Scroll ke bawah untuk membaca berita

Logo
Internasional

LVMH Jadi Perusahaan Paling Mahal di Eropa

LVMH mencatatkan diri sebagai perusahaan pertama di Eropa yang berhasil menembus nilai pasar hingga USD 500 miliar (Rp 7.472 triliun).

25 April 2023 | 13.30 WIB

Sebuah tas Louis Vuitton yang telah selesai dibuat di workshop Atelier Louis Vuitton di Vendome, Prancis, 22 Februari 2022. REUTERS/Benoit Tessier
Perbesar
Sebuah tas Louis Vuitton yang telah selesai dibuat di workshop Atelier Louis Vuitton di Vendome, Prancis, 22 Februari 2022. REUTERS/Benoit Tessier

Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini

Logo

TEMPO.CO, Jakarta - LVMH, perusahaan raksasa untuk barang-barang mewah asal Prancis mencatatkan diri sebagai perusahaan pertama di Eropa yang berhasil menembus nilai pasar hingga USD 500 miliar (Rp 7.472 triliun). Hal itu terjadi karena pada Senin, 24 April 2023, harga saham LVMH melambung dan dampak positif dari penguatan mata uang euro.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini

Logo

 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

LVMH saat ini dikendalikan oleh miliarder bernama Bernard Arnault. Sebuah laporan menyebut kalau revenue LVMH naik 17 persen pada kuartal pertama, di mana hal ini diumumkan pada awal April lalu. Kenaikan itu lebih dari dua kali lipat dari yang diprediksi sejumlah analis. Saham induk perusahaan LVMH, Moët & Chandon and Hennessy, juga mengalami kenaikan. Moët & Chandon and Hennessy membawahi merek fashion Givenchy, Christian Dior, Bulgari dan Sephora.

 

Dilaporkan pada Senin pagi, 24 April 2023, saham LVMH di bursa Paris naik 0.3 persen atau menjadi 903.70 euro. Dengan begitu, nilai LVMH saat ini sekitar 454 miliar euro (Rp 7.496 triliun).  

 

Pada 2022 revenue LVMH dilaporkan sebesar 79.2 miliar euro (Rp 1.307 triliun) dengan profit dari beroperasinya kembali usaha LVMH hingga menyentuh 21,1 miliar euro (348 triliun) atau kinerja terkuat kedua dalam setahun.

 

Sejumlah data terbaru memperlihatkan kalau permintaan untuk barang-barang mewah seperti tas Louis Vuitton dan gaun-gaun Christian Dior bakal mentok (tak laku) karena gelombang inflasi di Uni Eropa dan kenaikan suku bunga yang mengancam dunia pada sebuah jurang resesi.

 

Akan tetapi, Cina saat ini sudah membuka pintu perbatasan menyusul dicabutnya kebijakan nol-Covid-19. Kebijakan Cina ini berdampak positif dengan melejitnya penjualan barang-barang LVMH di kawasan Asia sehingga menimbulkan pertumbuhan pada bisnis LVMH.

 

Kejayaan LVMH telah mendorong Arnault menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Menurut Bloomberg Billionaires Index, harta kekayaannya hampir USD 212 miliar (Rp 3.163 triliun).

 

Sumber: RT.com

     

  

Ikuti berita terkini dari Tempo.co di Google News, klik di sini.       

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini

Logo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus