Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengklaim bahwa orang Yahudi tidak dianiaya karena agama ketika peristiwa holocaust terjadi. Namun, argumen Abbas ketika pidato tersebut mendapatkan kecaman dari beberapa negara.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Setelah cuplikan pidato tersebut diterjemahkan dan disebarkan secara online oleh Institut Penelitian Media Timur Tengah (MEMRI), Kementerian Luar Negeri Israel menuduh Abbas menyangkal terjadinya holocaust. Selain Israel, Jerman, Amerika Serikat (AS), dan Prancis juga mengecam pernyataan Abbas.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Profil Mahmoud Abbas
Mahmoud Abbas lahir pada 1935 di Safed, Palestina (sekarang di Israel). Ia merupakan sarjana hukum dari Universitas Damaskus. Pada 1950-an, ia bergabung dengan pegawai negeri Qatar dan membangun jaringan individu serta kelompok Palestina. Pada 1961, ia direkrut Yasser Arafat menjadi anggota awal Fatah, pelopor perjuangan bersenjata Palestina dan mendominasi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).
Sebagai menjadi Kepala Departemen Internasional PLO pada akhir 1970-an, Abbas berkontribusi penting dalam berhubungan dengan kelompok perdamaian Israel. Pada 1982, ia dianugerahi gelar doktor usai mempertahankan disertasi di Institut Studi Oriental, Moskow. Abbas juga menjadi anggota senior delegasi Palestina ke pembicaraan damai Camp David pada Juli 2000. Ia menentang pemberontakan kekerasan Palestina atau intifada kedua.
Pada 2003, Abbas diangkat sebagai perdana menteri Palestina sebagai upaya menghindari Arafat yang dianggap penghalang perdamaian Israel dan AS. Sebagai perdana menteri, ia mengecam terorisme, menyerukan berakhirnya intifada, dan menciptakan angkatan bersenjata Palestina. Namun, ia mengundurkan diri dari jabatannya karena dirinya telah dirusak Israel, AS, dan Arafat.
Mengacu Britannica, setelah kematian Arafat pada November 2004, Abbas ditunjuk sebagai Kepala PLO. Kemudian, pada Januari 2005, ia memenangkan pemilihan sebagai Presiden Palestina. Pada 2006, ia terpaksa menghadapi perpecahan di wilayah Palestina setelah kandidat yang didukung Hamas memenangkan pemilihan legislatif. Pemerintah persatuan Fatah-Hamas yang berumur pendek memberi jalan kepada kekerasan.
Abbas juga menghadapi kritik dari rakyatnya sendiri karena mengabaikan Jalur Gaza. Selama berkonflik dengan Israel pada 2008, ia dituduh lambat mengutuk serangan di Jalur Gaza, meskipun akhirnya mengerahkan Hamas. Selain itu, rakyatnya menilai bahwa tindakan Abbas mencerminkan pemimpin otoriter, terutama ketika pemilihan legislatif.
Pada 2008, ketika bernegosiasi, Perdana Menteri Israel Ehud Barak menawari Abbas lebih dari 93 persen wilayah yang diklaim Palestina di Tepi Barat dan kedua belah pihak setuju. Namun, ketika pergantian kepemimpinan, Netanyahu menolak kesepakatan tersebut.
Berdasarkan aljazeera, pada 2017, Abbas memprotes tindakan keamanan baru Israel di kompleks al-Aqsa. Ia pun melakukan penangguhan semua kontak dengan Israel di semua tingkatan sampai Israel membatalkan tindakannya di Masjid Al-Aqsa. Ia juga mempertahankan status quo sampai sekarang.
Dengan gaya kepemimpinan sebagai Presiden Palestina, Mahmoud Abbas terkenal sebagai sosok intelektual dan pragmatis. Namun, selain menjadi presiden, ia juga telah menulis banyak buku. Pada kehidupan pribadinya, ua menikah dengan Amina Abbas dan dikaruniai tiga orang putra.
Pilihan Editor: Mengenal Holocaust yang Disebut Presiden Palestina Mahmoud Abbas