Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa institusinya akan menjalin kerja sama yang lebih erat dengan PSSI perihal Satgas Antimafia Bola. Nama satuan tugas itu kembali naik ke permukaan setelah Erick Thohir terpilih sebagai Ketua Umum PSSI.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Kapolri mengatakan siap bersinergi dengan Ketua Umum PSSI mewujudkan semua pertandingan sepak bola yang adil (fair play). Dilansir dari humas.polri.go.id, Listyo Sigit mengungkapkan dirinya berpengalaman menjalankan Satgas Antimafia Bola pada 2018–2020. Sebanyak 18 tersangka match fixing (pengaturan skor) telah diproses selama periode tersebut.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Tahun ini, Polri dan PSSI akan menghidupkan 15 Subsatgas Antimafia Bola yang akan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Satuan tugas ini diklaim akan bisa membabat habis pelaku mafia bola dalam penyelenggaraan kompetisi sepak bola Liga 1, Liga 2, Liga 3, serta ajang lain yang melibatkan PSSI, termasuk pertandingan internasional.
Lantas, bagaimana perjalanan Satgas Antimafia Bola dalam mengawal pertandingan sepak bola terbebas dari pengaturan skor? Simak rangkuman singkat berita-berita terkait Satgas Antimafia Bola yang dipublikasi melalui situs resmi situs resmi Polri.
2018
Satgas Antimafia Bola didirikan pada masa kepemimpinan Kapolri Tito Karnavian. Satuan tugas tersebut dipimpin oleh Brigjen Hendro Pandowo.
Agustus 2019
Masih dipimpin oleh Brigjen Hendro Pandowo, Satgas Antimafia Bola Jilid II diluncurkan. Ketika itu ada sebanyak 13 Subsatgas Antimafia Bola yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu alasan diaktifkannya kembali karena adanya kasus Sigit Waluyo dan Hidayat yang belum tuntas.
Oktober 2019
Satgas Antimafia Bola menggelar operasi tangkap tangan di salah satu hotel di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Total ada sembilan orang yang ditangkap dan dibawa ke Polda Kalteng. Barang bukti berupa bukti transfer yang diduga sebagai transaksi match fixing terkait klub Liga 1, yakni Kalteng Putra FC. Namun, Polda akhirnya membebaskan mereka semua karena kurang bukti. Kasus pun ditutup.
November 2019
Satgas Antimafia Bola menangkap 6 orang diduga terlibat match fixing dalam pertandingan Liga 3 antara Perses (Sumedang) versus Persikasi (Bekasi).
Januari 2020
Berkas kasus match fixing Perses versus Persikasi sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Agung. Satgas Antimafia Bola Jilid II pun dibubarkan.
Februari 2020
Polri mempersiapkan Satgas Antimafia Bola Jilid III yang difokuskan untuk ajang pertandingan Liga 1. Kala itu, ada 18 tersangka yang ditangkap, dengan 5 berkas masuk proses peradilan.
Belum satu bulan masa tugasnya diperpanjang, Satgas Antimafia Bola menangkap dua tersangka match fixing yang masuk dalam daftar pencarian orang. Salah satunya seorang PNS yang menerima uang jutaan rupiah. Hal ini masih berhubungan dengan kasus Perses versus Persikasi.
NIA HEPPY | SYAHDI MUHARRAM
Pilihan Editor: Kapolri Siapkan Satgas Antimafia Bola untuk Dukung Ketua Umum PSSI Perangi Pengaturan Skor