Menikmati Wonder Gadot

Senin, 12 Juni 2017 | 19:32 WIB

Menikmati Wonder Gadot
Wonder Woman 2017 (imdb.com)

Wonder Woman

Sutradara  : Patty Jenkins
Skenario    : Allan Heinberg, based on a story by Zack Snyder, Allan Heinberg, and Jason Fuchs
Berdasarkan karakter ciptaan Willian Moulton Marston dan Harry G.Peter
Pemain      : Gal Gadot, Chris Pine, Robin Wright, Danny Huston, David Thewlis, Connie Nielsen, Elena Anaya
                                       
Akhirnya, muncul juga superhero perempuan itu.

Wonder Woman lahir sebagai film yang menceritakan dirinya sendiri, tanpa embel-embel Superman, Batman dan superhero lelaki  berotot lainnya.

Bagi para fans komik: munculnya film ini menjadi pertengkaran antara penggemar  karya DC Comics dan penggemar komik Marvel di sosial media. Geng  DC Comics tergila-gila memuja-muji setengah mati karena tokoh ini lahir dari komik DC; sementara fans Marvel mencoba memadamkan kegairahan geng DC.

Para penonton film (awam) lelaki kini punya kosa-kata baru: Gal Gadot. Mereka mengucapkannya seperti para senior mereka di tahun 1970-an berbisik lirih tentang tubuh Marlyn Monroe yang sintal sambil plarak-plirik agar jangan terdengar bokin.

Para penonton perempuan mengangkat kepal ke udara karena kali ini seorang tokoh perempuan menghiasi layar lebar, seperti halnya ada sebuah urgensi ketika feminis terkemuka Gloria Steinem memilih tokoh Wonder Women sebagai sampul majalah yang menggebrak dunia: Ms. Magazine.

Sebelum menjadi Wonder Woman, dia adalah Diana, puteri Amazon yang sejak kecil menyaksikan ibunya Hippolyta  (Connie Nielsen) memimpin seisi pulau fantasi Themyscira yang berisi hanya perempuan petarung. 

Daerah terpencil itu dilindungi seusapan kabut sehingga manusia biasa tak akan mampu melihat  pulau fantasi itu secara kasat mata. Diana dewasa (Gal Gadot), yang akhirnya menjadi petarung nyaris tak terkalahkan, di bawah asuhan  Jenderal Antiope (Robin Wright), sang bibik yang percaya Diana akan menjadi seorang pahlawan bagi umat manusia di masa yang akan datang.
                                                                                                                                                                                                                                                                               
Pada penampilannya yang pertama  pada All Star Comics edisi October 1941, Diana  diciptakan dari tanah liat yang dibentuk sebagai patung oleh ratu Hippolyta dan ditiupkan kehidupan oleh Aprhodite, sementara para dewa Yunani lainnya menganugerahkan kekuatan luar biasa padanya. Belakangan, kelahiran Diana 'direvisi' dia adalah puteri dari dewa Zeus dan Hippolyta.


Hidup di pulau fantasi itu segera berakhir ketika seorang pilot Amerika meluncur dan menabrak ‘kabut pelindung’ yang membungkus pulau Themyscira. Maka suasana ethereal itu bertabrakan dengan realita “masa kini” yang menyebabkan adegan layar menjadi absurd.

Tapi ingat, jika tokoh Thor dari dunia Marvel yang mencampur adukkan dunia realita di bumi yang kita tempati dengan tokoh-tokoh pada kerajaan Asgard nun di langit sana, pasti kita  bisa menerima perkawinan dunia realita sang pilot dan pulau fantasi tempat para keturunan dewa Yunani itu berlatih pertempuran.

Begitu saja mereka bertemu. Steve Trevor (Chris Pine) seorang pilot sekaligus intel AS yang menyamar sebagai tentara Jerman adalah lelaki pertama yang pernah dijumpai Diana. Telanjang, lengkap dengan penis yang menurut pengakuan Trevor “saya termasuk di atas rata-rata.” Tapi Diana tak tertarik dengan tubuh lelaki dengan segala ‘perangkat pribadinya’. Dia lebih takjub dengan jam tangan yang dikenakan Trevor, “apaan tu?” .

Trevor baru menyadari betapa dia memang memasuki sebuah dunia fantasi, dan dengan sabar dia menjelaskan segala benda modern, konsep perang modern (pada saa itu, mereka tengah memasuki Perang Dunia I) yang bakal bisa menghancurkan anak-cucu dan kehidupan. Itulah sesuatu yang dikenal Diana: menjaga perdamaian dan menghalau dewa perang Ares.

Maka dengan penuh semangat, Diana mendampingi Trevor , yang kemudian dibantu tiga orang kawannya Sameer (Said Taghmaoui), Charlie (Ewen Bremner), and Chief (Eugene Brave Rock) untuk mencapai dua target: mencegah pasukan Jerman yang bernapsu menggunakan senjata kimia (yang tengah diutak atik dokter Maru di laboratorium) dan kedua: Diana akan menghadapi Jendral Jerman Erich Ludendorff (Danny Huston) yang dia yakini sebagai Ares.

Pada saat Diana memasuki kota London, maka “kehidupan gelap” gaya DC Comic yang selama ini direntangkan Christopher Nolan dalan serial Batman mulai retak. Diana menjadi lucu karena mencoba berbagai kostum seperti yang sudah ditiru berbagai epigon adegan film Pretty Woman.

Diana tak tahu bagaimana mengakomodasi pedang saktinya dengan jas dan rok panjang. Diana juga tak peduli bahwa dia satu-satunya perempuan di antara petinggi militer yang tengah mencoba memutuskan soal gencatan senjata. Pada saatDiana berperan sebagai seorang perempuan yang mempertahankan perdamaian dan penuh empati, Gal Gadot justru tampil alamiah.

Begitu dia ujug-ujug memperoleh tiara –yang bisa berfungsi sebagai bumerang—dan kostum  Wonder Woman lengkap dengan gelang anti peluru dan Lasso of Truth (tali laso emas yang bisa memaksa orang berbicara sejujurnya), maka Gal Gadot mulai menghadapi tantangan: apakah dia harus menampilkan martial art, adegan laga dengan berbagai eskpresinya yang sulit karena berperan di depan layar hijau atau dia harus berpose seperti seorang ratu kecantikan?

Tentu bisa dimaklumi jika kita terlanjur hatuh cinta karena Gadot memang sangat rupawan, tubuhnya sempurna untuk memerankan wonder woman, sosok superheroin yang sudah kita nantikan beberapa dekade. Nama Gal Gadot bahkan menjadi sebuah adjective baru untuk perempuan tercantik, terseksi sekaligus penuh daya.

Tapi, ini tetap sebuah film. Sutradara Patty Jenkins sudah berhasil mencampurkan fantasi dan realita, dan membuat kita percaya sebuah sosok digdaya seperti Diana bisa muncul untuk menghajar kekejian ciptaan dokter Maru. Dia berhasil pula memberikan twist terakhir: siapa penjahat sesungguhnya yang akan dihadapi Wonder Woman.

Problemnya setelah Wonder Woman berhadapan dengan si Jahat, segalanya terasa berkepanjangan dan dipaksakan. Pertarungan berpanjang-panjang seolah ini sebuah perang besar baratayudha,, padahal penonton belum cukup terinvestasi secara emosional dengan kedua tokoh; lantas adegan si Jahat yang sebegitu saktinya semakin terasa konyol karena dia bisa muncul dan menghilang di mana saja.

Belum lagi Wonder Woman yang tak pernah sedikitpun terlihat tergores atau berkeringat setelah perkelahiran yang begitu menyita fisik. Rapi, cantik, rambut licin penuh hairspray dan wajah masih penuh rias seperti keluar dari salon.

Di luar itu semua, film ini tetap sebuah terobosan baru bagi DC Comic yang rupanya sudah berkenalan elemen humor dalam hidup yang gelap (dari sebelah sana, para fans Marvel sedang tertawa terkekeh-kekeh). Film Wonder Woman nampaknya sudah mulai bergeser dari kecenderungan gelap jagat mereka, karena dia adalah sosok yang memperlihatkan optimisme, humor dan empati. Dan tokoh seperti itu nampaknya dibutuhkan setelah begitu banyak kekecewaan yang terjadi di dunia beberapa tahun terakhir, termasuk di Indonesia.
Leila S.Chudori

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru