Scroll ke bawah untuk membaca berita

Logo
Politik

Ketua Senat Unpad Tegaskan Seruan Padjajaran Bagian Desakan Moral, Tak Ada Kaitan Dukungan Kontestasi Pemilu

Ketua Senat Unpad menegaskan tujuh poin yang dibacakan dalam Seruan Padjajaran murni merupakan seruan moral dari kondisi dan situasi saat ini.

3 Februari 2024 | 13.29 WIB

Ketua Senat Akademik Ganjar Kurnia membacakan pernyataan sikap bersama guru besar dan dosen di depan gedung Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, 3 Februari 2024. Civitas akademika Unpad menyatakan sikap Seruan Padjadjaran yang menyoroti masalah hukum, etika berpolitik, dan sikap pemerintah jelang Pemilu 2024. Seruan Padjadjaran ditandatangani 82 guru besar, 1.030 dosen dan alumni, dengan dukungan mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswa Unpad. TEMPO/Prima mulia
material-symbols:fullscreenPerbesar
Ketua Senat Akademik Ganjar Kurnia membacakan pernyataan sikap bersama guru besar dan dosen di depan gedung Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, 3 Februari 2024. Civitas akademika Unpad menyatakan sikap Seruan Padjadjaran yang menyoroti masalah hukum, etika berpolitik, dan sikap pemerintah jelang Pemilu 2024. Seruan Padjadjaran ditandatangani 82 guru besar, 1.030 dosen dan alumni, dengan dukungan mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswa Unpad. TEMPO/Prima mulia

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Senat Akademis Universitas Padjajaran (Unpad), Ganjar Kurnia menegaskan tujuh poin yang dibacakan dalam Seruan Padjajaran murni merupakan seruan moral dari kondisi dan situasi saat ini. Ia memastikan tidak ada kaitan dengan dukung mendukung dalam kontestasi Pemilu 2024.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo

“Ini seruan moral, tidak terkait dengan yang lain. Ini adalah tanggung jawab kita bersama terhadap keadaan,” kata dia, Sabtu, 3 Februari 2024.

Sebelumnya, Akademisi Unpad menyerukan agar masyarakat memilih calon presiden dan calon wakil presiden pada Pemilu 2024 berdasarkan kesadaran dan keyakinan, bukan atas dasar politik uang atau intimidasi. Selain itu mengingatkan soal pelaksanaan Pemilu yang jurdil, aparat yang menegakkan hukum dan pemimpin yang patuh pada hukum dan etika. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, sekaligus Ketua Dewan Profesor Unpad, Arief Anshory Yusuf mengatakan, seruan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab kampus menyikapi situasi politik terkini. Ia menguraikan yang membedakan bangsa maju dan belum maju itu bukan perbedaan income, aset, sumber daya, tapi perbedaan  kualitas institusi di mana di dalamnya termasuk kualitas penegakan hukum dan demokrasi. 

"Kalau misalnya ini didobrak dengan berbagai macam pelanggaran etik, potensi-potensi pelanggaran norma dan lain-lain maka pada akhirnya kekuasaan politik dan ekonomi itu akan ada di segelintir kelompok tertentu saja. Dengan begitu, teori ekonomi bilang, bukan hanya keadilan yang tidak akan tercapai, pertumbuhan ekonomi pun tidak,” kata guru besar, yang menjadi salah satu penggagas seruan tersebut.

Guru Besar Ilmu Hukum Tata Negara Unpad, Susi Dwi Harijanti menyebut seruan tersebut dirumuskan bersama-sama. 

“Ini merupakan buah pikiran dari beberapa guru besar. Yang kemudian meneguhkan hati kami para guru besar adalah para pimpinan ada di belakang kami, Prof. Ganjar, rektor juga ada di belakang kita,” kata dia.

Susi mengatakan, naskah Seruan Padjadjaran terus mengalami revisi sejak disusun kemarin, Kamis, 2 Februari 2023. Naskah yang dibacakan merupakan versi final. 

“Kami ingin memberikan kesempatan pada guru besar dan yang lain memberikan masukan-masukan termasuk Bu Rektor itu memberikan masukan, kemudian guru besar. Makanya pukul 7.00 pagi tadi masih direvisi, dan ini yang tadi dibacakan adalah final dari semuanya,” kata dia.

Susi mengatakan, sejak semalam seruan itu diedarkan untuk mencari dukungan. Hingga pukul 8.00, ia mengklaim terkumpul ribuan tanda tangan dukungan Seruan Padjajajran dari guru besar, dosen, mahasiswa, dan alumni. 

“Ini update terakhir pukul 8 dan masih akan berlangsung terus. Yang menandatangani seruan ini untuk guru besar kurang lebih 82 guru besar. Kemudian bergabung dosen dan alumni sejumlah kurang lebih 1.030 orang. Dan ini menunjukkan betapa seruan moral yang kami sebut dengan Seruan Padjadjaran mendapat dukungan penuh dari civitas academika,” kata dia. 

Mahasiswa siap turun ke jalan

Ketua BEM Unpad Mohamad Haikal Febriansyah mengatakan, seruan ini menyusul sejumlah kampus atas kondisi politik saat ini. “Kita melihat bagaimana civitas academika di berabagi daerah sudah mulai bergerak dan bersuara. Universitas Padjadjaran menajdi kampus pertama di Jawa Barat yang menyatakan sikap dan juga menyampaikan seruan. Ini sebuah tanda bahaya, ini sebuah tanda di mana kita harus memperhatikan kembali kondisi bangsa ini, kondis masa depan kita,” kata dia.


Haikal mengklaim, mahasiswa siap turun ke jalan. “Jika dosen-dosen dan guru besar kami sudah mengatakan ini darurat, maka kami seluruh mahasiswa akan turun ke jalan jika diperlukan oleh bangsa ini. Ini sudah menjadi tanda tidak bisa lagi diam di kelas, duduk manis melihat kondisi bangsa ini jika guru-guru kami sudah bersuara,” kata dia.

Alamsyah, salah satu perwakilan alumni Unpad yang hadir dalam pembacaan Seruan Padjadjaran tersebut mengatakan, seruan moral tersebut tidak terkait dengan dukung mendukung dalam kontestasi pemilu. 

“Ini bukan urusan dukung mendukung, oleh karena itu kami berharap pada pihak-pihak yang sedang mengemban jabatan politik tertentu agar tidak menyatakan sebagai sebuah orkestrasi untuk elektabilitas. Semata-mata apa yang disampaikan oleh para guru bedsar yang kami hormati tidak ada kepentingan politik dan semata-mata untuk keselamatan bangsa ke depan,” kata dia, Sabtu, 3 Februari 2024.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
Ā© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus