Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Bengkulu - Perusahaan milik Chairul Tanjung, PT Mega Corpora, akan menggelontorkan sejumlah dana untuk memenuhi modal inti Bank Bengkulu dalam beberapa tahap. Hal tersebut disampaikan oleh Komisaris Utama Bank Bengkulu, Ridwan Nurazi.
Untuk tahap pertama, kata Ridwan, PT Mega Corpora akan membeli saham Bank Bengkulu senilai Rp 100 miliar dan tahap berikutnya akan disalurkan pada April 2021. "Senin depan kami akan menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) dan disana akan ditentukan segala macam. Sekitar dua tiga hari setelah itu uangnya akan masuk," kata Ridwan, Selasa, 17 November 2020.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ridwan menjelaskan, kerja sama antara Bank Bengkulu dan PT Mega Corpora adalah salah satu langkah yang dilakukan pihaknya agar bisa memenuhi modal inti bank sehingga statusnya bisa masuk menjadi bank umum kegiatan usaha II atau BUKU II.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Adapun syarat yang harus dipenuhi agar bisa masuk kelompok BUKU II adalah memiliki modal inti Rp 1 triliun - 5 triliun. Selain menggandeng PT Mega Corpora, kata Ridwan, Bank Bengkulu juga menjual saham seri B ke beberapa perusahaan besar di Bengkulu.
Ridwan juga mengaku belakangan sempat ada isu yang menyebutkan Bank Bengkulu bakal turun kasta menjadi Bank Perkreditan Rakyat atau BPR karena kekurangan modal inti. Akibat isu terkait modal inti bank itu pula, sejumlah nasabah sempat panik dan menarik uangnya dari bank tersebut.
"Karena isu itu, ada beberapa nasabah kita sudah narik duit-nya dari Bank Bengkulu karena dikira akan menjadi BPR betulan. Jadi itu tidak benar dan dijamin Bank Bengkulu tidak akan turun menjadi BPR," kata Ridwan.
Ridwan pun meminta nasabah Bank Bengkulu tetap tenang dan tidak mempercayai isu yang muncul. Saat ini, kata Ridwan, Bank Bengkulu masih kekurangan modal sekitar Rp 134 miliar untuk mencukupi modal inti sesuai dengan peraturan OJK nomor 12/POJK.03/2020 tentang konsolidasi bank umum.
"Di tahun berikutnya itu harus Rp 2 triliun, tahun berikutnya lagi harus Rp 3 triliun," ucap Ridwan. "Untuk ini saja kita sudah pontang-panting. Tetapi nanti ada yang namanya KUB kelompok usaha bank."
ANTARA