Pesawat Marta Buana Air Terpental di Sentani

Pesawat Marta Buana Air Terpental di Sentani

Pesawat di Bandara Udara Sentani, Jayapura, Papua, (15/6). TEMPO/Arif Fadillah

TEMPO.CO, Jakarta - Insiden kecelakaan pesawat kembali terjadi di Papua. Kali ini kecelakaan menimpa pesawat angkut yang dioperasikan Marta Buana Air di Bandara Sentani, Jayapura.

Menurut Direktur Keselamatan dan Standar Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI), Wisnu Darjono, pesawat bernomor registrasi PK-HVA itu terpental dan mengalami patah roda sebelah kanan. Dia mengatakan pesawat nahas tersebut hendak mendarat di runway nomor 12, namun posisi badannya belum siap sehingga akhirnya melenceng ke luar landasan.

Wisnu mengatakan saat ini pesawat berada di luar landasan, sementara ujung sayap kirinya masih tergeletak di atas runway atau landasan pacu. Beruntung, insiden tersebut tidak memakan korban. "Hanya kerusakan di bagian roda," kata dia kepada Tempo, Kamis, 20 Juni 2013.

Pada Jumat, 31 Mei 2013, sebuah pesawat angkut barang (kargo) milik PT Deraya Air Service mengalami kecelakaan di Bandara Wamena, Papua. Pesawat bernomor PK-DGI itu mengalami patah roda setelah tergelincir dan ke luar landasan. Pesawat tersebut berangkat dari Bandara Sentani, Jayapura. Saat mendarat di runway 15 pada pukul 07.09 WIT, pergerakan pesawat tampak normal.

Namun, selang beberapa detik setelah menyentuh landasan, pesawat tersebut tiba-tiba melambung ke kiri. Burung besi nahas itu pun tergelincir ke luar landasan hingga 100 meter. Kejadian ini tidak menelan korban. Pilot Hadi Marsono dan dua kru selamat.

MARIA YUNIAR





Terpopuler

Ini Bukti SMS Kasus Cebongan Terencana

Setengah Tahun Jokowi, 40 Persen Sungai Dikeruk

Cara Jokowi-Ahok Taklukkan Wakil Rakyat

Disadap, Indonesia Minta Penjelasan Inggris

Ini Masukan Radja Nainggolan untuk Timnas U-23

Beredar Kabar, Sabtu Harga Harga BBM Mulai Naik

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X