Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Kesehatan

Empat Masalah Utama Diabetes di Indonesia, ini Penanganannya

Simposium Hari Diabates Sedunia 2017 membahas cara menekan diabetes dengan mengutamakan penanganan di pelayanan kesehatan tingkat pertama.

30 November 2017 | 09.15 WIB

Prosesi peluncuran program Indonesia Mampu - Cegah Diabetes dan Hipertensi yang diresmikan oleh (dari kiri ke kanan), Morten Vaupel, Vice President & General Manager Novo Nordisk Indonesia; Lars Rokke Rasmusen, Perdana Menteri Denmark;  Nila F Moeloek, Menteri Kesehatan RI; Rasmus Abildgaard Kristensen, Ambasador Kedutaan Besar Denmark untuk Indonesia; dr. Untung Suseno Sutarjo, M. Kes, Sekretaris Jenderal, Kementerian Kesehatan/Novo Nordisk
Perbesar
Prosesi peluncuran program Indonesia Mampu - Cegah Diabetes dan Hipertensi yang diresmikan oleh (dari kiri ke kanan), Morten Vaupel, Vice President & General Manager Novo Nordisk Indonesia; Lars Rokke Rasmusen, Perdana Menteri Denmark; Nila F Moeloek, Menteri Kesehatan RI; Rasmus Abildgaard Kristensen, Ambasador Kedutaan Besar Denmark untuk Indonesia; dr. Untung Suseno Sutarjo, M. Kes, Sekretaris Jenderal, Kementerian Kesehatan/Novo Nordisk

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta -  Corporate Vice President of Oceania and Southeast Asia, Novo Nordisk, Sebnem Avsar Tuna mengatakan ada empat hal utama yang menjadi masalah dalam menangani penyakit diabetes di Indonesia. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

“Berdasarkan Blueprint for Change di tahun 2013 kami menemukan empat isu utama diabetes yang terjadi di Indonesia,” kata Sebnem pada acara Simposium Hari Diabetes Sedunia 2017 dengan tema Konsistensi Dukungan Novo Nordisk dalam Kegiatan Advokasi Kesehatan untuk Pencegahan dan Perawatan Diabetes Yang Lebih Baik di Ritz Carlton Jakarta Rabu 27 November 2017.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Pertama, rendahnya kesadaran masyarakat terkait dengan penyakit diabetes secara menyeluruh. Kedua, ketidakseimbangan pasokan maupun permintaan akan layanan kesehatan akibat populasi pasien yang menyebar dan dihadapkan dengan spesialis penyakit diabetes yang sangat terbatas. Ketiga, kurangnya sumber daya dalam sistem kesehatan masyarakat di Indonesia. Terakhir, masih rendahnya jumlah masyarakat yang menerima pengobatan dan insulin yang tepat sehingga mengakibatkan minimnya kualitas pengobatan diabetes. “Dengan mempelajari keempat isu utama tersebut, kami yakin dapat membantu menurunkan jumlah kasus diabetes di Indonesia,” kata Sebnem. Baca: 16 Catatan Bondan Winarno tentang Fakta Penyakitnya

Dalam gelaran simposium yang dihadiri oleh Menteri Kesehatan serta para Pejabat Eselon 1 dan 2 di Lingkungan Kementerian Kesehatan, Hari Diabetes Sedunia 2017 mengusung tema - Woman and Diabetes, Our Right to a Healthy Future. Tema tersebut dipilih karena dewasa ini ada lebih dari 199 juta wanita yang hidup dengan diabetes di dunia dan diproyeksikan akan meningkat menjadi 313 juta pada tahun 2040. Selain itu, diabetes merupakan penyebab utama kematian ke-9 pada wanita di dunia dengan 2,1 juta kematian setiap tahunnya. Artinya, ada 1 di antara 7 kelahiran dipengaruhi oleh Diabetes Gestasional.

Dengan mempertimbangkan terjadinya kondisi itu, Novo Nordisk menganjurkan pencegahan dan pengobatan diabetes yang lebih baik terutama di Indonesia melalui 4 pilar, yaitu kolaborasi dengan pemerintah, peningkatan kapasitas profesional kesehatan, edukasi terhadap pasien, dan peningkatan Kesadaran akan penyakit Diabetes. “Di Indonesia, kami berupaya untuk bermitra dengan Kementerian Kesehatan, Pemerintah Daerah, dan juga para pembuat kebijakan lainnya dalam memerangi diabetes,” kata Sebnem Avsar Tuna.

Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah bekerja sama dengan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia dan Steno Diabetes Center, mengembangkan sebuah program pelatihan untuk memperbaiki akses terhadap perawatan yang berkualitas tinggi. Dengan kegiatan yang berfokus pada pengobatan, asupan nutrisi dan olahraga secara holistik. Program INSPIRE atau pelatihan kepada juga memberikan pengetahuan kepada dokter umum dan internis untuk mengatasi penyakit diabetes. “Sejauh ini, lebih dari 5.000 dokter di Indonesia telah mengikuti pelatihan program pendidikan,” kata Sebnem. Baca: Bondan Winarno Sakit Katup Jantung, Apa Masalah Umumnya?

Kedua adalah program mentorship yaitu terus mendukung penurunan jumlah penderita diabetes pada tahap awal dengan meningkatkan pengetahuan dokter umum di klinik & fasilitas pelayanan kesehatan primer. Dimana tujuan selanjutnya untuk membantu menurunkan beban pengeluaran secara nasional yang disebabkan oleh tingginya tingkat pasien diabetes. Antara bulan Maret dan Agustus 2017 lebih dari 270 Klinik & Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer telah terjangkau dan 500 dokter terlatih dalam program ini.

Langkah ketiga juga bisa bermitra dengan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Kantor Wakil Presiden Republik Indonesia guna memperkuat modul promosi dan pencegahan diabetes dan hipertensi di Pos Pembinaan Terpadu untuk Penyakit Tidak Menular. Program ini bertujuan untuk mendorong mobilisasi masyarakat mengunjungi klinik dan fasilitas pelayanan kesehatan primer untuk pemeriksaan rutin. “Proyek percontohan ini telah dilaksanakan di Desa Sekarwangi - Bandung, Jawa Barat pada tanggal 23 - 28 Oktober 2017, yang menargetkan lebih dari 5.000 orang untuk melakukan pemeriksaan kesehatan untuk diabetes dan hipertensi,” kata Sebnem.

Terakhir adalah mendukung kegiatan Program Pengelolaan Penyakit Kronis di Puskesmas. Telah banyak pasien yang mengikuti pelatihan dan akan banyak lagi yang akan berpartisipasi. Kami melakukan diagnosa dini dengan tes Hba1c, meningkatkan pengetahuan pasien tentang diabetes dan komplikasinya, dan pengobatan yang tepat tepat untuk kondisi tersebut.

Dalam upaya menurunkan beban biaya kesehatan akibat penyakit komplikasi yang bermula dari diabetes, beberapa negara, sesuai dengan rekomendasi dari IDF telah melakukan upaya-upaya salah satunya dengan memperkuat peranan faskes pelayanan primer. Novo Nordisk yakin metode ini juga dapat mengurangi beban biaya kesehatan negara.

“Kami percaya bahwa dengan kerjasama antar lintas pemangku kepentingan untuk memperkuat peran perawatan primer dalam mengelola perawatan diabetes, dapat mengurangi beban biaya untuk komplikasi diabetes. Dimana pada akhirnya akan menciptakan keberlanjutan Sistem Kesehatan Nasional di Indonesia,” kata Sebnem Avsar Tuna.

General Manager Novo Nordisk, Morten Vaupel pun membenarkan Sebnem. Morten mengatakan penguatan fasilitas kesehatan dasar adalah hal yang utama. “Peningkatan kesehatan dasar sudah pernah dilakukan Denmark dan negara-negara di Eropa selama 20 tahun terkahir. Hal ini pun dilakukan di Meksiko yang memiliki latar belakang negara mirip dengan Indonesia,” katanya.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus