Turis di Bali Meninggal, Pemerintah Dapat Tekanan Soal Penanganan Virus Corona

Logo BBC
Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Turis di Bali Meninggal, Pemerintah Dapat Tekanan Soal Penanganan Virus Corona

    Pemerintah Daerah Bali mengatakan pemerintah pusat sudah mengetahui jika turis asal Inggris terinfeksi virus corona, namun Pemda tidak diberitahu sampai turis perempuan tersebut meninggal.

    Kematian Pertama Corona di Indonesia

    • Turis Inggris berusia 53 tahun menjadi korban meninggal pertama karena virus corona di Indonesia
    • Pemerintah Bali tidak mengetahui kondisi pasien sampai dia meninggal
    • Suami perempuan tersebut mendampinginya ketika meninggal

    Sekretaris Daerah Bali, I Dewa Made Indra, yang juga kepala tim khusus COVID-19 Bali, mengatakan sebelumnya pihak berwenang di Jakarta sudah mengidentifikasi perempuan tersebut sebagai pasien nomor 25 dalam daftar yang dikeluarkan hari Selasa (10/3) di Jakarta. Namun ia mengatakan tidak diberitahu bahwa pasien tersebut berada di Bali.

    Made Indra mengatakan staf-nya baru menemukan perempuan tersebut positif mengidap virus corona ketika meninggal, Rabu malam (11/03).

    Namun menurut Achmad Yurianto, juru bicara resmi virus corona di Indonesia, para dokter di RS Sanglah di Bali sudah diberitahu bahwa perempuan berusia 50 tahunan tersebut memang positif terkena corona.

    "Segera setelah kami mengumumkan, informasi itu diberikan kepada dokter yang menangani. Ini adalah hal yang penting dilakukan," kata Dr Yurianto.

    "Dokter tidak memiliki hak untuk menyembunyikan informasi dari pasien."

    Selasa malam, kepada wartawan, Achmad mengatakan ada 27 kasus corona di Indonesia.

    Angkanya sekarang meningkat menjadi 34 orang.

    Memiliki masalah kesehatan lain

    Perempuan berusia 53 tahun tersebut menjadi orang pertama yang meninggal karena COVID-19 di Indonesia.

    Suaminya mendampingi pasien tersebut ketika meninggal.

    Ia diketahui sudah memiliki beberapa masalah kesehatan sebelum meninggal, termasuk tekanan darah tinggi, diabetes, kelenjar gondok yang kurang berfungsi, dan masalah jantung.

    Perempuan asal Inggris ini tiba di Bali tanggal 29 Februari, dan ketika dicek suhu tubuhnya di bandara tidak menunjukkan gejala demam, namun beberapa hari kemudian menampakkan gejala yang mirip penyakit COVID-19.

    Sampel dari perempuan tersebut dikirim ke Jakarta, karena tak ada rumah sakit atau klinik di Bali yang memiliki alat untuk menguji virus corona.

    Made Indra mengatakan hasil tes tersebut tidak disampaikan kepada pihak berwenang di Bali, sampai pasien tersebut meninggal di Rumah Sakit Sanglah.

    "Ketika ia meninggal, kami berusaha konfirmasi dengan Kementerian Kesehatan di Jakarta dan diberitahu pasien ini masuk dalam daftar pasien COVID-19 yang sudah diumumkan sehari sebelumnya, sebagai pasien nomor 25," kata Made Indra.

    Komunikasi dipertanyakan

    People in white biohazard suits spray disinfectant inside a mosque.
    Tempat ibadah seperti mesjid juga dibersihkan untuk mencegah penyebaran virus corona.

    Reuters/ Antara Foto Agency

    Apa yang dikatakan Sekda Bali, I Dewa Made Indra menimbulkan pertanyaan mengenai pasien corona virus di Indonesia.

    Termasuk apakah pihak-pihak yang berkepentingan sudah diberitahu mengenai kondisi para pasien.

    Achmad Yurianto menolak menjelaskan dimana lokasi 33 pasien lainnya, kecuali mengenai adanya beberapa kasus di Jakarta yang sudah dibeberkan oleh pers sebelumnya.

    Pertengahan bulan Februari seorang perempuan berusia 64 tahun, beserta anaknya yang berusia 31 tahun menderita sakit setelah melakukan kontak dengan seorang perempuan asal Jepang yang datang dari Malaysia, yang kemudian dites positif.

    Hampir semua dari 33 pasien positif diperkirakan adalah warga Indonesia.

    Pemerintah Indonesia sudah mengkonfirmasi jika tiga pasien adalah warga negara asing, namun menolak menyebut asal negara mereka.

    Pemerintah juga menolak memberitahu dimana mereka dirawat, sepertinya khawatir menimbulkan kepanikan atau akan menimbulkan diskriminasi terhadap warga negara tertentu.

    Dari yang sudah positif, paling sedikit 17 diantaranya adalah 'kasus impor' dimana mereka adalah warga Indonesia yang baru kembali dari luar negeri dan diperkirakan mengidap virus saat di luar negeri.

    Seorang pria diduga menjadi kasus pertama penularan antar manusia di Indonesia, namun pemerintah juga tidak menyebut asalnya dan juga dimana dia dirawat.

    Kritikan terhadap pemerintah

    Oleh beberapa kalangan, cara pemerintah Indonesia menangani penyebaran virus corona mendapat kritikan tajam.

    Banyak pertanyaan diajukan mengenai berapa orang yang sudah dites, seberapa akurat tes yang ada, dan langkah apa yang sudah dilakukan untuk melacak pergerakan mereka yang mengadakan kontak dengan pasien yang positif.

    People wearing surgical masks walk past an area roped off with tape that says "quarantine".
    Turis melewati batas karantina di Bandara Ngurah Rai Bali.

    Reuters/Antara Photo Agency

    Sampai minggu lalu, hanya sekitar 200 orang yang sudah pernah dites untuk mengetahui apakah mereka mengidap corona atau tidak, padahal Indonesia berpenduduk lebih dari 265 juta orang.

    Bahkan sampai awal Maret, pemerintah Indonesia bersikeras bahwa tidak ada kasus positif virus corona yang ditemukan.

    Setelah kematian di kota asal virus, yakni Wuhan meningkat luar biasa, Indonesia tidak langsung melarang penerbangan dari dan ke China, termasuk beberapa penerbangan langsung ke Wuhan, seperti dari Bali.

    Sekitar 1,2 juta turis Cina mengunjungi Bali tahun lalu, dan ribuan orang diantara mereka masih berada di Bali, setelah penerbangan ke China dihentikan sejak awal Februari.

    Sejumlah media di Indonesia melaporkan sedikitnya ada 9 pasien yang mengidap virus corona di Bali, termasuk warga asing.

    Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.