indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Wayang Golek, Sarana Kritik Sosial dalam Humor

Wayang Golek, Sarana Kritik Sosial dalam Humor

Wayang golek. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO , Tegal:Pangeran Puger bersimpuh di hadapan Raja SUnan Mas. Ia melaporkan penyelenggaraan ujian nasional di Kerajaan Mataram tahun ini yang dianggap paling amburadul. Puger mempertanyakan percetakan yang dipilih. “Kok tetep bae milih percetakan kuwe? Ndisit kan wes tau bermasalah ing pengadaan surat suara Pemillihan Presiden 2009 (Kenapa tetap memilih percetakan itu? Dulu kan pernah bermasalah)”

Raja Sunan Mas hanya mengangguk. Sang Patih menimpali semestinya KPK masuk, menyelidiki ketidak beresan itu. “KPK mestine manjing, nyelidiki kasus kiye.” Lagi-lagi Sunan Mas mengangguk.

Saat raja hendak bertitah mendadak muncul satu personil grup dangdut Trio Macan yang bergoyang rancak. Suasana alun-alu Tegal segera pecah oleh suara tetabuhan seperangkat gamelan.

Begitu sepenggal alur dalam pertunjukan Wayang Golek di alun-alun Kota Tegal, Sabtu 20 April 2013. Wayang Golek diusung dengan bahasa Tegalan. Ratusan penonton memadati tempat pertunjukan yang baru selesai Ahad 21 April 2013 pukul 03.00. “Kalau dengan Bahasa Jawa yang ndakik-ndakik, penonton di sini cepat bosan karena tidak paham maksudnya,” kata dalang Ki Barep kepada Tempo.

Pertunjukan wayang golek ini merupakan peringatan hari jadi Kota Tegal ke 433. Sang dalang yang bernama asli Ahmad Jamnuri itu mengangkat kisah Babat Tanah Tegal. Kisah ini berlatar pemerintahan kerajaan Mataram setelah Amangkurat I. Namun, dalam pementasannya, dalang asli Kabupaten Tegal itu sengaja menyelipkan kritik sosial yang dikemas dalam humor dan banyolan.

Selain menyoroti bermacam isu nasional, pengelola sanggar seni Sorban Ireng itu mengangkat sejumlah persoalan tingkat lokal. Salah satunya ihwal menjamurnya tempat hiburan malam di Kota Tegal. Banyaknya perempuan pemandu lagu yang bersliweran dengan pakaian minim membuat Kota Bahari ini kerap diplesetkan jadi Kota Birahi.

“Wayang golek memang media paling tepat untuk menyampaikan pesan dan kritik sosial,” ujar Ki Barep. Sebab, guru olahraga di SMK 2 Slawi itu menambahkan, penyampaian kritik tersebut dikemas dalam humor. Sehingga pejabat atau siapapun yang jadi sasaran kritik tidak marah atau tersinggung. “Daripada marah, lebih baik membenahi agar ke depan tidak dikritik lagi.”

Pengamat seni Kota Tegal, Atmo Tan Sidik, mengatakan Ki Barep adalah satu dari dua dalang wayang golek asli Tegal yang sudah dikenal di tingkat nasional. “Satunya lagi Ki Enthus Susmono.” Dalam peringatan Hari Jadi Kota Tegal ke 428, 2008 silam, Atmo menerangkan, Ki Barep menyabet rekor MURI karena pementasan wayang yang diiringi kolaborasi berbagai jenis musik.

Meski berkonsentrasi di pagelaran wayang golek khas Tegalan, Ki Barep sejatinya berangkat dari pakeliran wayang kulit. Ki Barep kondang sebagai dalang yang mendobrak kemapanan. Selain kerap menyentil pejabat bermasalah, laki-laki 49 tahun itu dikenal sebagai pencipta wayang rock, wayang batok, wayang sholawat, wayang slumpring, hingga wayang dari limbah.

DINDA LEO LISTY

Topik Hangat:
Ujian Nasional | Bom Boston | Lion Air Jatuh | Preman Yogya | Prahara Demokrat

Berita Terpopuler:

Kena Gusur, Warga Waduk Pluit Marah kepada Jokowi

Begini Tampang Tersangka Bom Boston Sesuai CCTV

Lion Air Jatuh, Boeing Beri Penghargaan Pilot


Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X