Ford Naik Meja Menteri untuk Betulkan AC
Cerita Pacar Dul Sebelum Kecelakaan
Jenis Mobil Dul, Mitsubishi Lancer EX, Bukan Evo X
Menhut Tak Nyaman dengan Pertanyaan Harrison Ford

Komentar (3)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
1
1
Abdul Gaffar Ruskhan tidak perlu resah. Masalahnya bukan lunturnya nasionalisme. Masalahnya adalah kebodohan massal yang dijual lewat infotainment, selebritis, dan sosialita. Mereka jual popularitas dengan hasil bayaran mahal -- dan telah banyak yang berhasil sebab kebodohan bangsa sendiri. Maaf, kualitas media (terutama TV) yang penuh dengan slaptic humor rendahan yang kebanyakan kebanci-bancian sudah jadi menu utama. Akibatnya orang macam bego begini sudah cukup membuat mereka kelihatan seperti ilmuwan canggih. Ini hasil nyata dari volksverdummung lewat media. Menyedihkan, tetapi nyata, betapa ganasnya hasil pembodohan massal Indonesia.
0
2
..namanya juga bandit kacangan. Pengamat bahasa atau peneliti enggak usah kurang kerjaan meributkan orang tak jelas begini. Wong malah bikin ketawa liat gayanya yg sok selangit. Koq ya mau-maunya wanita yg pernah dikencani orang beginian..
0
2
Yang jadi pembicaraan bukan bahasa asing-nya, pak. Tapi gaya sok intelek-nya sambil gak jelas apa yg dia omongin. Kayak nonton Srimulat jadinya. Bapak udh liat belum video-nya sih?
; $foto_slide_judul = ; $foto_slide_judul =
Wajib Baca!
X