Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Bandung - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), merekomendasikan daerah bahaya Gunung Slamet diperlebar dari radius dua kilometer dari puncak gunung itu menjadi tiga kilometer terhitung hari ini, Jumat, 17 Mei 2024. Rekomendasi dikeluarkan sekalipun status aktivitas gunung api di Jawa Tengah tersebut tetap pada Level II alias Waspada, tidak berubah sejak Oktober lalu.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Berdasarkan data pemantauan instrumental Gunung Slamet terkini, aktivitas vulkanik Gunung Slamet masih tinggi sehingga direkomendasikan untuk dilakukan perubahan atau perluasan jarak rekomendasi,” kata Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid, menjelaskan dalam keterangannya, Jumat 17 Mei 2024.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Wafid mengatakan, potensi ancaman bahaya Gunung Slamet saat ini adalah erupsi freatik maupun magmatik yang dapat menghasilkan lontaran material pijar yang melanda daerah di sekitar puncak dalam radius 3 kilometer. "Hujan abu dapat terjadi di sekitar kawah maupun melanda daerah yang ditentukan oleh arah dan kecepatan angin,” kata Wafid lagi.
Aktivitas vulkanik yang diamati berasal dari catatan periode 1-15 April 2024 yang terekam sebanyak 197 kali gempa embusan, 1 kali gempa vulkanik, 1 kali gempa tektonik lokal, 12 kali gempa tektonik jauh, dan gempa tremor menerus dominan 0,5 milimeter.
Pada periode 16-30 April 2024 terekam 701 kali gempa embusan, 1 kali gempa terasa, 8 kali gempa tektonik jauh, dan gempa tremor menerus dengan amplitudo dominan 0,5 milimeter. Pada periode 1-15 Mei 2025 terekam 943 gempa embusan, 58 kali gempa vulkanik dalam, 7 kali gempa tektonik jauh, dan gempa tremor menerus dengan amplitudo dominan 2 milimeter.
Menurut Wafid, peningkatan amplitudo tremor menunjukkan adanya peningkatan pemanasan air tanah dalam tubuh Gunung Slamet pada kedalaman dangkal. Sedangkan terekamnya gempa tremor harmonik dalam durasi panjang menunjukkan peningkatan embusan dalam tubuh gunung tersebut.
Lalu, rekaman gempa vulkanik dalam menandakan adanya suplai magma ke permukaan. “Aktivitas kegempaan Gunung Slamet didominasi oleh gempa embusan dan gempa tremor menerus yang mengindikasikan aktivitas pergerakan fluida di sekitar permukaan,” kata Wafid.
Indikasi peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Slamet, Wafid menambahkan, sudah terbaca sejak Oktober 2023 lalu. PVMBG Badan Geologi juga melakukan pemantauan deformasi gunung itu dengan peralatan Electronic Distance Measurement (EDM)dan Tiltmeter. Hasilnya, peralatan EDM tidak mengamati adanya perubahan hasil pengukuran jarak miring yang signifikan tapi rekaman Tiltmeter mendapati pola relatif meningkat pada komponen Y atau radial.
Berdasarkan data pemantauan instrumental Gunung Slamet disimpulkan aktivitas vulkanik gunung tersebut masih tinggi. Dampaknya, diputuskan untuk memperluas rekomendasi jarak ancaman bahaya mengantisipasi jika terjadi letusan. “Hasil pengamatan data-data pemantauan menunjukkan adanya peningkatan tekanan di bawah tubuh Gunung Slamet yang dapat memicu munculnya gempa-gempa dangkal maupun terjadinya erupsi,” kata Wafid.
Gunung Slamet berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga di Jawa Tengah. Ketinggiannya menjulang 3.432 meter di atas permukaan laut. Badan Geologi menempatkan Pos Pengamatan Gunung Slamet di Desa Gambuhan, Gajah Nguling, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.
Aktivitas Gunung Slamet terakhir kali meningkat pada periode Maret-September 2014 yang diikuti letusan yang menghasilkan material abu dan lontaran material pijar di sekitar kawah gunung tersebut. Gunung Slamet kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkaniknya pada akhir 2023 sehingga PVMBG Badan Geologi menaikkan status aktivitasnya menjadi Level II atau Waspada sejak 19 Oktober 2023.