Logo ABC

Apakah Sekolah dan Universitas Harus Melarang dan Memblokir ChatGPT?

Reporter

Editor

ABC


Sekolah dan universitas khawatir siswa akan berbuat curang menggunakan ChatGPT untuk menyelesaikan tugas. (Photo by Jan Baborák on Unsplash)

Anda tinggal mengetik pertanyaan atau memberikan perintah dan kecerdasan buatan (AI) bernama ChatGPT bisa menjawabnya dan seringkali akurat.

ChatGPT memberikan kesempatan tak terbatas untuk menjawab pertanyaan Anda, tapi kini malah menimbulkan kekhawatiran karena bisa digunakan pelajar melakukan kecurangan.

Di Australia, juru bicara Departemen Pendidikan di negara bagian Queensland mengatakan sudah melarang penggunaan ChatGPT untuk siswa, sampai mereka bisa mengkaji "apakah chat tersebut tepat untuk digunakan".

Penggunaan ChatGPT sudah dilarang sebelumnya di negara New South Wales, sementara negara bagian Victoria sudah mencabut pelarangannya.

Apa itu ChatGPT?

ChatGPT, kepanjangan dari 'Chat Generative Pre-Trained Transformer'  adalah sebuah 'chatbot' yang diluncurkan oleh OpenAI, sebuah perusahaan penelitian dan pengembangan kecerdasan buatan bulan November 2022.

Chat ini bisa memberikan jawaban yang mirip dengan jawaban manusia dan mungkin terasa bukan robot yang melakukannya.

ChatGPT bisa digunakan untuk menerjemahkan teks namun juga bisa membuat kesimpulan dari teks yang panjang menjadi sebuah artikel yang enak dibaca.

Chat ini juga bisa memberikan jawaban untuk pertanyaan apa saja, sehingga sangat berguna bagi perusahaan untuk memberikan jawaban dari pertanyaan pelanggannya.

Mengapa sekolah dan unversitas khawatir?

Kekhawatiran paling besar bagi bidang pendidikan adalah chat ini bisa digunakan para pelajar atau mahasiswa dalam membuat tugas, tanpa bisa diketahui apakah tugas dikerjakan sendiri atau dibantu ChatGPT.

Beberapa kalangan sudah menyebutnya mahasiswa menyuruh robot mengerjakan tugas mereka.

Namun beberapa kalangan pendidikan menyebut ChatGPT ini bisa digunakan untuk mengecek pekerjaan mereka orisinal, yang seringkali jadi tantangan pelajar saat ini.

Tapi butuh pemikiran radikal bagi sekolah dan universitas untuk membuatnya sulit untuk mencontek.

Direktur Riset Pendidikan Griffith Institute, Leonie Rowan mengatakan ChatGPT bisa membantu meningkatkan hasil belajar murid-murid yang selama ini tidak memiliki akses mendapatkan guru les tambahan.

"Ada berbagai dimensi positif," kata Professor Rowan.

"Potensi kegunaannya besar."

"Misalnya ini bisa membantu anak-anak yang memiliki latar belakang bukan berbahasa Inggris, anak-anak pengungsi, mereka yang berasal dari budaya dan bahasa yang berbeda."

Bagaimana mendeteksi siswa menggunakannya?

Menyusul peluncuran ChatGPT, sejumlah program online juga sudah tersedia untuk mendeteksi konten yang dibuat kecerdasan buatan. Program ini mendapat sebutan AICheatCheck.

Program ini menggunakan model untuk mengecek apakah sebuah naskah atau tulisan dibuat oleh manusia atau komputer berdasarkan pemilihan kata dan struktur kalimat yang digunakan.

"Penyalahgunaan kecerdasan buatan oleh siswa bisa dianggap sebagai pelanggaran akademis atau pelanggaran teknologi," kata juru bicara Departemen Pendidikan Queensland.

"Sebagai bagian dari kebijakan, penting bagi sekolah untuk mendidik siswa mengenai dampak etika dan akademis dalam menggunakan kecerdasan buatan untuk menyelesaikan tugas."

Haruskah dilarang oleh sekolah dan universitas?

Professor Rowan mendukung usaha untuk memanfaatkan teknologi dan bukan melakukan pelarangan.

"Saya bisa mengerti soal pelarangan, karena menawarkan solusi yang sederhana dan cepat," katanya.

"Tetapi kita tidak bisa menutup diri dari dunia, kita tidak bisa melarang anak-anak mengetahui apa yang terjadi di dunia ini.

"Saya kira tidak harus dilarang dan tidak akan bisa dilarang."

"Mari kita cari tahu dulu sebelum ketakutan. Manusia itu makhluk yang hebat. Kita belajar menggunakan teknologi demi kehidupan yang lebih baik."

"Saya optimistis dengan bentuk ChatGPT sekarang dan di masa depan."

Professor Rowan mengatakan tidak ada bukti munculnya ChatGPT akan menimbulkan "gelombang perbuatan curang".

Ia mengatakan sebelum adanya ChatGPT sudah ada orang-orang yang menawarkan layanan membantu pengerjaan tugas mahasiswa.

"Sudah jadi sebuah industri," katanya.

"ChatGPT adalah kesempatan bagi kita untuk berpikir lagi. Mungkin ini dorongan agar tugas-tugas yang diberikan kepada siswa bersifat individu."

Selain pendidikan, apa kegunaan ChatGPT ?

Professor Rowan mengatakan ChatGPT bisa digunakan bagi mereka yang harus "menggunakan sistem yang belum pernah diketahui sebelumnya".

Misalnya, untuk membantu mereka yang berasal dari budaya dan bahasa yang berbeda menulis surat lamaran kerja.

ChatGPT juga bisa digunakan untuk kreativitas, seperti menulis lagu atau puisi, atau hal-hal yang mendasar seperti menulis dan menjawab email.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News






Berita terkait tidak ada