Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
TEMPO.CO, Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah resmi membuka suspensi saham emiten badan usaha milik negara (BUMN) konstruksi PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (kode saham: WSKT) pada perdagangan hari ini di Jakarta, Jumat.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Melansir keterbukaan informasi di BEI, suspensi seluruh efek terkait Waskita mulai dari saham, obligasi hingga sukuk telah dibuka. “Bursa mengumumkan pembukaan penghentian sementara perdagangan efek (Waskita Karya),” tulis BEI.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Adapun, efek Waskita yang dimaksud, yaitu WSKT, WSKT03BCN2, WSKT03BCN3, WSKT03BCN4, WSKT04CN1, WSKT03A, WSKT03B, WSKT04A, WSKT04B, SMWSKT01A, dan SMWSKT01B.
Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna Setia menyampaikan BEI sedang mempertimbangkan untuk membuka kembali perdagangan saham Waskita Karya.
"Bursa dapat mempertimbangkan pembukaan suspensi perseroan, setelah perseroan menyampaikan hasil RUPO dan laporan atau keterbukaan informasi mengenai adanya perubahan (amendemen) atas perjanjian perwaliamanatan kepada publik terkait rencana restrukturisasi obligasi sebagaimana diatur dalam Peraturan Bursa Nomor I-E," ujar Nyoman
BEI melakukan suspensi terhadap saham Waskita pada 16 Februari 2023 lalu, terkait penundaan pembayaran bunga ke-15 Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap IV Tahun 2019 Seri B.
"Pembukaan suspensi akan dilakukan setelah penyebab suspensi telah diselesaikan oleh perseroan," ujar Nyoman.
Sedangkan, hasil Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) emiten BUMN bidang konstruksi pada 16 dan 17 Februari 2023 lalu telah disetujui.
Sebagai informasi, Waskita mencatatkan laba bersih pada kuartal III tahun 2022 sebesar Rp 578,17 miliar atau melonjak 766,6 persen year on year (yoy) dari periode sama tahun lalu sebesar Rp 66,71 miliar.
Selama periode Januari hingga September 2022, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 10,30 triliun tumbuh 44,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2021 sebesar Rp 7,12 triliun.
Pilihan Editor: 4 Kali Menang PK Sengketa Lahan, Akhirnya Pemerintah Bakal Kelola Hotel Sultan Jakarta
Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini