Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Logo DW

Infeksi COVID-19 Tak Terkendali, PM Modi Didesak Berlakukan Lockdown Ketat

Reporter

Editor

dw

image-gnews
Infeksi COVID-19 Tak Terkendali, PM Modi Didesak Berlakukan Lockdown Ketat
Iklan

Ketika gelombang kedua COVID-19 menghantam India, jumlah keseluruhan kasus infeksi tembus 21,49 juta, yang tersebar di kota-kota padat penduduk hingga desa-desa terpencil. Pada Jumat (07/05), India melaporkan hari 414.188 kasus baru dengan 3.915 kasus kematian.

Pakar medis mengatakan tingkat keparahan COVID-19 yang sebenarnya di India adalah lima hingga 10 kali lipat dari penghitungan resmi.

Baca Juga:

Dahsyatnya penyebaran infeksi corona di India membuat Perdana Menteri Narendra Modi menuai kritik karena tidak mampu bertindak cepat. Jajaran pemerintahannya juga mendapatkan sentimen negatif karena telah menunda program vaksinasi, yang menurut para ahli medis upaya itu merupakan satu-satunya harapan India untuk dapat mengendalikan gelombang kedua COVID-19.

Surat kabar Hindustan Times pada Jumat (07/05) menuntut: "Percepat pemberian vaksin, dan kendalikan gelombang kedua pandemi ..."

Tidak cukup vaksin

India tengah berjuang memproduksi dosis vaksin yang cukup untuk membendung 'tsunami' COVID-19. Meski telah memberikan setidaknya 157 juta dosis vaksin, tingkat inokulasi India mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga:

"Setelah mencapai sekitar 4 juta sehari, kami sekarang turun menjadi 2,5 juta per hari karena kekurangan vaksin," kata Amartya Lahiri, seorang profesor ekonomi di Universitas British Columbia seperti dikutip surat kabar Mint.

"Target 5 juta per hari adalah batas bawah dari apa yang kita targetkan, bahkan pada tingkat itu, akan membutuhkan waktu satu tahun bagi kita memvaksin dua dosis untuk setiap orang. Sayangnya, situasinya kini sangat suram," tambahnya.

Desakan lockdown ketat

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

PM Modi menghadapi tekanan yang semakin besar untuk segera memberlakukan penguncian nasional yang jauh lebih ketat. Para ahli medis, pemimpin oposisi, hingga beberapa hakim Mahkamah Agung mendesaknya untuk menerapkan lockdown, sebagai satu-satunya pilihan menghambat penyebaran virus corona.

Modi, yang mengadakan konsultasi dengan para pemimpin terpilih dan pejabat negara bagian yang terkena dampak paling parah pada Kamis (06/05), sejauh ini telah menyerahkan tanggung jawab untuk memerangi virus kepada pemerintah negara bagian yang tidak memiliki perlengkapan yang memadai.

Srinath Reddy, Presiden Public Health Foundation of India, sebuah konsultan publik-swasta, mengakui bahwa sejumlah negara bagian mengalami intensitas epidemi yang berbeda, tetapi "strategi nasional yang terkoordinasi" masih sangat diperlukan.

Menurutnya, keputusan penanganan COVID-19 perlu didasarkan pada kondisi lokal, tetapi harus dikoordinasikan oleh pusat. "Seperti orkestra yang memainkan partitur yang sama, tetapi dengan instrumen yang berbeda," katanya.

ha/hp (Reuters, AP)

Iklan

Berita Selanjutnya

1 Januari 1970


Artikel Terkait

    Berita terkait tidak ada



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Berita terkait tidak ada