Lurah Susan, Sengatan Matahari dan Bakso

Lurah Susan, Sengatan Matahari dan Bakso

Lurah Lenteng Agung, Susan Jasmine Zulkifli saat menjawab pertanyaan wartawan di ruangannya, Jakarta (26/8). Lurah tersebut di tolak warga Lenteng Agung karena menganut agama yang berbeda dengan mayoritas warganya. Tempo/Aditia Noviansyah

TEMPO.CO, Jakarta--Setelah menyaksikan renovasi di Taman Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Lurah Susan makan siang di areal ruang terbuka hijau itu, Kamis, 29 Agustus 2013. Lurah Susan makan bareng dengan staf kelurahan, Camat Jagakarsa, Hasril, dan para wartawan.

Makan siang itu digelar di atas dua tikar. Ada dua menu makanan yang disajikan. Nasi bungkus dan bakso. Lurah Susan pun memilih makanan yang disebutkan terakhir. "Saya makan bakso aja," ujar Lurah yang tengah menggunakan topi dinas, batik warna cokelat dipadu dengan celana panjang berwarna putih itu.

Sebelum menyantap bakso, Lurah Susan memasukkan kecap dan sambal. Berdasarkan pantauan, Lurah yang berdomisili di Gondangdia, Jakarta Pusat, itu begitu lahap menyantap makanan berbahan dasar daging itu. Tak ada satu pun bakso yang tersisa di dalam mangkok.

Acara makan siang itu pun diselingi dengan canda dan gelak tawa. Lantaran sinar matahari begitu terik, Lurah Susan mengeluarkan sebuah lelucon, "Matiin deh lampunya," ujar perempuan yang menggunakan cincin bermahkotakan batu warna hijau di jari telunjuk kirinya itu sembari tertawa.

Setelah melahap satu porsi bakso, Lurah Susan minum sebotol minuman bercita rasa teh. Lurah Susan pun beberapa kali meminta para wartawan untuk makan lagi. Tak hanya wartawan, dia juga menawarkan kepada Camat Hasril. "Pak camat mau bakso lagi?"

Lurah Susan berkunjung ke Taman Lenteng Agung sekitar jam 12 siang. Dia ingin melihat sejauh mana perkembangan dari renovasi. Saat itu, para tukang sedang mengecat sejumlah fasilitas taman seperti bangku dan area bermain. "Itu baru dicat," katanya. "Warnanya masih kurang bagus."

Lurah Susan didemo oleh ratusan pengunjuk rasa yang menamakan diri Forum Penolakan Warga terhadap Penempatan Lurah Lenteng Agung. Mereka meminta Lurah Susan mundur dari jabatannya karena dianggap tak mewakili karakteristik masyarakat Lenteng Agung yang mayoritas muslim.

SINGGIH SOARES

Terhangat:
Lurah Lenteng Agung | Pilkada Jatim | Konvensi Partai Demokrat


Berita terkait:

Didemo Warga, Keluarga Lurah Susan Santai Saja

Cara Ahok Menilai Kinerja Lurah dan Camat

Pendemo: Rotasi Lurah Susan, Jokowi Masuk Surga

Demo Lurah Susan Digerakkan Dua Tokoh Ini

Komentar (3)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
1
Bu lurah, jangan ciut, tetap semangat. Tidak ada pengabdian yg sia-sia.
0
2
..selamat berkarya bu lurah. Anda adalah ujung tombak perubahan yg menjadi misi duo DKI. Bekerja amanah sesuai kebijakan yg digariskan adalah jauh lebih efisien utk menjawab semua apriori dan 'ketidakrelaan' segelintir warga anda.
11
5
ini NKRI bung,....harga mati, kalau mau syariat dipimpin oleh ukuahnya silahkan anda kemesir , suriah libanon, irak, afgan, pakistan, mali, somallia, tunisia, atau sudan dan bahrain pasti sesuai dengan keinginan anda anda yang sama ukuahnya: NEGARA ITU DAMAI, NEGARA ITU MENGHARGAI KEHIDUPAN SOSIAL TOLERANSI HAM, NEGARA ITU SANGAT SEJAHTERA DAN NEGARA ITU KEHIDUPAN EKONOMINYA MAJU coba kalau dipimpin kafier: swiserland, jerman, paris, inggris, ausisie, kanada,spain, di negara ini pasti banyak dilaknati aulloh makanya saling bunuh, marak pemerkosaaan, korupsi, peperangan, saling mengkafirkan dan sellu menghantupkan kepala dilantai sampai hitam ...nah jadi asumsi itu sesuaikan dengan ukuah anda
Wajib Baca!
X