Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Yogyakarta - Kabupaten Sleman masih menjadi salah satu destinasi terfavorit di Daerah Istimewa Yogyakarta setiap tahun. Tak hanya kaya wisata alam dan desa wisata, Sleman juga mengalami pertumbuhan pesat destinasi-destinasi buatan dalam tiga tahun terakhir.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Pertumbuhan wisata di Sleman yang gencar belakangan ini butuh didukung pelaku-pelaku usaha baru terutama sektor kuliner," kata Kepala Dinas Pendidikan Sleman, Ery Widaryana di sela membuka Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) 2024 yang digelar Direktorat Kursus dan Pelatihan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi di Sleman pada Selasa, 9 Juli 2024.
Sasar Kelompok Putus Sekolah
Ery mengatakan, saat ini Sleman masih memiliki kalangan muda yang sebenarnya masuk usia sekolah, namun sudah tidak melanjutkan bersekolah. Kelompok inilah yang ditargetkan mendapatkan pelatihan, pendampingan dan terjun berwirausaha di bidang kuliner itu.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Jadi ada yang memang sudah putus sekolah, atau tidak melanjutkan sekolah, itu difasilitasi pelatihan dengan melibatkan pengusaha kuliner yang sudah mapan,” ujar Ery.
Sebanyak 40-an anak muda itu selama 50 hari ke depan, mulai Juli hingga Agustus 2024, dilatih langsung praktisi kuliner antara lain dari koki-koki hotel bintang 5, kelompok usaha katering dan restoran kenamaan di Sleman. Pelatihan mereka dipusatkan di Lembaga Budi Mulia Dua Culinary School Sleman.
"Setelah mereka selesai pelatihan, kami berkoordinasi dengan Dinas UMKM Sleman untuk membantu zona wisata mana yang bisa mereka rintis sesuai minatnya," kata dia.
Fokus pada street food
Adapun Pimpinan Budi Mulia Dua Culinary School Ani Syafaatun mengatakan pelatihan ini sifatnya gratis.
"Para peserta mendapatkan pendampingan agar bisa mengembangkan usaha, khususnya pada bidang kuliner street food," kata dia.
Fokus pada bidang street food atau jajanan jalanan ini bukan tanpa alasan.
Ani mengatakan berdasar analisis pasar, peluang street food tinggi, potensial, mudah dipelajari, dan alat sederhana sehingga cocok diterapkan sebagai usaha kuliner rintisan.
"Street food ini makanannya lebih familiar dengan selera wisatawan yang berasal dari berbagai daerah, jadi pasarnya lebih luas, sebagai pendamping kuliner tradisional yang sudah cukup banyak," kata dia.
Hana, 20 tahun, salah satu siswa peserta pelatihan menuturkan memilih berfokus pada kelas pembuatan kreasi kue atau cake dalam kegiatan itu.
"Untuk jajanan cake pasarnya cukup luas dan pembuatannya juga relatif lebih mudah," ujarnya.
Dinas Pariwisata Sleman mencatat perputaran uang wisatawan yang berkunjung ke Sleman, Yogyakarta pada momen libur lebaran 2022 saja sekitar Rp1,2 triliun. Dari jumlah itu, 48,79 persennya dibelanjakan pada sektor kuliner atau kurang lebih Rp 595,7 miliar.