Scroll ke bawah untuk membaca berita

Logo
Arsip

Membatasi Beban Perut Pasca Lebaran

Berpuasa enam hari pada Syawal membantu adaptasi saluran pencernaan.

22 Juli 2015 | 14.28 WIB

Lemak sapi, salah satu resep penyedap rendang Ibu Fahdia. TEMPO/Aditia Noviansyah
Perbesar
Lemak sapi, salah satu resep penyedap rendang Ibu Fahdia. TEMPO/Aditia Noviansyah

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo

TEMPO.CO, Makassar - Saat Idul Fitri, tentu ada banyak makanan yang menggoda lidah. Sebut saja opor ayam dan rendang daging.

Menikmati makanan-makanan tersebut boleh-boleh saja. Tapi kebiasaan makan terbatas saat Ramadan menuntut tubuh beradaptasi di hari-hari normal. ”Selama bulan puasa, saluran pencernaan kita terbiasa kosong. Tubuh pun beradaptasi dalam kondisi kurang makan,” kata Dzul Ikram, dokter yang tergabung dalam Tim Bantuan Medis 110 Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, seperti ditulis Koran Tempo Makassar, Selasa, 21 Juli 2015.

Sebagai permulaan pasca puasa, menurut Dzul, sebaiknya kita makan dengan perlahan. ”Sebab, tubuh akan kaget ketika kita mengkonsumsi banyak makanan,” ujar dia. Selain itu, bisa membuat perut terasa kembung, kekenyangan, dan pastinya berat badan bertambah.

Menurut dia, pola makan perlu kembali diatur agar pencernaan bisa menyesuaikan dengan porsi normal, seperti sebelum memasuki Ramadan. ”Seperti anjuran Nabi, sepertiga makanan, sepertiga minuman, sepertiga udara di dalam perut. Itu prinsip sehat yang paling ideal untuk diikuti.”

Setelah Ramadan dan Lebaran, Dzul melanjutkan, kita bisa kembali berpuasa pada Syawal agar saluran pencernaan beradaptasi secara bertahap. Puasa sunah enam hari ini, selain ibadah, dapat membantu perubahan pola makan dan tubuh agar punya waktu beradaptasi terhadap pola makan yang berubah.

Dia juga menganjurkan agar tidak berlebihan mengkonsumsi minuman berwarna. Sebab, gula pada minuman seperti sirop bersifat cepat diserap. ”Yang kita butuhkan untuk kalori sehari-hari adalah kalori kompleks. Misalnya nasi yang gulanya lama dicerna.”

Dokter gizi klinik Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, A. Yasmin Syauki, mengatakan hal yang ditakutkan saat Lebaran adalah makanan dengan lemak tinggi, seperti daging, serta makanan berkarbohidrat tinggi, seperti ketupat atau kue kering dan kue basah dari tepung. “Kalau makan daging selama berhari-hari setelah Ramadan, tetap harus ada sayur dan buah,” katanya.

REZKI ALVIONITASARI | IRMAWATI

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Mohammad Reza Maulana

Mohammad Reza Maulana

Bergabung dengan Tempo sejak 2005 setelah lulus dari Hubungan Internasional FISIP UI. Saat ini memimpin desk Urban di Koran Tempo. Salah satu tulisan editorialnya di Koran Tempo meraih PWI Jaya Award 2019. Menikmati PlayStation di waktu senggang.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus