Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah sedang gencar mempromosikan penggunaan kendaraan listrik. Menurut dia, upaya ini dilakukan sebagai langkah untuk menuju transisi energi dan meningkatkan bauran energi baru terbarukan atau EBT.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Indonesia terus mempromosikan ekosistem kendaraan listrik karena kebijakan ini diharapkan akan menjadi kunci ekonomi hijau di masa depan,” ujar dia dalam acara virtual Himpuni, Selasa, 25 Oktober 2022.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Menyitir data Kementerian Perhubungan per Juli 2022, jumlah kendaraan listrik yang beredar saat ini 22.671 unit. Kendaraan listrik yang beredar itu terdiri atas mobil barang enam unit, mobil bus 43 unit, sepeda motor 19.698 unit, kendaraan roda tiga 270 unit, serta mobil penumpang empat roda 2.654 unit.
Untuk meningkatkan penggunaan kendaraan listrik, pemerintah telah mengeluarkan ketentuan melalui Peraturan Presiden (PP) Nomor 55 Tahun 2019 yang mengatur percepatan ekosistem kendaraan listrik. Presiden Joko Widodo alias Jokowi juga mengeluarkan instruksi presiden tentang pemakaian kendaraan listrik di lingkup kedinasan.
Menurut Airlangga, Indonesia memiliki target untuk mengejar nol emisi karbon atau net zero emission (NZE) pada 2060, bahkan lebih cepat. Dia berharap masyarakat mendukung komitmen tersebut agar target net zero emission tidak meleset.
“Kami menyatakan lebih ambisius untuk pengurangan emisi dalam peningkatan terbaru yang diajukan NDC Indonesia, 31,89 persen melalui usaha kita sendiri dan 42,2 persen dengan dukungan atau bantuan internasional,” kata Airlangga.
Sejalan dengan transisi energi bersih di Indonesia, kata Airlangga, industri harus percaya pada penelitian dan pengembangan serta akuisisi teknologi dan investasi. Sehingga, Indonesia dapat mengurangi efek gas rumah kaca dan menghindari kelaparan parah serta anomali cuaca di dunia.
Untuk mendukung percepatan transisi energi, Airlangga melanjutkan, pemerintah telah menyiapkan beberapa skema termasuk di bidang carbon pricing and carbon trading. Pemerintah juga menyiapkan beberapa insentif untuk investasi di sektor ekonomi hijau.
Menurut Airlangga, investasi hijau terbukti lebih efektif. Dengan meminimalkan penggunaan bahan organik pengganti plastik, perlahan-lahan masyarakat akan mengubah pola pikirnya. “Dan akan mempertahankan mimpi untuk tetap bersih dan kehidupan yang lebih berkelanjutan,” tutur Airlangga.
Energy Watch mencatat tren penggunaan kendaraan listrik mulai meningkat walau rasionya masih sangat kecil ketimbang kendaraan berbahan bakar minyak (BBM). “Jadi jumlahnya memang masih sangat sedikit sekali, tapi saya kira tren ke arah sana (penggunaan kendaraan listrilk) sudah mulai ada ya,” ujar Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan saat dihubungi pada Senin, 17 Oktober 2022.
Tren kendaraan listrik, kata dia, akan tambah meningkat seiring dengan diterbitkannya Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2022 tentang Penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai sebagai Kendaraan Dinas. Beleid itu mengatur penggunaan mobil dan motor listrik di lingkungan instansi pemeritnahan.
Jika berjalan optimal, kebijakan ini akan menjadi showcase bagi masyarakat untuk beralih dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik. Hanya, menurut Mamit, kebijakan itu harus didoronga oleh faktor lain, terutama dari sisi harga.
Pemerintah, ucap dia, harus bisa memberikan kebijakan yang menarik sehingga masyarakat bisa beralih ke mobil listrik dengan harga yang terjangkau. “Misalnya dari sisi pajak yang dimurahkan atau kebijakan lain yang membuat masyarakat tertarik,” tutur dia.
Selain itu, Mamit menyarankan agar kendaraan listrik diproduksi di dalam negeri sehingga harganya bisa menjadi lebih murah. Dia juga meminta agar dari sisi ketersediaan diperhatikan. Sebab saat ini, inden atau masa pemesanan mobil listrik cukup lama. “Hal ini membuat masyarakat jadi malas untuk beralih,” ucap Mamit.
Hal yang tidak kalah penting, dia berujar, adalah desain dari kendaraan listrik. Menurut Mamit, desain kendaraan listrik terutama mobil harus sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia yang gemar membawa angkutan dalam jumlah besar atau setara dengan MVP. Dari segi infrastruktur, jalan kendaraan pun dianggap perlu harus diperbaiki.
Mamit menilai infrastruktur, lainnya seperti Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Indonesia, masih minim. Stasiun pengisian iyu perlu diperbanyak mengingat tren ke depan penggunaan kendaraan listrik ini akan cukup besar. Walau, dia mengakui minimnya jumlah SPKLU itu wajar.
“Mengapa? Karena memang saat ini populasi kendaraan listrik juga masih belum banyak juga. Intinya infrastruktur harus siap,” kata Mamit.
Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini.