Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Alam bawah laut Sikka seperti ruang tersembunyi yang didesain apik oleh seorang arsitek anonim. Sejauh pengamatan, ikan-ikan menari dan dekorasi terumbu warna-warnimenjadi menu utama yang disuguhkan di perairan sisi utara Flores ini. Keragaman biota lautnya bak parade festival yang tak habis-habis.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Keindahan bawah laut Sikka, yang juga disebut surga bagi para penyelam, digambarkan jelas oleh fotografer underwater kawakan, Muljadi Pinneng Sulungbudi. Pinneng merekamnya secara visual dalam buku Sikka Underwater yang ia gubah bersama beberapa fotografer dan pegiat wisata—beberapa di antaranya adalah Arbain Rambey, Nala Rinaldo, Trinity, Gemala Hanafiah, dan Andy Chandrawinata.Dari kiri ke kanan: Fotografer Arbain Rambey, fotografer Andy Chandrawinata, Kepala Dinas Pariwisata Sikka Kensius Didimus, Kepala Dinas Pariwisata NTT Jelamu Ardu Marius, Asisten Deputi Pengembangan Komunikasi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata Putu Ngurah, penulis Trinity,fFotografer Muljadi Pinneng, dan penyelam profesional Gemala Hanafiah saat jumpa wartawan peluncuran buku Sikka Underwater di Kementerian Pariwisata, Kamis malam, 21 Desember 2017. Tempo/Francisca Christy Rosana)
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Buku itu ia luncurkan pada Kamis malam, 21 Desember 2017, di Kementerian Pariwisata. Dalam rekaman karyanya, Pinneng menjabarkan puluhan spot penyelaman baru yang ia temukan selama menjelajahi perairan Sikka, dalam beberapa bulan terakhir. Ada kira-kira 20 titik penyelaman yang berhasil didapatkan. “Semuanya bagus dan biotanya sehat,” tutur Pinneng.
Dari 20-an titik tersebut, beberapa di antaranya ditandai memiliki keunikan. Misalnya spot untuk muck diving, yakni di spot yang dinamakan Old Ankermi Muck. Ada pula spot untuk berjumpa dengan hiu, yakni di Shark Point. Lokasinya tak jauh dari daratan Maumere. Selain itu, tersedia beberapa titik yang bisa dimanfaatkan untuk night diving atau menyelam pada malam hari.
Pinneng, kepada Tempo, yang ditemui di Kementerian Pariwisata pada saat malam peluncuran buku, mengatakan, selain punya puluhan spot penyelaman, Sikka unggul dari sisi aksesibilitas. “Keunggulannya mudah dijangkau. Apalagi untuk penyelam yang cuma punya waktu 3-4 hari,” tuturnya.
Spot-spot penyelaman di perairan Sikka memang tak jauh letaknya dari daratan. Dari Pantai Wairterang, Maumere, misalnya. Penyelam cukup menunggang speed boat 15 menit untuk mencapai titik penyelaman. Sementara itu, dari satu titik ke titik lain, jaraknya tak jauh-jauh amat. “Naik boat sebentar, kita langsung bisa menemukan titik penyelaman lagi,” tutur Pinneng.
Trinity, penulis sekaligus traveler,yang kondang dengan buku The Naked Traveler, juga sependapat dengan Pinneng. Ia turut menceritakan pengalaman baik sewaktu menyelam di perairan Sikka. Kata dia, bukan cuma bawah lautnya yang indah. “Lanskapnya enggak flat. Lautnya menghadap ke gunung-gunung. Kami juga selalu bisa lihat matahari terbenam,” tuturnya.32_tamu_trinity
Perempuan yang menaruh perhatian khusus pada perkembangan pariwisata Nusa Tenggara Timur itu mengaku awalnya tak mengira bahwa Sikka punya spot penyelaman yang mempesona. Ia justru memperoleh rekomendasi dari teman-teman asingnya. “Aku enggak tahu kalau bisa diving di Sikka. Malah bule-bule yang memberi tahu,” katanya kepada Tempo.
Sebetulnya, Sikka bukan nama baru di peta wisata Nusantara. Jauh sebelum dengung Labuan Bajo dan Alor populer di lini pariwisata, nama Sikka sempat mendunia lebih dulu. Tepatnya pada era 1970-an, Sikka dikenal sebagai primadona bagi para penyelam. Nama Teluk Maumere acap terdengar sebagai rekomendasi tempat penyelaman terbaik, bahkan di level dunia.
Namun, tsunami besar yang melanda Flores bagian timur Desember 1992 akibat gempa tektonik telah mengubah kondisi. Pasca-bencana, biota laut perairan Sikka rusak. Nama daerah yang terkenal sebagai surga bahari ini lantas menghilang. Gaungnya tak terdengar lagi di kalangan penyelam, baik dalam negeri maupun internasional.
Namun kini, kondisi bawah laut perairan di wilayah tersebut telah mengalami recovery. Lebih dari 20 tahun berlalu, pariwisata laut Sikka kembali siap menyandang status surga bahari. Bahkan, jauh lebih siap dibandingkan era 1970-an lalu.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka Kensius Didimus mengatakan kesiapan daerahnya menjadi lokasi spot penyelaman internasional telah didukung oleh perkembangan penyediaaninfrastruktur. Misalnya akses jalan antar-kota yang mumpuni dan bandara dengan penerbangan yang beragam.
Untuk menuju Maumere, Ibu Kota Kabupaten Sikka—tempat menuju titik penyelaman—bisa dijangkau melalui akses udara dan laut. Melalui udara, dari Jakarta, pelancong bisa memilih penerbangan ke Denpasar, Surabaya, atau Kupang. Lalu, dilanjutkan dengan penerbangan memakai pesawat jenis ATR ke Bandara Frans Seda, Maumere. Ada empat maskapai yang menyediakan penerbangan ke Maumere. Di antaranya Wings Air, Trans Nusa, Garuda Indonesia, dan Nam Air.
Dari bandara, tersedia beragam variasi angkutan menuju pesisir. Bisa memanfaatkan taksi, ojek, mobil carter, atau angkutan umum. Jarak dari bandara menuju pesisir 8-12 kilometer. Tergantung pantai yang dituju. Dari pantai, pelancong bisa langsung baik speed boat dengan waktu tempuh 15-20 menit ke lokasi penyelaman.
Sementara itu, bila lewat jalur laut, pelancong bisa menunggang kapal PELNI dan dapat langsung menuju pelabuhan besar di Maumere. “Dari sana, tak jauh menuju pantai. Bisa naik ojek,” tutur Kensius.
FRANCISCA CHRISTY ROSANA
berita lain: