Tiga Menguak Jakarta  

Rabu, 30 Oktober 2013 | 13:35 WIB

Tiga Menguak Jakarta  
Film Jalanan.

TEMPO.CO, Jakarta- Film dokumenter “Jalanan” panen. Memenangkan Film Dokumenter Terbaik di Busan International Film Festival dan mendapatkan ganjaran standing ovation di Ubud Writers and Readers Festival.
                                                                        ***
Di Ubud, kita mengenal anak-anak jalanan Jakarta. Ho,Titi dan Boni mengguncang kenyamanan hati kita. Enam ratus penonton yang berdesakan di halaman Museum Antonio Blanco, Ubud, menyaksikan film dokumenter Jalanan karya Daniel Ziv.  Di udara terbuka, di bawah bintang, mereka menyaksikan kisah tiga pengamen  yang hidup dan bercinta di jalan-jalan Jakarta. Alangkah ganjil, kita orang-orang Jakarta (dan mereka, para turis  dan penulis Australia dan Amerika) yang datang ke Ubud Writers dan Readers Festival 2013 malah mengenal sesuatu yang intim tentang urat nadi Jakarta melalui tiga pengamen yang begitu sederhana, tetapi begitu kuat.
            Enam tahun silam, setelah menggaruk uang pribadi dan membeli kamera, Daniel Ziv yang sebelumnya dikenal sebagai editor majalah Djakarta dan penulis buku Jakarta Inside Out mengaku ingin membuat film dokumenter yang bersahaja tentang pengamen Jakarta dan kisah hidup mereka sehari-hari. “Saya sengaja mencari pengamen yang memiliki suara yang cukup bagus, bisa mencipta lagu dan memiliki kepribadian yang kharismatik,” kata Daniel. Ternyata, keinginan yang sederhana akhirnya menjadi membesar dan mendalam.  “Saya menyadari bahwa saya  berhadapan dengan cerita yang menarik tentang Indonesia: sebuah snap-shot masa pasca-reformasi dari pandangan orang-orang yang ikut merayakan kemerdekaan dan globalisasi, tetapi sama sekali tidak memperoleh keuntungan apapun dari fenomena itu.”  Ziv  merekam perjalanan mereka  selama empat tahun dan dua tahun terakhir adalah proses editing dan musik. “Saya didukung seorang editor yang luar biasa: Ernest Hariyanto.”
            Maka pemutaran perdana film ini di Ubud Writers Festival pekan lalu, kita bukan hanya menyaksikan tentang kemiskinan kehidupan urban; bukan hanya mengulang pemandangan kemacetan di Jakarta yang setiap hari kita maki dan cerca karena; juga bukan persoalan klasik bagaimana menghadapi sapaan di jendela mobil  dari pengamen, peminta sumbangan, tukang koran dan penjual air mineral botol yang oleh wartawan diletakkan dalam parantesis sebuah kalimat.
            Daniel Ziv  merontokkan parantesis itu dan menyorong tiga pengamen itu sebagai orang-orang Jakarta yang penting. Lensa Ziv begitu fokus sehingga Ho, Titi dan Boni tiba-tiba bukan hanya bagian dari statistik, tetapi menjadi orang-orang Jakarta yang begitu hidup dan memberi harapan.
             Ho adalah pengamen yang tidak saja berpenampilan unik: bertubuh kurus, berambut gimbal, berceloteh tanpa rem dan tanpa rasa sungkan. Nama aslinya Bambang Sri Mulyono. Tetapi dia berkata dia dipanggil “Ho”, entah bagaimana sejarahnya. Menurut Ho “kawan saya mengatakan dalam bahasa Inggris Ho artinya pelacur. Gue memang pelacur sih,” katanya dengan nada enteng. “Tapi pelacur seni. Itu kan profesi yang paling jujur melacurkan diri,” katanya menjelaskan konsep ‘pelacuran’ yang dilakukannya untuk mencari nafkah. Dia menghampiri konsumen untuk menjual suaranya dan musiknya adalah bentuk ‘pelacuran’ yang jauh lebih jujur daripada korupsi. Ucapan si rambut gimbal bersuara serak ini dihajar ledakan tawa penonton yang menyaksikan film ini dengan intens.
            Meski lucu, Ho tidak disajikan sebagai bagian dari komedi putar Jakarta. Ziv jelas ingin memperlihatkan betapa cerdasnya ketiga pengamen ini; kecerdasan yang mereka asah karena tumbuh dan hidup di jalan. Tentu saja Ho adalah lelaki yang butuh seks— lihatlah adegan tawar menawar dengan pelacur yang sungguh lucu—yang ingin berumahtangga suatu hari.
            Ho juga memberi komentarnya yang kritis tentang berbagai kelompok demonstran yang menjerit-jerit minta keadilan. Di tengah protes itu, Ho dan gitarnya menatap dengan wajah penuh tanda tanya. “Halah,” katanya memoncongkan bibirnya saking jengkel, “itu jerit-jerit paling karena tidak dapat bagian saja.”
            Ho, seperti yang diucapka penyair Goenawan Mohamad yang ikut menyaksikan sembari berdesakan bersama penonton lain, “sangat fasihberbicara dan mengagumkan.” Dan bukan hanya itu. Penonton kemudian dengan mudah memihak kepadanya, kepada keinginannya memiliki cinta dan ketika dia denga polos menyatakan cinta pada seorang perempuan beranak tiga, justru karena ia begitu jujur dan blak-blakan. Tanpa rencana, tanpa siasat, begitu saja Ho mengajukan keinginannya membuhulkan hubungan dengan perempuan yang sudah lama diincar dan sang perempuan tersipu-sipu wajahnya merekah. Lucu, intim sekaligus hangat.
            Jika Ho seolah mengarungi hidup di jalanan dengan enteng, Titi yang bersuara bagus itu menghadapi hidup penuh gerunjal. Ibu dari tiga anak yang kini terpisah-pisah itu bercerita bagaimana dia merindukan anak-anaknya:  satu di Kalimantan, satu di Jawa Timur -dan yang terakhir di Jakarta menetap bersama dia. Tetapi ketimbang berdukalara, Titi memilih untuk bernyanyi lagu ciptaannya, atau lagu iklan sebuah harian di atas bis yang kemudian memberinya imbalan yang cukup hingga dia bisa mengirim duit ke kampung.
            Titi juga tokoh yang disayangi penonton.  Hampir setiap kali dia mengucapkan sesuatu atau seusai menyanyi, pastilah  penonton menghujani dengan tepuk tangan. Titi tahu dia harus menyesuaikan penampilan saat dia melalui gang-gang ‘konservatif’ di Jakarta. Dan Titi juga tahu di mana dia bisa tampil santai dengan jins dan T-shirt sembari meraungkan suaranya yang sungguh merdu itu. Jika Titi muncul di layar, dengan segala kesulitan yang dihadapinya, dia seperti selajur cahaya matahari yang menerangkan hati yang muram.
             Rangkaian adegan film ini begitu mulus , disunting dengan rapi  hampir sebuah film cerita—dan kita nyaris lupa ini adalah sebuah dokumenter--hingga salah seorang penulis berbisik “apakah bagian itu diatur sutradara?” tanyanya ketika layar menghadirkan adegan salah satu pengamen yang di penjara  setelah disikat dan dibersihkan dari jalanan. “Tidak. Semuanya betul-betul berjalan alamiah tanpa skenario. Saya mengikuti mereka saja,” jawab Daniel Ziv sembari menceritakan bagaimana sudah dua tahun dia mendengar razia satpol yang berlangsung yang selalu membuat hidup para pengamen dilanda rasa takut. “Saya memang berada bersama dia malam itu, dan ketika mereka terciduk, saya ikutan hingga ke dalam tahanan,” kata Ziv. Tentu ada teknis khas jurnalistik investigasi yang digunakan Ziv agar dia bisa merekam itu semua.
            Boni adalah pengamen yang berlindung di bawah jembatan. Cita-citanya adalah hidup bersama perempuan yang dicintainya hingga akhir hayat di sebuah rumah sederhana. Cita-cita sederhana, keinginan bersahaja. Tetapi tetap menjadi sebuah impian mewah. Mungkin untuk mewujudkan mimpi itu, dia dibantu Ho mengecat dinding bawah jembatan, mereka menanam rumput palsu di pinggiran, dan menulis  nama sebuah hotel mewah di dinding kolong jembatan.. Keren, lucu dan penuh ironi.
Boni tak sungkan untuk nyelonong masuk mal mewah untuk numpang buang air besar. “Taik orang asing, taik orang kaya ,orang miskn semua bersatu. Orangnya saja yang tidak menyatu,” katanya dengan enteng. Keluar dari mal, dia menggerutu betapa joroknya mal semewah itu tidak menyediakan alat pembilas. Menurut Boni, “karena orang asing pakai kertas tisu...”dia cekikikan.
            Ho, Titi dan Boni menguak Jakarta dan sama sekali tak ingin dikalahkan oleh kemiskinan dan kebodohan. Ziv menunggu begitu lama, merekam akhir dari cerita ketiga warga Jakarta ini dengan mengharukan. Film ini, meski tetap kritis, tetapi menolak untuk meratap dalam kekelaman Jakarta. Jika para penonton di halaman Museum Blanco Ubud bertepuk tangan dan berdiri menghormati tim Daniel Ziv dan ketiga penyanyi, bukan hanya karena ini film yang bagus, tetapi juga karena harapan yang ditiupkan film ini adalah sesuatu yang segar.
Leila S.Chudori

JALANAN

Sutradara/Produser      : Daniel Ziv
Editor                              : Ernest Hariyanto
Tokoh                              : Ho, Titi dan Boni
Durasi                             : 107 menit



 




Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru