indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Krisis Pangan Dunia di Depan Mata

Krisis Pangan Dunia di Depan Mata

Tanaman jagung gagal panen akibat kekeringan di Amerika Serikat.

TEMPO.CO , Chicago - Kekeringan yang melanda Amerika Serikat bisa berdampak pada stabilitas pangan dunia. Setelah harga kedelai melambung diikuti jagung yang juga terus naik harganya, kini ketakutan gagal panen gandum membayangi.

Jagung telah hancur saat kekeringan panjang melanda Midwest, AS.

Ketakutan akan pengulangan potensi krisis pangan tahun 2008 meningkat, setelah sebuah laporan pemerintah AS menunjukkan bahwa AS gagal panen aneka komoditas akibat kekeringan.

Harga jagung mencapai rekor tinggi baru hari ini, mencapai lebih dari US$ 8 per bushel (setara 25-an kilogram). Kenaikan harga terakhir kali komoditas ini terjadi empat tahun lalu, dan menyebabkan krisis pangan di negara pengimpornya, antara lain Mesir, India, Indonesia, Meksiko, dan banyak negara lain. Harga jagung telah melonjak lebih dari 60 persen sejak Juni.

USDA mengatakan bahwa kondisi tanaman pada 5 Agustus adalah yang terburuk sejak 1988. Ada juga kekhawatiran bahwa harga gandum bisa melonjak, karena kondisi cuaca panas di Eropa Timur juga berlangsung lama.

Survei Reuters menunjukkan bahwa produksi gandum dunia lebih rendah dari tahun sebelumnya. "Akan menjadi masalah ketika Ukraina, Rusia, dan Kazakhstan memaksakan pembatasan ekspor gandum," kata Carsten Fritsch, seorang analis komoditas di Commerzbank.

Di belahan lain, hujan di bawah rata-rata di India juga menambah kekhawatiran bahwa tanaman biji-bijian global dapat terimbas. "Semua harus bersiap menghadapi kondisi terburuk," kata Fritsch.

REUTERS | TELEGRAPH | TRIP B

Berita lainnya
Kim Jong-un Contek Habis Reformasi Gaya Cina

Bayi Curian Itu Disembunyikan di Tas Tangan

Presiden Korsel Ke Pulau Sengketa, Jepang Marah

Seekor Beruang "Rampok" Toko Permen di Colorado

Sanksi Baru bagi Suriah dan Hizbullah

Ribuan Warga Suriah Mengungsi ke Turki


Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X