Logo ABC

Semangat Para Korban Gempa Cianjur Untuk Saling Menolong Saat Bantuan Belum Datang

Reporter

Editor

ABC


Sambil menunggu bantuan dari pemerintah, sejumlah warga terdampak gempa di Desa Cibeureum, Cianjur, Jawa Barat saling membantu satu sama lain.

Menurut data hingga Rabu malam kemarin, gempa yang terjadi di Cianjur awal pekan ini, telah menyebabkan setidaknya 271 warga meninggal. 

Sementara korban luka tercatat lebih dari dua ribu orang. Hampir 62 ribu warga mengungsi karena puluhan ribu rumah yang rusak.

Yani Mulyani, warga berusia 40 tahun, adalah salah satu dari 350 warga yang tinggal di pengungsian yang dibuat sendiri oleh warga di Desa Cibeureum.

"Belum ada bantuan dari pemerintah dua hari ini, saya inisiatif sendiri dengan warga sekitar," ujar Yani, Selasa kemarin.

"Daripada  kita kelaparan kan ... sambil ngutang dulu ke warung dua ... makan, ya seadanya saja."

Saat gempa mengguncang, Yani mengaku yang ada dibenaknya adalah harus menyelematkan diri sendiri dulu.

"Cuma ingat menyelamatkan diri sendiri sebelum orang lain," kata Yani.

"Jalanan ketutup bata, sampai kaki kena kaca."

"Malahan yang dibawah ada yang tertimbun belum ditolong… gempanya dahsyat banget."

Saat diwawancara ABC Indonesia, Yani terisak-isak menceritakan cucunya yang tertimpa sebuah lemari dan ia mengira cucunya akan meninggal.

"Alhamdulillah hanya luka di bagian hidungnya."

Yani mengaku gempa tersebut membuatnya trauma dan hingga Rabu kemarin masih belum tahu bagaimana kondisi rumahnya.

'Bertanggung jawab' untuk saling bantu

Saat ditemui ABC Indonesia, para korban selamat yang tinggal di penampungan mengatakan kebutuhan mendesak saat ini popok untuk bayi, makanan bayi, susu, baju, dan  selimut.

Yana, adalah salah satu warga yang menjadi relawan untuk mengurus tempat pengungsian di Desa Cibeureum.

Yana mengatakan mobilisasi bantuan terhambat karena akses ke desa yang tersendat akibat longsor.

Karenanya sejumlah warga berinisiatif membuat tempat pengungsian dan berencana juga mendirikan dapur umum.

"Setelah terjadinya gempa, kita sudah harus bisa membuat suasana lebih tenang dengan membuat para warga lebih bisa tenang dalam menghadapi bencana," ujar Yana.

"Sebagai masyarakat, ikut bertanggung jawab terhadap masyarakat lainnya," ujar Yana 

Sementara itu, warga lainnya bernama Yanti mengatakan kebanyakan warga mencoba bertahan dengan mie instan. 

"[Kita] makan mie instan, bikin sendiri, belum ada dapur umum, baru mau bikin," ujarnya.

"Ada yang bawa kompor dari rumah ... ya gimana caranya supaya ada makanan sehingga terutama laki-laki bawa kompor dari rumah."

"Kalau air minum biasanya dari gunung ... tapi cari minum itu susah. Ada sebagian masak air, ada sebagian ngambil dari rumah sisa galon."

"Enggak ada fasilitas toilet ... ada sungai di bawah, tapi jauh."

Menanggapi laporan soal warga yang belum menerima  bantuan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan akan melibatkan perangkat desa untuk mendistribusikannya.

"Pendistribusian logistik, setiap pagi jam 8 para Camat mengajukan kebutuhan dan akan disiapkan armada untuk melakukan pengiriman ke kantor Camat jam 9 setiap pagi, nanti kepala desa, babinsa dan babinkatibmas mendistribusilan ke titik-titik pengungsian," ujarnya dalam konferensi pers Rabu kemarin.

Suharyanto juga mengingatkan agar warga lain yang ingin memberikan bantuan menyalurkannya lewat posko di Kantor Bupati Cianjur. 

"Masyarakat dan lembaga lain yang ingin membantu masyarakat terdampak, satu pintu melalui posko, semua bantuan akan didistribusikan ke yang berhak," kata Suharyanto. 

"Jangan distribusikan sendiri, karena cuaca tidak baik, jalanan kecil, menyebabkan jalanan terhambat, ada laporan pasukan evakuasi terhambat karena itu. Kemudian banyak warga luar datang untuk menonton korban bencana, akan ditertibkan oleh TNI [dan] Polri," lanjutnya. 

Jadi waswas setelah gempa

Rumah milik Deden Zaenal Mutakin termasuk yang mengalami kerusakan. 

Ia sudah tinggal di rumah yang dibangun tahun 70-an tersebut selama hampir 50 tahun.

"Tembok kamar [dan] ruang tengah hancur," ujar Deden.

Saat gempa mengguncang, Ibu dan istrinya sedang shalat dan berada di kamar dan langsung lari keluar, ujarnya.

Deden, seperti banyak warga lainnya, mengaku belum pernah mengalami gempa sebesar hari Senin lalu. 

Menurutnya, gempa-gempa yang pernah terjadi sebelum tahun ini "hanya berupa getaran".

Ia mengaku menjadi waswas dengan kawasan tempat tinggalnya. 

"[Tapi] saya belum  pingin pindah kemana gitu, tapi ada rasa takut ... enggak menyangka akan terjadi seperti ini," ujarnya.

Deden mengatakan ia tetap bersyukur karena setidaknya sudah ada tempat pengungsian yang dibangun sesama warga. 

"Yang penting enggak dingin dan kehujanan," ujarnya.

Baca laporannya dalam bahasa Inggris






Berita terkait tidak ada