Scroll ke bawah untuk membaca berita

Logo
Arsip

Dishub Sebut Kualitas Udara Jakarta Membaik, Apa Kata AirVisual?

Dishub bilang kualitas udara Jakarta baik setelah diberlakukan uji coba perluasan ganjil genap ke 16 ruas jalan.

6 September 2019 | 22.23 WIB

Foto kombo warga menggunakan masker saat berjalan di jalur pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis, 11 Juli 2019. Organisasi lingkungan Greenpeace menyatakan kualitas udara Jakarta saat ini terpantau sangat tidak sehat dengan angka 165 AQI atau Indeks Kualitas Udara. ANTARA/Aprillio Akbar
Perbesar
Foto kombo warga menggunakan masker saat berjalan di jalur pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis, 11 Juli 2019. Organisasi lingkungan Greenpeace menyatakan kualitas udara Jakarta saat ini terpantau sangat tidak sehat dengan angka 165 AQI atau Indeks Kualitas Udara. ANTARA/Aprillio Akbar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Dinas Perhubungan DKI, Syafrin Liputo, mengatakan kualitas udara Jakarta baik setelah diberlakukan uji coba perluasan ganjil genap ke 16 ruas jalan 12 Agustus - 6 September 2019. Seluruhnya ada 25 ruas jalan yang kini berlaku pembatasan kendaraan pribadi berdasarkan plat nomornya itu.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo

"Semuanya sudah berada di bawah 65 mikrogram unit," kata Syafrin di Taman Budaya Dukuh Atas 2, Jakarta Pusat, Jumat 6 September 2019.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Syafrin merujuk kepada angka konsentrasi debu halus di udara ibu kota. Menurutnya, angka tersebut sudah sesuai dengan yang diharapkan Kementerian Lingkungan Hidup. Dia menerangkan, jika angkanya melebihi 65 mikrogram unit artinya kualitas udara buruk.

Dalam rangka pengendalian kualitas udara di Jakarta, Gubernur Anies Baswedan memang mengambil sejumlah langkah seperti yang termuat dalam instruksi Gubernur Nomor 66 Tahun 2019. Perluasan ganjil genap dari semula yang berlaku di sembilan ruas jalan termasuk di dalamnya.

Ingub itu diterbitkan bertepatan dengan digelarnya sidang perdana gugatan warga atau citizen law suit tentang polusi udara Jakarta pada tanggal 1 Agustus lalu. Kualitas udara Jakarta juga telah menjadi perhatian publik dan warganet.

Publik bisa mengetahui data kualitas udara Jakarta di antaranya melalui laman AirVisual.com yang mengukur konsentrasi debu halus PM2,5 di sejumlah kota di dunia. Pada Kamis pagi, 5 September 2019, misalnya, Jakarta disebutkan di laman itu berstatus tidak sehat. Jakarta bahkan kembali menempati posisi pertama sebagai kota yang memiliki kualitas udara terburuk di dunia dengan US Air Quality Index (AQI) atau indeks kualitas udara di angka 181 atau setara parameter PM2.5 dengan konsentrasi polutan 114,3 µg/m³.

Status yang sama pernah didapat Jakarta pada 4 Agustus lalu. Sedang saat tulisan ini dibuat, Jumat malam ini, AirVisual mencatat kualitas udara Jakarta tidak sehat untuk mereka yang sensitif.

MARVELA | ZW

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus