indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Ini Kisah Pelaku Petrus Orde Baru

Ini Kisah Pelaku Petrus Orde Baru

Ilustrasi. tribune.com.pk

TEMPO.CO , Jakarta: Kasus-kasus penembakan misterius (petrus) pada 1982-1985 silam kini jadi bahan pembicaraan lagi. Pekan lalu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemukan ada pelanggaran HAM berat dalam pembunuhan sistematis atas para preman dan orang-orang yang dituduh melakukan kejahatan.

“Temuan ini sudah kami serahkan ke Kejaksaan Agung untuk ditindaklanjuti,” kata Ketua Tim Adhoc Penyelidik Pelanggaran HAM dalam kasus Petrus, Stanley Adi Prasetyo.

Penyelidikan Komnas HAM menemukan bahwa ada indikasi kuat pemerintah Orde Baru sengaja merestui sebuah program pembunuhan massal untuk mengatasi gangguan keamanan kala itu.

Benarkah? Tempo menemukan seorang pria yang disebut-sebut sebagai pelaku pertama operasi petrus di Jawa Tengah.

Namanya M. Hasbi, bekas Komandan Kodim 0734 Yogyakarta. Setelah menjabat komandan militer, dia sempat menjadi Bupati Boyolali sampai 1994. Dia juga sempat menjadi anggota DPRD Jawa Tengah dari Partai Golkar. Kini Hasbi adalah Ketua Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI dan POLRI (Pepabri) Jawa Tengah. Berikut ini petikan wawancaranya:

Apa latar belakang operasi Petrus pada 1980-an?
Kondisi keamanan masyarakat ketika itu sangat terganggu oleh keberadaan para gali. Anda tahu apa itu gali? Gabungan anak liar. Mereka sangat menganggu dan meresahkan masyarakat sehingga harus diberantas. Operasi Petrus itu mulai November 1982, saat saya bertugas di Yogyakarta sebagai Dandim.

Apa buktinya preman kala itu mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat?
Indikasinya sangat jelas, setiap malam hari para mahasiswa di Yogyakarta sudah tak berani keluar karena takut pada gali. Operasi petrus adalah shock therapy supaya tidak ada tindak kejahatan lagi.

Bagaimana awal mulanya Operasi Petrus dijalankan?
Saat kondisi keamanan terganggu, saya melapor ke Pangdam Diponegoro, Pak Ismail. Dia bilang, “Ya sudah diberantas saja.” Saya lalu bilang, “Siap laksanakan.” Saya segera berkoordinasi dengan polisi.

Untuk apa?
Kami membuat daftar nama preman. Sumber datanya berasal dari laporan masyarakat yang kemudian disaring di Badan Koordinasi Intelijen. Badan Koordinasi Intelijen ini berisi intel Kodim, intel polisi serta intel kejaksaan.

Berapa jumlah preman yang masuk dalam daftar Anda?
Saya lupa. Sudah lama kok.

Setelah didaftar lalu bagaimana?
Setelah itu, semua preman yang masuk daftar diumumkan dan dipanggil. Para preman diminta lapor untuk diberi Kartu Tanda Lapor (KTL). Semua preman yang sudah bisa menunjukan KTL akan aman.

Yang tidak bisa menunjukkan KTL?
Ya sesuai standar, ada operasi. Jika premannya malah lari maka diberi tembakan peringatan tiga kali. Jika tetap lari, akan ditembak kakinya. Tapi, kadang-kadang ya, tembakan itu malah kena kepala atau tubuh, karena medannya naik turun atau dia malah merunduk. Itu semua di luar dugaan.

Berapa preman yang tewas dalam operasi ini?
Saya tidak ingat. Sudah lama sekali.

Apakah menurut Anda, penembakan misterius ini melanggar aturan?
Saya kira tidak melanggar. Buktinya, saat itu tak ada reaksi penolakan masyarakat. Gali-gali itu sudah sangat meresahkan masyarakat.

Apakah sekarang Anda menyesal karena berperan menghilangkan nyawa banyak orang?
Waktu itu, ada perintah dari atasan.

Apa kira-kira Pangdam Diponegoro juga mendapat perintah dari atasannya?
Saya tidak tahu, tapi saat itu yang jelas ada operasi Petrus di hampir seluruh wilayah Indonesia. (*)

ROFIUDDIN

Berita Terpopuler:
Disudutkan @cinta8168 di Twitter, Ini Jawaban Ahok

Analis Politik: Isu SARA Jadi Bumerang Foke-Nara

Berapa Harga Emas Olimpiade?

Andi Arief Minta Misbakhun Berkata Jujur

ICW Akan Adukan Hakim Pembebas Misbakhun

Foke Ubah Gaya Kampanye

Misbakhun Ancam Mengadu ke PBB

Teknologi ''Kapal Perang Siluman'' dari Surabaya

Hari Ini, Garuda Lepas Citilink

Terjerat Korupsi, Emir Moeis Dipanggil Megawati

Komentar (8)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
1
18
Saya fikir memang perlu ada lagi petrus, preman2 sekarang sudah kelewat meresahkan masyarakat, kususnya preman2 berjubah yg jelas2 meresahkan masyarakat yang tak sepaham dgn mereka.
0
14
kalau petrus diadakan lagi sangat setuju , supaya ,menghilangkan high cost ekonomi, dan hidup rakyat kita terasa aman, kirim barang keseluruh wilayah indonesia tanpa pengawal,tapi sangat aman,sekarang sampai bingung kalau lihat ulah preman, kok dimanmana begitu banyak , jangan sampai mereka seperti di hongkong,amerika, amerika latin, itali, posisi mafia lebih kuat dari pemerintah.pejabatpun kadang jadi korban dari preman.
0
17
Komnas ham kurang kerjaan.
0
3
stuju klo ada lg,sklian brantas jg preman2 brdasi dan yg mengatasnamakan dan brsmbunyi di ormas. . . .
0
2
petrus juga tuh preman2 kyk jhon key..ormas ormas radikal..biar aman negeri ini...Komnas HAM kelaut aje..urusin kdrt aja lu mendingan
Selanjutnya
; $foto_slide_judul =
Wajib Baca!
X