Scroll ke bawah untuk membaca berita

Logo
Bisnis

Ekspor Nikel Sulfat, Dirut NCKL Optimis Indonesia Menjadi Pemain Kunci Industri Baterai Kendaraan Listrik

Direktur Utama NCKL Roy A. Arfandy optimis Indonesia akan menjadi pemain kunci industri baterai kendaraan listrik.

16 Juni 2023 | 13.46 WIB

Sejumlah kontainer berisi nikel sulfat yang siap dikapalkan untuk diekspor. Indonesia melakukan ekspor perdana nikel sulfat pada Jumat, 16 Juni 2023. Foto : PT Trimegah Bangun Persada
Perbesar
Sejumlah kontainer berisi nikel sulfat yang siap dikapalkan untuk diekspor. Indonesia melakukan ekspor perdana nikel sulfat pada Jumat, 16 Juni 2023. Foto : PT Trimegah Bangun Persada

Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini

Logo

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) Roy A. Arfandy mengatakan bahwa pihaknya optimis Indonesia akan menjadi pemain kunci dalam industri baterai kendaraan listrik. Optimisme itu ditopang oleh besarnya sumber daya nikel dalam negeri serta meningkatnya hilirisasi nikel yang merupakan bahan utama baterai kendaraan listrik.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini

Logo

Hari ini, Jumat, 16 Juni 2023, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) melalui entitas asosiasinya, PT Halmahera Persada Lygend (PT HPL), resmi melakukan ekspor perdana nikel sulfat perdana. Sebanyak 5.584 ton nikel sulfat siap dikirimkan ke Cina. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

“Ke depan, perusahaan akan berusaha mengirimkan kurang lebih sebanyak empat kapal untuk memenuhi target permintaan produksi nikel sulfat tersebut,” kata Roy dalam keterangannya pada Jumat, 16 Juni 2023.

Roy mengatakan perusahaan menargetkan ekspor nikel sulfat hingga 240.000 ton per tahun. Hal ini sesuai dengan kapasitas produksi pabrik. Ekspor perdana nikel sulfat itu merupakan langkah penting bagi Indonesia untuk bisa menjadi pemain kunci dalam industri baterai kendaraan listrik di masa depan. Ekspor ini juga diharapkan bisa mendorong perekonomian daerah dan nasional.

“Menjadi perusahaan manufaktur bahan energi baru yang mengedepankan pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat serta berkontribusi pada pengembangan industri adalah target jangka menengah kami,” ujarnya.

Roy melanjutkan, saat ini NCKL terus berupaya meningkatkan rantai industri sumber daya nikel, dengan memproduksi kobalt sulfat.  Bersama dengan nikel sulfat, konsentrat ini merupakan dua elemen penting pembentuk prekursor katoda baterai kendaraan listrik. 

Nikel sulfat hasil pemurnian di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara ini akan digunakan dalam produksi baterai lithium dengan kandungan nikel yang tinggi. Di masa mendatang, penggunaan baterai lithium jenis ini diprediksi akan terus meningkat, terutama dalam industri kendaraan listrik.

Pada 31 Mei 2023 lalu PT Halmahera Persada Lygend meresmikan operasional pabrik nikel sulfat yang pertama di Indonesia, sekaligus menjadi yang terbesar di dunia dari sisi kapasitas produksinya,. 

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto menyebut bahwa ini merupakan suatu keberhasilan yang mengesankan dan luar biasa. 

“Operasional penambangan dan hilirisasi yang dilakukan oleh NCKL merupakan yang terbaik. Ini diungkapkan oleh konsultan internasional yang bisa melakukan sertifikasi terhadap proses produksi penambangan dan lainnya,” ungkap Seto.

Diketahui dalam kunjungannya ke Site Pulau Obi yang dioperasikan NCKL pada akhir Mei 2023 lalu, Seto didampingi oleh konsultan Benchmark Mineral Intelligence (BMI). 

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini

Logo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus