Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta -Lemparkan sebuah pertanyaan kepada anak milenial kelahiran akhir 90-an siapa yang pernah mendengar nama Enny Arrow? Nyaris tak ada yang tahu. Lain cerita kala pertanyaan serupa diajukan kepada kelompok usia di atas mereka.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Wah stensilan zaman kecil, pernah dengar tapi enggak tahu pasti itu siapa kayaknya nama pena, itu pengarang hits pada zamannya,” berbagai celetukan dan komentar bermunculan di beberapa grup Whatsapp.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Malah ada yang lantas sempat bercerita sedikit pengalaman membaca karya stensilan tersebut sembunyi-sembunyi. Atau ada juga yang ditawari buku tersebut oleh pedagang buku bekas di kawasan Cikapundung, Bandung.
Novel Enny Arrow merupakan stensilan mesum yang populer pada 1980-1990-an. Kala itu, ia menjadi barang paling diburu di lapak-lapak buku emperan di kawasan Pasar Senen dan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Penjualannya tak terbendung meski dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Kendati popularitasnya tinggi, penulis novel erotis itu hingga kini masih misterius. Siapa dia? Apakah Enny Arrow adalah seorang pengarang yang memang hanya menulis atas nama Enny Arrow? Ataukah Enny Arrow sebuah nama "generik" yang dicantumkan para pedagang lapak sebagai trade mark setiap stensilan mesum, sementara pengarangnya sesungguhnya bisa siapa saja?
Pada Juli lalu, dua dekade setelah "era kejayaan" stensilan mesum itu, sebuah diskusi tentang Enny Arrow di Semarang dilarang polisi karena dianggap mengandung unsur pornografi.
Novel itu merupakan stensilan mesum yang populer pada 1980-1990-an. Sebagai bacaan mesum, cerita-cerita dalam novel Enny Arrow memang selalu menonjolkan adegan ranjang, meski judul pada setiap terbitannya berbeda. Dalam novel Enny Arrow, adegan seks dituliskan secara vulgar. Tujuannya memancing gairah seksual pembaca.
Dalam novel berjudul Selembut Sutra misalnya, terdapat adegan ranjang yang dideskripsikan secara detail. Begitu pula saat menggambarkan bentuk tubuh serta organ vital laki-laki dan perempuan. Bahkan, guna melengkapi imajinasi pembaca, muncul berbagai kata yang menggambarkan suara desahan perempuan. Misalnya auwww, hsssh, atau hmmmhhh.
Begitulah novel Enny Arrow. Pada 25 Juli lalu, sebuah diskusi tentang Enny Arrow rencananya digelar di Kopium Kafe, Semarang, Jawa Tengah. Acara berjudul "Diskusi Sastra Erotika, Membaca Enny Arrow" itu digagas sejumlah komunitas sastra, yaitu Komite Sastra Dewan Kesenian Semarang, Openmind Community, dan Surau Kami. Tujuannya menepis pandangan tentang novel Enny Arrow yang dianggap hanya berisi tulisan cabul. "Padahal Enny Arrow tidak sesempit itu," kata panitia diskusi, Audrian Firhannusa, pada akhir September lalu.
Menurut Audrian, perkembangan novel Enny Arrow punya nilai sejarah dan memiliki dampak terhadap kehidupan sosial-budaya masyarakat. "Teks penyusun ceritanya juga bermuatan sastrawi dan linguistik," ujarnya. Karena itu, diskusi tersebut berupaya menampilkan pemahaman yang utuh tentang Enny Arrow melalui pembahasan yang tak hanya melihat cerita mesumnya.
Namun diskusi terbuka itu urung digelar karena polisi melarangnya. Selain dianggap belum mengantongi izin, polisi menilai diskusi itu mengandung unsur pornografi dan berpotensi menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Diskusi waktu itu memang batal, tapi akhirnya bisa digelar pada 31 Agustus lalu di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Semarang.
*Tulisan ini dimuat di Majalah Tempo edisi 15 Oktober 2017
TIM TEMPO