Ayam Api

Jum'at, 30 Desember 2016 | 23:41 WIB

Putu Setia
@mpujayaprema

Di ujung tahun ini, saya berketetapan hati untuk mengunjungi Romo Imam. Tradisi silaturahmi menjelang pergantian tahun, tak peduli tahun apa pun, harus saya lakukan. Romo sering berpesan, di setiap pergantian tahun biasakan introspeksi agar bisa berbenah di tahun yang akan datang. "Tahun baru seharusnya membawa harapan baru," kata Romo.

"Mudah-mudahan Romo, saya sudah baca ramalan tahun 2017, hasilnya positif. Tahun Ayam Api ini memberikan harapan bagus," kata saya. "Elemen api menunjukkan kehangatan dan ketenangan batin dalam menjalin hubungan antarmanusia. Semoga kita semakin rukun di tengah-tengah perbedaan."

"Sampeyan percaya ramalan?" kata Romo tiba-tiba. Saya gelagapan. Saya jawab: "Kadang percaya tapi lebih sering tidak. Persoalan bukan percaya atau tidak, tetapi saya ingin menularkan sikap optimisme untuk bangsa ini. Tahun 2016 menyisakan keprihatinan yang dalam, setiap saat saya bertanya, kok bangsa ini sepertinya mundur. Ada pahlawan yang dikafir-kafirkan oleh seorang guru, ada penistaan terhadap suatu agama tetapi penanganannya berbeda, yang satu cepat diproses secara hukum, satunya lagi tak kunjung diproses. Ada banyak orang yang setiap menit memuji-muji calon gubernur yang didukungnya di media sosial. Wajar memang, tetapi kenapa mereka sembari menjelek-jelekkan calon gubernur pesaingnya, kan pujiannya itu jadi tak bernilai?"

"Sampeyan ngelantur, tidak fokus," Romo memotong. "Kita kembali ke tahun Ayam Api, ini boleh disebut budaya Cina masa lalu yang terus dipelihara dengan baik. Saya sebut budaya, karena orang-orang Cina atau kita sebut Tionghoa saja, agamanya bisa beragam. Ada yang Buddha, ada yang Katolik, Kristen Protestan, Islam, Konghucu, bahkan juga Hindu. Namun urusan budaya ini mereka lestarikan terus bahkan dikembangkan dengan memasukkan unsur kekinian. Coba saja lihat, mereka membagi perwatakan manusia lewat apa yang disebut shio. Dan penamaan shio itu semua binatang. Ada shio kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi. Ya, babi yang diharamkan umat Islam, tetapi muslim Cina atau kita sebut muslim Tionghoa, tenang-tenang saja."

"Ah, Romo juga tidak fokus, melebar ke mana-mana," kali ini saya yang memotong ucapan Romo Imam. Romo tertawa, lalu merespons celetukan saya. "Saya ingin mengatakan, dalam hal budaya kita boleh percaya atau tidak, mau mempersoalkan atau mengomentari bebas saja. Tetapi tidak dalam akidah agama. Tak mungkin akidah sebuah agama diperdebatkan dengan memakai tolok ukur agama lain. Bisa-bisa itu disebut penistaan. Bagi umat muslim, tiada Tuhan selain Allah. Bagi umat Hindu, hanya ada satu Tuhan, yaitu Brahman. Bagi umat Islam, yang tidak percaya Allah adalah kafir, bagi umat beragama lain kan bisa menuduh hal yang sama, cuma istilahnya saja beda. Bagaimana ini diperdebatkan, bukankah kata Tuhan itu bahasa Indonesia yang tak ada dalam teks kitab-kitab suci, sementara Tuhan bisa disebut dengan beribu nama? Jadi, berhentilah atau kurangilah memperdebatkan akidah suatu agama di forum-forum terbuka di tahun 2017 nanti. Kalau perlu persamaannya dimunculkan, misalnya, bagaimana agama itu berdasar pada kedamaian, kasih sayang, menghormati setiap kehidupan."

Saya cepat memotong: "Wah, obrolan ini semakin tidak fokus." Lalu saya menyalami Romo. "Selamat tahun baru saja Romo. Betul ayam itu sumber kehangatan, tetapi apinya bisa membakar. Semoga tahun 2017 kita nikmati dengan baik, seperti menikmati ayam yang dipanggang api, ayam bakar."

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru

  • sabtu, 22 april 2017 | 02:34 WIB

    Rukun

  • sabtu, 15 april 2017 | 00:54 WIB

    Ibu Kota

  • sabtu, 08 april 2017 | 00:20 WIB

    Tak Lucu

  • sabtu, 01 april 2017 | 03:06 WIB

    Aksi

  • sabtu, 25 maret 2017 | 01:26 WIB

    Ogoh-ogoh