Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Logo DW

Marak Pojok Buku di Jakarta, Efektif Tingkatkan Minat Baca?

Reporter

Editor

dw

image-gnews
Marak Pojok Buku di Jakarta, Efektif Tingkatkan Minat Baca?
Iklan

Kapan terakhir kali Anda membaca buku, atau setidaknya berniat baca buku? Membaca jadi salah satu cara yang murah meriah untuk menambah pengetahuan. Buat beberapa orang, membaca juga bisa menjadi salah satu 'terapi' untuk melepaskan jenuh.

Sayangnya, belum semua orang merasa punya waktu atau bersedia memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca. Padahal, Jakarta saat ini sudah mulai berbenah agar lebih ramah pejalan kaki dan punya beberapa pojok baca, misalnya di dalam stasiun MRT sampai dengan Taman Literasi yang diresmikan beberapa waktu lalu.

Baca Juga:

Seberapa penting ruang baca publik di Jakarta? Akankah efektif untuk meningkatkan minat baca? Kustin Ayu, co-founder komunitas KumpulBaca mengungkapkan bahwa ruang baca publik termasuk 'benda mahal' di Indonesia. Dengan demikian, semakin banyak ruang baca publik, semakin baik untuk mendorong orang semangat membaca.

Perempuan yang akrab disapa Ayu ini mengatakan komunitas baca yang dikelolanya ini memang tidak punya tempat tetap untuk berkumpul dan membaca, alias nomaden.

KumpulBaca adalah komunitas membaca dengan kampanye #SejamMembaca. Teman baca, sapaan untuk anggota klub, dibebaskan membawa buku apa pun agar bisa dibaca bersama. Selain kegiatan itu, ada pula kegiatan lain seperti bertemu penulis, bincang buku, atau donasi.

Baca Juga:

"Kami mulai dari 2019 untuk ajak orang tiap weekend baca barengan di taman, atau kafe-kafe dengan tujuan kasih alternatif cara baca yang seru dan nambah teman," ujar Ayu kepada DW Indonesia. Selain taman publik dan kafe, Ayu dan komunitasnya juga sering membuat janji untuk membaca di perpustakaan.

Ruang baca publik

Tempat-tempat seperti Perpustakaan Taman Ismail Marzuki yang sudah direnovasi memang menyedot perhatian kaum muda. Jakarta juga punya tambahan taman baca baru seperti Taman Literasi di kawasan hits anak muda, Blok M.

Tidak cuma itu, berbagai pojok baca, taman bacaan, dan perpustakaan kecil milik pribadi juga menjamur di berbagai area di Jakarta, misalnya saja Jakarta Book Hive.

Berbeda dari taman baca atau perpustakaan jalanan yang marak sejak bertahun lalu, Jakarta Book Hive menawarkan opsi berbeda yakni sebuah 'kotak' buku. Jakarta Book Hive 'hanya' punya segitiga kecil dengan lubang kaca di tengahnya untuk memperlihatkan buku-buku yang ada di dalamnya.

Dari kotak buku yang dibuat mirip sarang lebah ini, para pengunjung bisa mengambil buku untuk dibaca di tempat atau bahkan dibawa pulang. Warga juga bisa mendonasikan buku-buku pribadi yang sudah tidak dibaca lagi ke kotak ini.

Farid Hamka, inisiator Jakarta Book Hive menyebut ide ruang baca publik atau yang disebutnya sebagai perpustakaan bersama ini berawal dari proyek pribadi untuk memiliki ruang baca bersama yang mudah diakses siapa saja.

"Jakarta sekarang ini semakin 'ramah' dan banyak pembangunan juga kemajuan. Tapi saya merasa ada yang kurang nih dari kemajuan ini, kurang akses untuk membaca yang saya rasa bisa dikembangkan lebih baik dengan kehadiran ruang literasi, dan cinta saya membaca." kata Farid Hamka kepada DW Indonesia.

Perpustakaan bersama ini sengaja diletakkan di beberapa taman. Sampai saat ini, sudah ada 14 perpustakaan yakni 11 di Jakarta, dan masing-masing satu buah di Bali, Tangerang, dan Surabaya.

"Saya ingin orang berpikir bahwa membaca itu keren, pergi ke perpustakaan umum itu keren. Karena membaca buku itu buat saya seperti cermin diri, untuk refleksi diri, bisa dapat ilmu, tapi juga kesenangan, bahkan jadi terapi."

Pencetus diskusi dan pertukaran gagasan

Salah satu hidden gem pojok baca di Jakarta ada di Tebet. Sebuah rumah yang disulap jadi kafe dan perpustakaan ini dikenal sebagai Baca di Tebet. Baca di Tebet didirikan oleh Wien Muldian dan penulis Kanti W. Janis pada 20 Februari 2022.

"Konsep Baca di Tebet ini adalah perpustakaan, jadi sebuah tempat membaca, baca apa saja," kata Wien sembari tersenyum.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kanti menambahkan bahwa pembangunan perpustakaan ini tercetus dari kerinduan pribadi akan adanya ruang publik untuk membaca. Sampai saat ini ada setidaknya 24 ribu buku cetak yang tersedia di perpustakaan ini, dari humaniora, politik, sosial, kebudayaan, sastra.

"Ingin ada ruang publik yang tidak melulu konsumerisme, yang nyaman, bisa belajar, bisa makan, minum, dan juga ngobrol," ucapnya kepada DW Indonesia.

Wien dan Kanti sengaja membuat Baca di Tebet sebagai tempat untuk berdiskusi banyak hal. Buat keduanya, pendidikan literasi bukan sekadar membaca buku, tapi juga mendiskusikan berbagai gagasan yang muncul usai membaca.

"Banyak orang menganggap literasi itu hanya membaca. Literasi itu terkait bagaimana mengelola pengetahuan. Literasi yang paling tinggi adalah pembangunan karakter seseorang. Bagaimana pengetahuannya disampaikan ke publik," kata Wien yang juga Ketua Umum Perkumpulan Literasi Indonesia (PLI) ini.

"Jangan cuma bisa dibaca individual tapi jadi diskusi, kajian, ini jadi tempat kolektif membaca dan menguraikan ide kolektif sehingga ada karya baru dan pemikiran baru. Bukan untuk rawat buku tapi merawat gagasan dari beragam bacaan pemikiran."

Untuk bisa mengunjungi perpustakaan Baca di Tebet, pengunjung dikenakan donasi tiket harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan secara online. Untuk donasi tiket harian seharga Rp35 ribu. Setiap harinya pengunjung yang minimal berusia 12 tahun ini dibatasi sebanyak 50 orang per sesi.

Berbeda dengan perpustakaan lainnya di mana orang harus tenang dan tidak boleh makan agar tidak mengotori buku, Baca di Tebet punya konsep lain. "Kami ingin orang lebih dari sekadar membaca, yang dibaca tak cuma buku fisik tapi juga lingkungan yang ditemui," ucap Kanti.

Minat ada, akses kurang

"Kalau menurut data, tingkat literasi Indonesia sudah sedikit lebih baik ketimbang 5 tahun lalu. Tapi tetap saja buruk di antara 70 negara yang disurvei. Tahun 2019 pas kami bangun KumpulBaca, peringkatnya masih di 63 dengan rerata orang baca buku kurang dari satu jam setiap hari. Makanya, kami mulai kampanye #SejamMembaca saat akhir pekan," ujar Kustin Ayu.

"Seharusnya Jakarta jadi kota yang tingkat literasinya paling bagus karena segala macam akses buku dan taman baca banyak sekali di Jakarta. Ada perpus paling bagus dan paling nyaman. Kalau dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, tingkat literasi Jakarta lebih baik. Tapi sayangnya mungkin kalau dibandingkan negara lain, masih kurang," tambahnya.

Berbagai survei di dunia menyebut bahwa Indonesia adalah negara yang punya minat baca rendah. Survei UNESCO misalnya, Kominfo menyebut bahwa Indonesia menempati urutan kedua dari bawah soal literasi dunia. Data UNESCO menyatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001 persen. Artinya dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Namun Farid, Wien, dan Kanti tidak lantas setuju dengan pernyataan ini. Wien mengatakan pada dasarnya keinginan untuk baca buku di Indonesia relatif. Namun, minat yang sudah ada ini harus diarahkan.

"Harus temukan spesialisasinya apa, dari minat jadi kecakapan akhirnya jadi sebuah kepakaran ilmu karena membaca. Jadi tidak berhenti sampai membaca saja. Daya literasi dikembangkan dengan membangun lingkungan fisiknya (perpus atau taman baca), sosial afektif (interaksi) dengan diskusi, lingkungan akademik akhirnya menciptakan sesuatu."

"Minatnya mungkin tidak serendah itu, tapi daya bacanya (yang rendah). Kebanyakan orang tidak tahu fungsi baca dan tidak bisa sintesis hal yang mereka baca dan mengaitkannya ke kehidupan. ini yang harus ditingkatkan," ucap Farid.

"Kota yang bagus adalah kota yang bisa didongkrak oleh bacaan dan sastra." Menurutnya, membaca bukanlah sekadar karena ingin pintar atau karena belajar, tapi karena ingin memperbaiki diri dan menjadi lebih bahagia.

"Kurikulum kita tidak pernah meminta kita baca sebagai leisure. Cuma butuh satu buku buat bikin jatuh cinta, mari cari buku itu," ajak Farid. (ae)

Iklan

Berita Selanjutnya

1 Januari 1970


Artikel Terkait

    Berita terkait tidak ada



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Berita terkait tidak ada