ISIS Jatuh, Ideologi Berjaya

Kamis, 13 Juli 2017 | 00:48 WIB

Smith Alhadar
Penasihat Indonesian Society for Middle East Studies

Kendati Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) masih bercokol di kota-kota kecil dekat perbatasan Suriah, seperti Tal Afar dan Hawija, kejatuhan Mosul pada 9 Juli 2017 secara simbolis menandai berakhirnya ISIS di Irak. Mosul, kota terbesar kedua setelah Bagdad, adalah ibu kota de facto ISIS di Irak.

Di Suriah, ISIS pun terpukul di berbagai kota. Sejak November 2016, Raqqa, ibu kota de facto ISIS di Suriah, dikepung Pasukan Demokratik Suriah. Diprediksi, Raqqa juga akan jatuh paling lama akhir tahun ini.

Kendati terdesak di Irak dan Suriah, ISIS masih akan merepotkan dunia dalam jangka waktu lama. Selain telah memiliki teritori yang tersebar di berbagai belahan dunia, seperti Mesir, Libya, Nigeria, Yaman, Afganistan, dan Filipina, ISIS memiliki ideologi kuat yang juga telah menyebar ke seluruh dunia melalui Internet.

Ideologi ISIS telah dibangun selama puluhan tahun oleh para pemikir salafi di dunia Islam. Mula-mula oleh pemikir Islam Pakistan, Abul A'la al-Maududi, dengan paham al-hakimiyyah lillah sebagai respons terhadap modernisme yang dipandang tidak sesuai dengan Islam. Maududi menegaskan bahwa kedaulatan adalah milik Allah secara mutlak. Kedaulatan manusia, partai, atau perangkat lain bersifat semu dan hanya pemberian. Kehadiran negara harus diabadikan untuk mewujudkan hukum Tuhan di muka bumi. Negara demikian harus berkonstitusi pada Al-Quran dan sunah. Dengan demikian, ketaatan kepada yang lain adalah syirik. Maududi juga mengecam orang-orang modern yang dituduhnya telah menyelundupkan gagasan-gagasan Barat ke dalam pikiran umat Islam.

Gagasan ini kemudian disempurnakan Sayyid Qutb asal Mesir. Berbeda dengan Maududi yang agak longgar dalam kualifikasi penyelenggaraan negara, Qutb berpendirian bahwa mewujudkan al-hakimiyyah lillah hanya dapat dilakukan dengan mempertemukan strategi dan metode secara holistik. Pendekatan ini dianggap Qutb sebagai satu-satunya cara untuk mewujudkan keimanan secara sempurna dan juga dalam mewujudkan hukum Allah di muka bumi.

Qutb mengkritik pendekatan lain yang masih mengizinkan pendekatan kreasi manusia dalam mewujudkan nilai-nilai ilahi. Bagi Qutb, tak ada cara lain kecuali menolak dunia jahiliyah. Ia menengarai dunia sekarang ini semuanya hidup dalam keadaan jahiliyah. Tatanan kemasyarakatannya tidak satu pun berdasarkan hukum ilahi, maka harus diperangi dengan kekerasan sekalipun. Jihad (berperang) bagi Qutb adalah kewajiban permanen sepanjang hidup seorang muslim.

Kemudian muncul Abdullah Azzam, ulama fikih asal Palestina, yang menjadi panutan kelompok Al-Qaidah. Gagasan jihad Azzam tidaklah berpusat pada penguasa negeri muslim yang dianggap berperilaku jahiliyah. Pusat perhatiannya adalah mengusir orang-orang kafir dari negeri Islam. Pengalaman jihadnya di Afganistan semakin memampatkan pandangannya bahwa musuh Islam adalah orang kafir yang telah menghancurkan Islam, seperti terlihat di Palestina maupun Afganistan. Karena itu, target jihad Azzam tidak lagi dibatasi negara, melainkan semua kawasan yang dulu pernah menikmati daulah Islamiyah era khilafah Islamiyah. Untuk kepentingan berjihad ini, seorang istri tak perlu minta izin suami dan suami tak perlu meminta izin istri. Bahkan jihad (berperang) lebih utama dari berhaji.

Idelogi ini kemudian bersentuhan dengan orang-orang yang berlatar belakang salafi-Wahabi. Komponen Wahabisme yang penting di antaranya hanya berpegang pada ajaran Nabi hingga generasi ketiga. Di luar ini dipandang bid'ah yang harus diperangi, menentang tasauf dan tentu saja kaum sufi, memandang rendah karya seni, serta membatasi kapasitas Islam untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berubah. Tak heran bila kemudian orang-orang ISIS atau salafi-Wahabi yang telah teradikalisasi mengkafirkan semua penguasa muslim tanpa kecuali, termasuk aparat dan simpatisan mereka, kepolisian, militer, dan intelijen di semua negara muslim. ISIS juga menyematkan stigma kafir kepada anggota parlemen, aparat kejaksaan, dan peradilan. Lingkaran takfir dalam pemikiran ISIS merupakan yang terbesar di antara semua kelompok garis keras. Di antara kerancuan paling penting yang dilakukan ISIS adalah aksi pembunuhan terhadap warga sipil. Lebih jauh, ISIS mengeluarkan fatwa eksekusi atas dasar kebangsaan.

Melihat meluasnya ideologi ini dan semakin mudahnya orang mendapatkannya melalui Internet, timbul pesimisme dalam upaya menumpas ISIS dan kelompok radikal lain melalui jalan represif (hard power). Apalagi realitas modern dan hegemoni politik, ekonomi, dan budaya Barat atas dunia Islam yang menjadi raison d'etre munculnya ISIS dan ekstremis lain semakin merajalela. Perlu upaya tak kenal lelah, yang menyeimbangkan antara tindakan hard power dan soft power, untuk menanggulangi ideologi yang memiliki daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang termarginalkan secara ekonomi, terasing secara politik, dan terbelakang secara budaya.

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru