Partai Politik

Demokrat Bikin Sekolah Politik seperti Megawati, SBY: Ini Beda

Demokrat Bikin Sekolah Politik seperti Megawati, SBY: Ini Beda

Sekolah politik SBY akan diberi nama Institut Pembangunan dan Demokrasi.

  • Adu Populer Kandidat

    Nama mereka disebut dalam hasil survei. Sebagian sudah mendeklarasikan pencalonannya, sedangkan sebagian lagi masih malu-malu menjadi calon presiden.

  • Demokrat Terancam Jadi Medioker

    Partai Demokrat terancam terdegradasi dari barisan partai papan atas karena terus digelayuti skandal korupsi para petinggi, kader, dan orang-orang dekatnya.

  • Aburizal: Hary Tanoe Kecil...

    'Biar sejarah mencatat siapa yang besar dan siapa yang kecil.'

  • Injak Merah Putih Nistakan Negara  

    Aparat wajib bertindak tegas menegakkan aturan agar negara punya wibawa.

  • Partai-partai Pembelot Melunak

    PDI Perjuangan menilai bahwa pembelaan Presiden terhadap mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani sangat terlambat.

  • Empat Partai Baru Belum Mulus

    Calon legislatif ditolak di sejumlah daerah. Komusu Pemilihan Umum mengajukan banding atas kemenangan Partai Republiku ikut Pemilu 2009 setelah dimenangkan Pengadilan Tata Usaha Negara.

  • Badut Politik dan Tukang Tivi

    Apa bedanya badut politik dengan badut biasa? Ternyata tak hanya berbeda, tapi bisa juga bertentangan. Sementara badut biasa nilai tambahnya jelas, yakni memberikan hiburan, dan karena itu dibutuhkan, maka kehadiran badut politik sangat memprihatinkan, karena seharusnya tidak ada. Memang, ada kalanya badut beneran yang disebut pelawak tiba-tiba saja "terjun ke dunia politik", tetapi jika dirinya lantas menjadi badut politik, itu sama sekali tidak berhubungan dengan keberadaan dirinya dalam profesi sebelumnya.

  • Pembiayaan Partai Politik

    Dalam menyoal pembiayaan partai politik, mafhum disadari, setelah Orde Baru, bantuan negara bagi partai politik memang tidak pernah mendapatkan perhatian yang serius.

  • Memutus Gerontokrasi Partai

    Akar dari kaderisasi dan institusionalisasi partai sekarang ini adalah masih kuatnya patronase elite tua dalam tubuh partai politik.

  • Ambivalensi Demokrat

    Hasil Rapat Paripurna DPR RI pada 26 September 2014 pada dasarnya mengkonfirmasikan dua nalar penting representasi politik: populisme dan elitisme. Koalisi Merah Putih (KMP), yang terdiri atas Partai Gerakan Indonesia Raya, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Golongan Karya, berada dalam garis elitisme dengan mendukung pemilihan kepala daerah oleh DPRD. Sementara itu, koalisi partai yang tergabung dalam pencalonan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Hati Nurani Rakyat) berada pada posisi politik populisme.

  • Nama sebagai Merek Politik

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah tokoh pemasar inisial nama sendiri sebagai sebuah merek politik. Tak ada yang menduga bahwa singkatan namanya, SBY, seperti aksara biru yang tercetak di lambung roket yang melontarkan karier politiknya setinggi yang barangkali ia pun tak pernah menduganya.

  • Politik Angkatan 45

    Secara jujur, Ketua Lembaga Sastra Indonesia (Lestra/Lekra) Bakri Siregar (1980: 39) mengakui bahwa penemu label "Angkatan 45" adalah Rosihan Anwar. Label yang ditemukan jurnalis Pedoman pada Januari 1948 itu merujuk pada seniman-sastrawan yang terhimpun dalam "Gelanggang", yang didirikan pada 19 November 1946 atas usaha penyair Chairil Anwar. Sebagai manifesto, ditunjuklah "Surat Kepercayaan Gelanggang".

  • Pungo

    Dalam bahasa Aceh, pungo memiliki arti generik "gila". Namun sesungguhnya makna kata itu lebih luas, bahkan tidak melulu negatif. Meskipun seratus persen waras, seseorang yang berkendaraan secara ugal-ugalan kerap diserapahi dengan kalimat "pungo" alias gila. Begitu pula laku sosial lain, yang dianggap tak sesuai dengan tatanan atau kaidah-kaidah normal, disebut sebagai pungo--meskipun orang itu tidak gila.

  • Antara Relawan dan Aktivis

    Relawan, dengan mukjizat kata "rela" di sana, telah menjadi keberdayaan sosial yang penting. Yakni ketika ia terbukti mampu mengorganisasikan dirinya sendiri menjadi gejala umum yang berpengaruh, sehingga tak kalah mangkus dan sangkil untuk bersaing dengan mesin politik ampuh dari sebuah partai.

  • Politik Kutipan


    Ketika selapisan orang secara terus-menerus membagi kutipan Gus Dur tentang kelayakan seseorang kandidat menjadi presiden

  • Lawanlah Permulaannya!

    Mengapa militerisme yang diterapkan ke dalam dunia politik perlu mendapat pengawasan? Bagaimanakah faktor kekerasan, sebagai unikum dalam militerisme, akan (dapat) dihilangkan? Jawabannya terdapat dalam perbincangan totaliterisme.