Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Aceh Singkil -Jemaat Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI) Desa Suka Makmur Kecamatan Gunung Meriah yang dibakar massa pada Selasa, 13 Oktober 2015, lalu menggelar peribadatan di bawah tenda darurat hari ini, 18 Oktober 2015. Tenda darurat digelar di samping kanan bangunan gereja yang sudah hangus terbakar.
S. Berutu, 35 tahun, warga setempat yang juga jemaat gereja, mengatakan walaupun kondisi rumah ibadah telah rata dengan tanah, aktivitas peribadatan tetap mereka ikuti seperti biasa. "Saya tidak takut. Saya percaya kepada aparat keamanan dan percaya kepada tuhan," katanya.
Puluhan kursi plastik warna biru tersusun berjejeran di tenda darurat tersebut. Satu buah alat pengeras suara juga telah disiapkan. Mereka menggelar peribadabatan pertama setelah gedung Gereja HKI itu dibakar sekelompok orang pada, Selasa, 13 Oktober 2015.
Pasca insiden pembakaran gereja HKI Desa Suka Makmur Kecamatan Gunung Meriah, aktivitas warga desa yang berpopulasi penduduk 60 persen Kristen dan 40 persen Islam itu biasa saja. Tidak ada gejolak di tengah warga. Mereka masih bisa hidup berdampingan. “Yang masalah kan izinnya bukan orangnya,” ujar Sekretaris Desa Suka Makmur Tinuyanti kepada Tempo.
Di desa yang berpenduduk 2.523 jiwa itu, selain memiliki 1 Gereja HKI, juga memiliki dua gereja Kristen lainnya. Di sana juga memiliki satu masjid, dan tiga surau.
Kerusuhan di Aceh Singkil terjadi pada Selasa pekan lalu. Ketika itu, sekelompok orang membakar Gereja Huria Kristen Indonesia Desa Suka Makmur, Kecamatan Gunung Meriah. Setelah itu, massa berupaya membakar Gereja GKKPD di Desa Dangguran, Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil. Namun, mereka mendapat perlawanan dari orang-orang yang menjaga gereja tersebut. Orang yang menjaga gereja melawan dengan senjata penembak babi. Akibatnya, 1 orang tewas dan tiga lainnya dirawat.
IMRAN MA
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini