Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
TEMPO.CO, Jakarta - Teater tujuh menjadi wadah untuk menampung para pemain berkebutuhan khusus, terutama insan tuli. Teater ini diprakarsai oleh aktor senior Ray Sahetapy dan putranya yang juga berkebutuhan khusus yaitu, Surya Sahetapy. Para pemain akan menunjukkan kemampuan mereka dalam pagelaran teater yang akan dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat hari ini, Minggu, 5 Agustus 2018.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Baca juga:
10 Bahasa Isyarat Makeup untuk Insan Tuli
Cegah Tuli, Hitung Kekuatan Bunyi yang Masuk ke Telinga
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Produser Teater Tujuh, Kania Widjajadi mengatakan teater ini dibentuk sebagai wadah bagi mereka yang memiliki keterbatasan dalam mendengar. Dengan adanya teater ini, dia berharap para disabilitas bisa tetap berkarya. "Sebenarnya mereka memiliki kemampuan, seperti akting, menari, dan hal lain. Kami berharap mereka bisa mengembangkan bakat itu di sini," kata Kania kepada Tempo.
Ray Sahetapy. TEMPO/Arie Basuki
Kania menambahkan, dia bersama para pemain sudah berlatih selama 5 bulan terakhir. Selain penonton tuli, pementasan teater ini juga akan dihadiri ratusan penonton non-disabilitas. "Kami menyebar 500 tiket dan habis," ucap Kania.
Selama pertunjukan akan tersedia penerjemah supaya penonton non-disabilitas memahami apa yang dipentaskan. "Mereka yang tuli pada dasarnya sama dengan yang non-disabilitas. Hanya cara berkomunikasinya saja yang berbeda," kata imbuh Kania.
Para pemain tuli Teater Tujuh sedang berlatih untuk pementasan teater bertajuk 'Sunyi dalam Bunyi' di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Teater tujuh dibagi pertunjukan ke dalam delapan segmen pementasan, yang terdiri dari cerita tentang keluarga, percintaan, persahabatan, dan lainnya. Pertunjukan ini akan dibagi dalam tiga waktu berbeda, yakni pukul 14.00 WIB untuk penoton tuli, serta pukul 16.00 WIB dan 20.00 WIB untuk penonton non-disabilitas.