Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Film

Justice League: Pertarungan Tanpa Kejutan

Justice League terlalu panjang menyajikan unsur kedukaan kehilangan Superman. Teruburu-buru memperkenalkan metahuman baru yang terlibat

21 November 2017 | 00.55 WIB

Justice League. JUSTICELEAGUETHEMOVIE.COM
Perbesar
Justice League. JUSTICELEAGUETHEMOVIE.COM

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta -Pasca kematian Superman, dunia seolah timpang, kedukaan di sebuah kota terlihat nyata dengan dibangunnya sebuah memorial, dipenuhi banyak bunga tanda duka. Bahkan koran harian terbit dengan headline ‘Dunia Tanpa Harapan’. Adegan pembuka Justice Legue ini seolah masih melanjutkan atmosfer akhir Batman v Superman: Dawn of Justice.

Baca: Batman di Justice League Nyaris Diperankan Armie Hammer

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Kehidupan Lois Lane, Martha Kent sebagai orang terdekat pun terlihat berubah. Bahkan mereka menjual rumah dengan ladang jagung di tepi kota. Lagu Everybody Knows  milik Leonard Cohen yang dilantunkan Sigrid pun mengiringi suasana duka tersebut.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Kedukaan itu dimaknai lain oleh Batman. Di satu sisi ia menjadi salah satu yang bertarung melawan Superman selain Doomsday, sebelum ia mati. Wonder Woman turut meyakinkan dirinya bukan pembunuh Superman. Kematian seorang jagoan tak bisa terus disesali toh musuh terus hadir. Kali ini kekuatan jahat supervillain  Steppenwolf bersama pasukan Parademons jadi ancaman baru. Namun kemunculannya di film ini hambar. Tentu jauh dari sosok Joker yang masih punya layer dalam karakternya.

Antagonis yang satu ini terkesan hanya muncul untuk mengumpulkan tiga kotak Mother Box yang bisa membantunya membumihanguskan bumi dan menjadikannya sebagai makhluk berkuasa. Dalam masa sebelumnya ketiga otak ini disimpan terpisah di negeri Amazon, Atlantis, dan kaum manusia.

 

Aktris Gal Gadot sebagai Wonder WOman, Ben Affleck sebagai Batman dan Ezra Miller sebagai The Flash dalam syuting film Justice League. Dalam film ini tetap menampilkan pahlawan super Batman dan Wonder Woman walau kurangnya kehadiran Superman. (Clay Enos/Warner Bros. Entertainment Inc. via AP)

Batman sadar ia tak mampu menghadapi musuh seorang diri, kekuatan sosok Wonder Woman pun dianggapnya masih kurang. Manusia kalong dan perempuan tangguh itu kudu mencari tambahan tenaga.

Singkat cerita, Bruce Wayne mulai gerilya mencari metahuman DC Comic seperti Aquaman (Arthur Curry) dan The Flash (Barry Allen). Sedang Diana Prince bertugas mencari Cyborg (Victor Stone). Lewat beberapa adegan akhirnya mereka sepakat untuk bersatu dengan membawa motif-motif personal. Bersama empat jagoan ini, Batman masih merasa belum cukup. Ia berambisi Superman harus bisa dihidupkan lagi.

Saat Superman kembali bangkit, rencana untuk menyatukan kekuatan pun tak bisa dibangun semudah itu. Batman, Wonder Woman, Flash, Aquaman, dan Cyborg mesti jalan lebih dulu menghalau Steppenwolf yang sudah berhasil mengumpulkan ketiga kotak tersebut sampai akhirnya Superman bergabung.

Seperti kisah-kisah sebelumnya, hasil pertarungan antara kekuatan jagoan dan musuh ini cukup bisa diprediksi bahkan pertarungan yang disajikan masih terhitung datar. Padahal harusnya ada enam kekuatan berbeda menghajar satu penjahat dengan serdadu serangga bermata merah.

Melihat jumlah jagoan yang cukup banyak, apalagi ada tiga jagoan baru yang hadir, porsi yang diberikan jadinya sangat singkat menggambarkan kehidupan masing-masing. Berikut soal menjelaskan alasan mereka untuk mau bersatu menerima tawaran Batman. Apalagi durasi Justice League hanya sekitar 120 menit. Ini durasi terpendek ketimbang film DCEU sebelumnya. Batman v Superman: Dawn of Justice yang punya cerita lebih gelap mencapai durasi sampai 153 menit.

Empat jagoan dalam film Justice League (ki-ka) Jason Momoa dalam Aquaman, Gal Gadot dalam Wonder Woman, Ezra Miller dalam The Flash, Ray Fisher dalam Cyborg sata syuting film Justice League yang dirilis oleh Warner Bros di teater. (Warner Bros. Entertainment Inc. via AP)

Karakter lebih banyak sedangkan durasi lebih pendek menghadirkan tantangan tersendiri bagi sutradara. Walau bagaimanapun episode ini adalah tahap perkenalan dan pertemuan awal bersatunya keenam jagoan.

Bagian akhir dari film ini pun memberi tanda bahwa Justice League memang hanya mula. The Flash masih penasaran dan menantang Superman adu cepat. Meski ia tetap konyol karena butah arah.

Aktor Ezra Miller saat memerankan karakter The Flash saat syuting film terbarunya Justice League yang dirilis olwh Warner Bros di teater. The Flash merupakan sebuah karakter pahlawan super yang memiliki kemampuan untuk berlari dan bergerak secepat cahaya petir. (Warner Bros. Entertainment Inc. via AP)

Tapi memang penonton harus berterima kasih kepada Barry Allen, sosok ini sukses mencairkan suasana di antara kekakuan dan keseriusan sebagian besar karakter metahuman di Justice League. The Flash, karakter paling muda ini tampil penuh humor. Dari adegan dirinya mengunjungi sang ayah di penjara, tanpa tedeng aling-aling sepakat bergabung saat Batman datang ke markas kecilnya, atau pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti kekuatan apa yang sebetulnya dimiliki seorang Batman? Dan tentunya dijawab dengan pendek namun angkuh oleh Bruce Wayne dibalik topeng kelelawarnya. Selebihnya, masih banyak hal yang sepertinya kudu DC perbaik untuk sekuel Justice League ini karena dari segi penceritaan dan pengadeganan terasa terburu-buru dan melompat-lompat.

 

Justice League

Sutradara: Zack Snyder

Produser: Charles Roven, Deborah Snyder, Jon Berg, Geoff Johns

Cerita dan Skenario: Chris Terrio, Joss Whedon, Zack Snyder (Berdasarkan komik Justice League karya Gardner Fox)

Produksi: DC Films, RatPac Entertainment, Atlas Entertainment, Cruel and Unusual Films

Distribusi: Warner Bros Pictures)

Pemain: Ben Affleck, Henry Cavill, Gal Gadot, Ezra Miller, Jason Momoa, Ray Fisher, Ciaran Hinds, Amy Adams

Aisha Shaidra

Bergabung di Tempo sejak April 2013. Menulis gaya hidup dan tokoh untuk Koran Tempo dan Tempo.co. Kini, meliput isu ekonomi dan bisnis di majalah Tempo. Bagian dari tim penulis liputan “Jalan Pedang Dai Kampung” yang meraih penghargaan Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2020. Lulusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus